Lima tahun ke depan, Pulau Bintan masih kekurangan air baku sehingga
layanan Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) Tirta Kepri tak maksimal. Waduk Sei Pulai yang selama ini jadi sumber baku tak bisa diandalkan lagi.
YANI (26), warga Perumahan Taman Harapan Indah (THI) Kelurahan
Tanjungpinang Timur, Kota Tanjungpinang setiap
pagi mengambil air di sumur 20 meter di dekat rumahnya. Dengan
menggunakan dua ember hitam, ibu rumah tangga
beranak satu itu mengangkat air hingga bak penampungan di rumahnya
penuh. Setidaknya 10 kali jalan, air di bak
penampungan bisa penuh. Padahal, Yani merupakan salah satu pelanggan
PDAM Tirta Kepri.
Pipa air dari PDAM masih terpasang di rumahnya. Namun air tak pernah
mengalir. Satu minggu paling jalan satu jam air
mengalir. Tentu saja tak bisa memenuhi bak penampungan air di rumah.
Air tersebut tak cukup untuk memenuhi
kebutuhan air di rumahnya yang dihuni lima orang. “Untuk mandi saja,
setiap sore kami harus mengambil air,”
Pagi, siang dan sore, anggota keluarga rumah tersebut harus bergantian
mengambil air untuk memenuhi kebutuhan
mencuci piring dan memasak. “Mau beli air tanggung. Kita tak memiliki
bak besar,” tutur mahasiswa semester delapan
di Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Ulum Tanjungpinang ini.
Berbeda dengan Yani sibuk mengangkat di perumahan itu, Iskandar, yang
tinggal di Blok C Taman Harapan Indah
terpaksa membeli air. Maklum bak penampungan di rumahnya besar. Setiap
mengisi air bisa menelan Rp100 ribu lebih.
Air tersebut bisa bertahan dua hari. Warga memang mencari jalan untuk
bisa memenuhi kebutuhan air dengan membeli
air yang dijual menggukan lori, dan membuat sumur. Untuk membuat sumur
dibutuhkan anggaran minimal Rp3 juta.
”Minimal Rp3,5 juta, sudah sama cincin sumur. Zaman sekarang air PDAM
tak bisa diharapkan. Banyak yang sudah
membuat sumur,” kata Saleh, ahli sumur yang bisa menerima order
membuat sumur bor dan sumur galian biasa itu
kepada Tanjungpinang Pos.
Yani mengharapkan PDAM cepat menyelesaikan persoalan air. Karena jika
menggunakan air PDAM, per bulan mereka
membayar Rp40-Rp80 ribu. Saat ini Yani sengaja tak membayar karena air
PDAM tak mengalir. ”Untuk apa kita bayar.
Kan airnya tak lancar. Masak kita membayar angin. PDAM juga harus
menyadari itu.” Harapan Yani juga harapan 19.000
pelanggan PDAM lainnya.
PDAM beralasan, sebenarnya pasokan air PDAM sudah mulai bagus. Tetapi
untuk kawasan Batu 9-8, memang kurang
lancar. Pasalnya, jika air saluran di Batu 9 dibuka, maka pasokan air
di kawasan Pasar, dan sekitarnya jadi terganggu.
”Memang kita tidak bisa memberikan pelayanan optimal karena sumber air
baku di Sei Pulai berkurang. Kita sedang
melakukan pendalaman. Mudah-mudahan jika sudah selesai, tampungan air
waduk optimal,” kata Direktur PDAM Tirta
Kepri, Abdul Kholik yang baru beberapa bulan dilantik menjadi direktur
setelah melalui tes.
Sedangkan menurut Tim Pengawas PDAM Tirta Kepri Nuraida Mokhsen, waduk
tersebut bocor. Walaupun hujan lebat, air
di waduk tak bertambah signifikan. ”Kita sedang berusaha mencari cara
agar air hujan bisa ditampung dengan baik.
Salah satunya menggali waduk lebih dalam. Yang jadi masalah, daerah
tangkapan air sudah rusak, tak banyak
memberikan pengaruh walaupun hujan,” ujarnya.
[]
Pembangunan Waduk Sei Pulai seluas 34 haktere selesai dikerjakan 1971
yang dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi
Riau bersama Pemerintah pusat. Air baku di waduk yang berada di
Kilometer 14, perbatasan Tanjungpinang dan
Kabupaten ini menjadi sumber utama bahan baku PDAM untuk melayani
Sekitar 51 persen warga Tanjungpinang.
Sekarang untuk menambah debit air, dilakukan konstruksi peningkatan
tampungan air baku Sei Pulai, Kamis 5 Mei
2010. Proyek tersebut dibiayai melalui APBN 2010 senilai Rp 7 milyar
melalui Departermen Pekerjaan Umum Direktorat
Sumber Daya Air Balai Wilayah Sungai IV Kepri. Pelaksana Proyek PT.
Gunakarya Nusantara dengan Konsultan
Pengawas CV. Grahaditama Konsultan. Informasi yang diperoleh dari
konsultan pengawas, ada sekitar 80.000 m3
tanah/lumpur yang akan dikeruk dan dikeluarkan dari lokasi pekerjaan
seluas 9 Ha.
Dari keseluruhan waduk yang mencapai 43 Ha, baru 21 persen dari luas
genangan air yang ditingkatkan. Bila proyek
tersebut selesai dan sesuai dengan rencana maka daya tampung air hujan
dan air limpasan yang masuk ke dalam
wadukpun meningkat dan diperkirakan mampu menampung 80.000 m3 air.
Namun demikian tentu tergantung intensitas
hujan, tali-tali air dan daya dukung hutan disekitar cathment area.
Memang sekarang, kondisi air di sungai pulai berangsung ansur membaik.
Hujan yang turun pertengahan Mei di
Tanjungpinang tiga hari belakangan ini membawa berkah tersendiri. Air
di waduk mulai naik 20 centimeter. Menurut
manajemen PDAM, kondisi tersebut masih minus 40 centimeter. Kondisi
normalnya air harusnya mencapai empat meter.
Usia waduk yang sudah berumur itu memang sempat terabaikan. Tahun 2004
Kepulauan Riau berpisah dari provinsi
induk. Mulai saat itu, Riau mulai mengabaikan PDAM yang sebagian besar
dikendalikan Pemerintah Kabupaten
Kepulauan Riau, kini Bintan.
Pelayanan PDAM kepada pelanggan seadanya. PDAM Tak dikelola secara
profesional. Hutang PDAM menembus Rp30
miliar. Karena sudah berpisah dari Riau, PDAM juga akan diserahkan ke
Kepri sekitar 2006. Tak serta merta, Pemerintah
Bintan mau menerima. Pasalnya, letak PDAM yang berada di Bintan dan
Tanjungpinang. Bahkan pelanggan terbesar
PDAM berada di Tanjungpinang.
Alasan Bintan waktu itu, untuk apa mereka menggelontorkan APBD tetapi
yang menikmati warga kota. Akhirnya terjadi
tarik menarik. Sedangkan bagi pemerintah kota Tanjungpinang, bisnis
air tidak cocok. Apalagi, APBD Pemko tak besar
untuk memberikan suntikan dana percuma guna menyehatkan kondisi PDAM
yang sedang sakit akut itu. Karena letak
PDAM di antara dua daerah, Pemerintah Provinsi Kepri akhirnya turun
tangan. Walaupun penyerahan aset tersebut
dalam keadaan merugi.
”Riau tidak fair. Menyerahkan aset dalam keadaan rugi. Akhirnya
melalui Departemen Keuangan, Kepri mau menerima
aset. Prosesnya lama sampai dua tahun,” kata Nuraida Mokhsen di ruang
kerjanya belum lama ini di kantor Gubernur
Kepri, Jalan Basuki Rahmad Tanjungpinang.
Melalui Departemen Keuangan, hutang PDAM sebesar Rp30 miliar
ditanggung Kepri dan Riau. ”2008 kita baru sepakat.
Kepri mendapat 30 persen. Sedangkan Riau 70 persen membayar hutang
kepada Pusat dan pihak swasta,” ujarnya.
Karena sudah mendapat titik terang pengelolaan PDAM, DPRD Kepri
bersama dengan pemerintah Kepri mulai membuat
peraturan daerah untuk mengelola PDAM menjadi perusahaan daerah yang
bonafit ke depannya.
Menurut Nuraida, sebelum dilakukan penyerahan aset, Pemprov Kepri tak
bisa memberikan anggaran. ”Kita bisa masuk
penjara walaupun itu untuk kepentingan orang ramai. Setelah ada Perda
baru kita suntikan dana,” imbuhnya. PDAM
selama tiga tahun PDAM tak bertuan. Pasalnya, Juni 2009, baru resmi
Tirta Kepri dikelola provinsi. Dari 2006, tidak
jelas status PDAM. Selama masa transisi itulah perangkat PDAM banyak
yang rusak. Misalnya pompa air tak berfungsi,
bocor, meteran rusak, banyak penyambungan ilegal dilakukan pegawai PDAM.
Masalah lain yang dihadapi PDAM adalah masalah penyehatan keuangan
PDAM. Perusahaan daerah ini tergolong
perusahaan 'sakit'. Sudah lama gaji pegawai tidak naik. Sampai
Februari 2010, pendapatan rata-rata PDAM per bulan
mencapai Rp700 juta. Dari pendapatan itulah, biaya operasional PDAM,
termasuk gaji pegawai yang berjumlah 124
orang dibayar. Rendahnya tarif penjualan air, juga jadi alasan
keuangan perusahaan tidak kunjung membaik. Tarif
sekarang, tak sesuai lagi dengan kondisi saat terkini.
"Jika kita hitung rata-rata, maka per liter tarif PDAM cuma Rp1,2.
Tarif ini sangat murah tidak menutupi biaya
operasional perusahaan," ujar Syahrial, Humas PDAM.
Untuk menolong keuangan PDAM, lanjut Syahrial, diharapkan Pemda Kepri
memberikan subsidi seperti yang dilakukan
di PDAM lainnya di Indonesia. Dia menyebutkan, dengan pengalaman
Kholik waktu menjabat direksi PDAM di Bengkalis,
diharapkan bisa membawa perubahan di internal PDAM. Kholik merupakan
bekas direktur PDAM di Bengkalis yang
memiliki 5.000 pelanggan. Sedangkan pelanggan PDAM Tirta Kepri 19.000.
"Tapi dia menguasai masalah PDAM," ujar
Syahrial.
Di saat masa transisi, PDAM memang sangat kritis. Pemprov Kepri sempat
memberikan bantuan dana segar Rp2,5
miliar agar PDAM tak kian terperosok terlalu dalam. Suntikan dana itu
untuk memperbaiki fasilitas pipa, dan
infrastruktur bak penampungan air yang kerap bermasalah. Bantuan yang
diberikan Kepri tak banyak mengubah wajah
PDAM.
Dikatakan Nuraida, di mana-mana di Indonesia, tidak ada PDAM dikelola
oleh provinsi. Baru di Tanjungpinang PDAM
diambil alih provinsi. Misalnya di Batam, pengelolaan PDAM dilakukan
swasta. Nasi sudah menjadi bubur, PDAM pun
sudah menjadi tanggungjawab Pemprov Kepri. Untuk mempercepat
pembenahan PDAM, Pemprov membentuk badan
pengawas PDAM yang diketuai mantan anggota DPRD Kepri Andi Anhar
Khalid, mantan Ketua Komisi II DPRD Kepri.
Andi tak terpilih lagi jadi anggota Dewan.
Dewan Pengawas inilah yang kerjanya melakukan pengawasan terhadap
pelaksanaan kinerja direksi PDAM dalam
melayani pelanggan. Abdul Kholik yang baru beberapa bulan menjadi
direksi, dianggap suda berhasil melakukan
pembenahan PDAM.
Indikator keberhasilnya terlihat dari berkurangnya tingkat kebocoran
air. Misalnya, waktu dia pertama masuk kantor,
kebocoran air mencapai 57 persen.”Sekarang sudah turun menjadi 10
persen. Aliran uang PDAM juga mulai positif dari
sebelumnya negatif,” kata Nuraida tanpa menyebutkan nilai keuntungan
yang diperoleh.
”PDAM sudah membagikan bonus kepada karyawan. Walaupun jumlahnya tidak
besar. Ini menunjukkan PDAM mulai
sembuh.”
Nuraida menjelaskan, yang sudah dilakukan Kholik selaku direktur yakni
menertibkan sambungan ilegal, menyelesaikan
hutang piutang PDAM kepada pihak ketiga dan tagihan pelanggan. Dia
juga sudah membuat peta jaringan PDAM ke
depan. Selama ini, peta tersebut belum pernah ada. Masalah internal
yang dalam waktu singkat sudah bisa
diselesaikan. Mengenai masalah faktor pendukung seperti kondisi waduk
yang mengering memang memerlukan kerja
keras untuk mengatasinya.
Kondisi terkini, kata dia, pipa penyedot air di DAM itu terbatas
disebabkan debit air di waduk berkurang. Kalau
dipaksakan menyedot memenuhi kebutuhan pelanggan, maka air baku cepat habis.
Langkah yang dilakukan PDAM hanya mengaktifkan beberapa pipa saja.
Misalnya jalur pipa distribusi kilometer 9 dan 8
terpaksa dibatasi. Pasalnya, jika pipa distribusi jalur ini dibuka,
maka pasokan air untuk kawasan pasar, pelantar, batu
dua akan terhambat. Tekanan air dari DAM untuk sampai di penampungan
air di Bukit tidak kuat. Bisa dipastikan air
tidak akan jalan.
Memang ada kesalahan teknis dalam pembuatan pipa distribusi air dari
waduk ke bak penampungan di Kampung Bukit.
Pasalnya, pipa utama air sampai ke Bukit dijebol dan dialiri untuk
konsumen di Batu 9. Seharusnya bukan seperti itu.
Pipa utama tak bisa dijebol di tengah jalan.
Penyandang gelar doktor dari Australia itu mengatakan, dengan keadaan
Sei Pulai saat ini, yang semakin kering,
pelayanan PDAM tidak akan maksimal. Kecuali ditemukan sumber air baku
baru. Persoalan serius yang dihadapi PDAM
adalah, air hujan yang diharapkan bisa menambah debit air, kini tak
banyak memberikan andil. Hal itu disebabkan,
kawasan tangakap air rusak. Adalah perkebunan sawit yang berada tak
jauh dari kawasan tangkapan air menyebabkan
tangkapan air jadi tak normal. Walaupun Dinas Kehutanan sudah menebang
sawit yang dekat dengan kawasan, namun
belum memberikan effek positif.
Kemudian, sungai-sungai kecil yang ada di sekitar waduk kini tak masuk
ke kawasan utama karena tertimbun lumpur.
Aliran sungai itu malah keluar ke kawasan lain. Ada dugaan, di waduk
bocor. ”Air yang masuk tidak sebanding dengan
air keluar. Sebenarnya, kita pernah memproduksi 300 liter per detik.
Tetapi sekarang di bawah itu,” kata Nuraida.
Yang bisa dilakukan provinsi, katanya, mencari sumber kebocoran air.
Juga dilakukan program penguatan dinding waduk
yang menyebabkan beberapa hari lalu air baku keruh. Kebijakan ini
membuat lumpur di waduk naik, dan pelayanan pun
jadi terganggu. Tapi jangka panjang akan membantu mempertahankan air
tetap berada di dalam waduk.
Provinsi bersama dengan PDAM juga melakukan perbaikan aliran sungair
kecil menuju waduk. Sungai kecil yang selama
ini alirannya tak lurus, harus diluruskan. Hal ini membantu supaya
pasokan air di Sei Pulai tetap ada. Dia
menambahkan, melihat realita yang ada sekarang, sudah saatnya mencari
sumber air baku baru untuk memenuhi
kebutuhan air di Bintan.
Apalagi perkembangan jumlah penduduk sangat cepat. Jika tidak diiringi
dengan antisipasi pencarian sumber air baru,
ke depannya akan menimbulkan persoalan baru. Nuradai menolak jika
dikatakan pemerintah lambat mengantisipasi
masalah ketersedian air. “Karena waktu itu PDAM ini dikelola Riau.
Kepri kan baru saat ini mengelola,” elaknya.
Karenanya, pemerintah sudah melakukan survei mencari sumber air baku
lain. Studi 2007 misalnya menggunakan dana
APBN. Di Kabupaten Bintan, kawasan yang tepat untuk dijadikan sumber
air baku terdapat di Sei Galang Batang, Nyirih,
dan Sei Timun. Dari tiga lokasi itu, yang dipilih untuk dilakukan
studi kelayakan adalah Galang Batang.
2011, akan dilakukan pembangunan fisik. Nantinya, pipa air dipasang
dari Galang Batang sampai ke Sei Pulai. ”Sebelum
pembangunan tuntas, kita tentu masih mengandalkan air hujan untuk
mengisi Waduk Sei Pulai.” Selain memanfaatkan
sumber air baku di Sei Pulai, PDAM juga akan memanfaatkan sumber air
baku di Sei Gesek. Walaupun debit air tak
besar, namun air di sini akan digunakan untuk mensuplai air baku di
produksi PDAM Air Raja.
Nah, produksi di Air Raja ini yang nantinya mensuplai kawasan Batu 8
dan 9 yang saat ini aliran air tak lancar. ”Usaha
ini sifatnya jangka pendek,” katanya. "Ini yang bisa kita lakukan
mengatasi krisis air di Tanjungpinang."
Untuk program jangka panjang, PDAM dan Pemprov Kepri mengusulkan
pembangunan DAM baru di Bintan. Tentu semua
komponen harus mendukung. Tak bisa hanya bertumpu kepada PDAM saja.
Selama lima tahun ke depan, ujarnya,
kondisi air PDAM Kepri masih kekurangan air baku. Kondisi mulai
membaik, jika proyek di Galang Batang sudah
beroperasi. Untuk itu Dinas PU ambil bagian dalam menyelesaikan masalah ini.
”2011 mulai studi pembangunan DAM. Dan 2014 baru dibangun. Mengenai di
mana DAM tersebut, kita serahkan kepada
hasil studi dari tim yang mengerti masalah air. Dulu pernah ada di
Teluk Bintan. Tetapi dengan kondisi saat ini tak
sesuai lagi,” imbuh dia. Jika tetap dibangun, bisa akan mengancam
kawasan pusat pemerintahan Bintan.
Mengingat pembangunan DAM memakan waktu tiga tahun, sebaiknya
persiapan bisa dilakukan dari sekarang. Jika
sudah selesai dibangun, maka ke depannya sampai 20 tahun ke depan,
persedian air baku tetap terjamin.
Menurutnya, menyediakan air baku merupakan kewajiban pemerintah.
Sedangkan PDAM itu memproduksi air, sampai ke
konsumen.
Pemerintah Pusat tak bisa lepas dalam masalah ini terutama dalam hal
pembangunan bendungan baru. ”Bagi daerah,
kita melakukan koordinasi saja, mana yang ditanggung APBN dan mana
yang dibiayai APBD,” kata Nuraida. Tak
mungkin seluruh pembiayaan DAM baru menggunakan APBD Kepri.
Nuraida menyebutkan, usulan menggunakan menggunakan teknologi mengubah
air laut menjadi air tawar kurang tepat
untuk mengtasi krisis air. Teknologi tersebut membutuhkan anggaran
yang besar. Tak efisien untuk pelanggan dan
PDAM sendiri.
”Nanti PDAM tak bisa menjual air kepada konsumen. Bahkan di negara
maju saja, mereka melakukan kombinasi air
darat dan air laut,” jelas Nuraida. Kalau menggunakan teknologi
mengubah air laut, bisa saja, katanya, air yang
dihasilkan jauh lebih mahal dibandingkan minuman coca cola.
”Teknologinya sama dengan air galon yang kita minum,”
tutur Nuraida.
Berbeda dengan Nuraida, menurut Wakil Ketua DPRD Kepri Iskandarsyah,
pemerintah harus berani mencari terobosan
memanfaatkan bahan baku air laut atau air payau menjadi air bersih.
”Pulau Bintan dikelilingi laut dan pantai, tinggal
kreatif memanfaat potensi alam yang sudah disediakan Tuhan. Kenapa tak
memanfaatkan bahan baku air laut jadi air
bersih,” ungkap politisi asal Partai Keadilan Sejahtera.
Menurutnya, ada dua permasalahan utama Air PDAM di Tanjungpinang, yang
pertama adalah sumber air baku yang
terus menerus berkurang. Dan yang kedua adalah kualitas air yang tidak
memenuhi standar kesehatan. Apakah bisa
menjamin solusi yang dilakukan PDAM sekarang adalah solusi yang bisa
menjamin kesedian sumber air baku ke depan?
Menurut UNESCO (Tahun 2003) melalui badan air dunianya (WWAP)
menyatakan ketersediaan air tawar dunia hannya
2,5 persen sedangkan 97,5 persen adalah air laut, sehingga tidak bijak
jika manusia hanya bertumpu pada air tawar
yang jumlahnya sangat sedikit tersebut. "Saatnyalah kita beralih pada
pemanfaatan air laut yang ketersediaannya
sangat besar itu."
Dikatakan, belum lagi terjadinya pencemaran hebat akibat pembuangan
limbah oleh pabrik, rumah tangga, dan
kegiatan penambangan, dengan kondisi ini ketersediaan air bersih akan
semakin terbatas. Ditambah lagi kondisi global
warming (pemanasan global) telah menambah krisis air 20 persen dari
krisis sebelumnya.
Kata Iskandar, Arab Saudi membuat instalasi untuk mengubah air laut
menjadi air bersih dari Laut Merah yang dapat
disuplai ke Mekah dan Madinah yang jaraknya ratusan kilometer dari Laut Merah.
Untuk mengelola air laut jadi air baku, PDAM dan pemerintah tak harus
bergantung dengan APBD tapi bisa minta
bantuan dana APBN. Kemudian berani melakukan kerjasama dengan swasta
sebagai mitra. Dalam memanfaatkan air
laut sebagai air bersih adalah memisahkan garam, sebagai unsur utama
yang harus dihilangkan atau dikurangi hingga
memenuhi standarisasi sebagai air bersih, selain itu unsur-unsur
lainnya yang terdapat dalam air laut yang dapat
mempengaruhi kualitas air bersih tersebut. Untuk mencapai tujuan
tersebut, bisa dilakukan dengan menggunakan
teknologi desalinasi (Desalination) atau biasa disebut juga dengan
teknologi pemurnian air laut.
Saat ini, telah dipopulerkan dua cara proses desalinasi, melalui
membrane technique, yaitu menggunakan sistem
membrane yang dikombinasikan dengan berbagai metode baik pressure
maupun electrical, adapun metode yang
termasuk dalam kategori ini adalah reverse osmosis(RO),
electrodialysis (ED), capacitative deionization (CDI),
mikrofiltration (MF), ultrafiltration (UF), nanofiltration (NF).
Kedua, dengan distillation technique, yaitu menggunakan tenaga thermal
(panas) dengan proses evaporasi ataupun
kondensasi, adapun metode yang termasuk dalam kategori ini adalah
multistage flash evaporation (MSF),
multieffect distillation (MED atau MEE), vapor compression
distillation, solar thermal distillation.
Dari kedua teknologi desalinasi, teknologi dengan sistem membran
dirasa paling efektif dan efisien, dan dari metode
sistem membran maka metode reverse osmosis (RO) yang paling banyak
digunakan, karena mampu
mengkonversi air laut menjadi air bersih jauh lebih besar yaitu 20 –
50 persen. Sedangkan metode yang lain dibawah
20%.
"Saya ingin kita berpikir kreatif tentang persoalan ini, terserahlah
sumber airnya dari mana yang penting ada sebuah
jaminan pemerintah daerah menyediakan air bersih untuk rakyat. Tentang
biaya semuanya adalah relatif, semahal
apapun akan kita usaha dapatkan jika menyangkut kepentingan kebutuhan
dasar manusia dan bisa dinikmati
masyarakat luas," kata jebolan universitas di Belanda ini.
Khirjuli dari LSM Alim yang giat terlibat dalam masalah air di Kepri
itu mengingatkan air baku yang dikelola PDAM Tirta
Kepri wajib memenuhi baku mutu dan syarat kesehatan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
Untuk itu LSM Alim meminta kepada Pemprov Kepri melalui Dinas
Kesehatan ikut turun tangan melakukan penelitian
terhadap kwalitas air baku maupun kwalitas air yang didistribusikan
PDAM. Secara kasat mata memang kelihatan keruh
dan menimbulkan bau. Oleh karena itu sesuai ketentuan yang berlaku,
air baku tersebut harus diteliti lagi untuk
melihat seberapa besar unsur fisika, kimia maupun biologi yang
terkandung didalam partikel air dan pengaruhnya bagi
kesehatan bila dikonsumsi. Apakah air baku waduk Sungai Pulai itu
masih memenuhi baku mutu atau berada di atas
ambang batas.
Hasilnya kemudian diumumkan kepada publik, apakah masih layak
dikonsumsi atau tidak. Bilamana tidak layak
dikonsumsi, maka sebaiknya tidak lagi diproduksi. Atas dasar
rekomendasi dari Dinas Kesehatan itulah kemudian
Pemprov Kepri melalui PDAM Tirta Kepri melakukan tindakan menghentikan
pendistribusian air, baik secara berkala
sembari PDAM melakukan proses pengimbuhan kimia (chemical) atau mati
total sambil menunggu kwalitas air
berangsur-angsur membaik secara alami.
***
Melihat kondisi saat ini, Nuraida memprediksi, selama 2010, kondisi
pelayanan PDAM belum optimal. ”Air tetap
mengalir. Tetapi tak bisa 24 jam sepertu dulu,” katanya.
Nuraida mengakui, membenahi PDAM saat ini bukan perakara mudah. Digaji
Rp50 juta pun tak mau. ”Secara
infrastruktur rumit, secara politis juga rumit. Tak gampang menertikan
sambungan ilegal yang melibatkan banyak
karyawan. Jika kita putuskan pasti konsumen marah.”
”Kita berharap masyarakat bisa mengerti keadaan sebenarnya dari PDAM.
Kita minta sabar, dan membiarkan direksi
saat ini bekerja. Kalau di cari yang baru, direksi yang S3 pun belum
tentu bisa memperbaiki PDAM dalam waktu
singkat,” jelasnya.
Masalah yang ada dalam PDAM sangat rumit. Nuraida menaruh kepercayaan
dengan bos PDAM yang baru. Hasilnya,
kata dia, sudah ada. Misalnya tingkat kebocoran sudah turun. Yang
diharapkan maksimal kebocoran 25 persen dari
produksi. “Sekarang membeli bahan kimia tidak berhutang. Ini salah
satu langkah maju,” katanya. Ya, kinirja Kholik
diharapkan bisa membawa PDAM lebih baik.(*).
Selasa, 29 Juni 2010
Senin, 22 Februari 2010
Menilik Kejayaan Tambelan Timbalan Riau
Kecamatan Tambelan, Kabupaten Bintan memiliki andil besar dalam sejarah Kerajaan Johor Riau. Kecamatan terpencil di Bintan itu pernah menjadi pusat pemerintahan Johor Riau di masa Sultan Johor VII Sultan Abdullah Ma'ayat Syah ketika dalam pelarian dari Lingga. Sultan mangkat di Tambelan dan dikebumikan di sana. Bagaimana-jejak-jejak sejarah itu?
Mendengar nama Tambelan, tentu telingga tak asing lagi. Untuk sampai Tambelan saat ini masih terbilang sulit. Rute kapal perintis Km Gunung Bintan hanya 10 hari sekali ke Tambelan dari Tanjungpinang. Inilah salah satu transportasi warga yang hendak ke Tambelan. Sedangkan dari Tambelan ke Tanjungpinang, masyarakat di sana menggunakan Trigas, kapal kargo yang tidak laik untuk dijadikan kapal penumpang. Jadwalnya keberangkatan cuma 10 hari sekali.
Jika ingin menggunakan jalur alternatif selain Gunung Bintan, masyarakat Tambelan biasanya menumpang kapal ikan yang menampung ikan dari nelayan, kemudian dijual di Tanjungpinang, bahkan ikan dari Tambelan dijual sampai ke Singapura. Jauhnya Tambelan dari pusat pemerintahan, menyebabkan jarang dikunjungi pejabat. Bisa dikatakan, setahun sekali bupati berkunjung ke sana untuk menemui masyarakat.
Walau masih terisolasi dari modernisasi zaman, masyarakat Tambelan tak protes kepada pemerintah daerah yang tak menyediakan transportasi yang manusiawi untuk warganya. Di Km Trigas misalnya, penumpang terkadang tidur bersebelahan dengan binatang seperti kambing, ayam, dan hewan peliharaan lainnya. Itulah realita hingga sekarang. Ketika pemda membangun fasilitas perkantoran yang megah, fasilitas umum masyarakat tak terpenuhi dengan fasilitas yang laik.
Secara geografis, letak Tambelan di Laut China Selatan, 210 mil dari Pulau Bintan. Waktu yang ditempuh untuk sampai di Tambelan sekitar 21 jam. Jika gelombang besar, waktu perjalanan bisa bertambah 10 jam. Dengan jumlah penduduk 5.000 jiwa, Tambelan memiliki 8 desa, satu kelurahan.
Berdasarkan folk lore, nama Pulau Tambelan berasal dari Pulau Kandil Bahar yang artinya cahaya yang terlihat dari tengah laut. Hingga saat ini nama itu masih melekat dalam ingatan warga Tambelan. Kandil Bahar diabadikan sebagai tempat pertemuan.
Nama Kandil Bahar hanya dikenal orang Tambelan. Sedangkan penduduk luar tidak mengenal nama tersebut. Bahkan ketika rombongan Sultan Johor VII Sultan Abdullah Ma'ayat Syah tiba di kecamatan yang memiliki 54 pulau besar dan kecil itu, mereka menyebut nama Tambelan dengan Pulau Sabda. Sabda diartikan perkataan atau perintah.
"Pasalnya dari Tambelan, Sultan memimpin Kerajaan Johor ketika dalam pelarian. Sehingga seluruh sabda dan kebijakan kerajaan dikendalikan dari Tambelan,” kata Atmadinata, peneliti sejarah di Kepri, yang juga Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Provinsi Kepri, kepada Tanjungpinang Pos, di kediamannya, Jalan Kuatan Tanjungpinang, belum lama ini.
Menurutnya, saat Sultan menetap di Tambelan bersama Raja Bujang yang nantinya menjadi Sultan Johor menggantikan Ma'ayat Shah. Jumlah rombongan ketika itu diperkirakan ratusan orang. Buktinya dalam catatan Belanda dagh register 1624-1629 di buku King off Johor yang ditulis Leonard Y Andarya, ketika Sultan sudah wafat sekitar tahun 1623 dan dikebumikan di sana, rombongan yang ditinggal Sultan, termasuk di dalamnya Putri Jambi kembali ke Jambi dengan menggunakan 500 perahu. Jumlah 500 perahu bukan jumlah yang sedikit. Bisa mengangkut ribuan orang. Sayangnya tak ada literatur yang memastikan jumlah rombongan ketika itu.
[]
Hingga kini, peninggalan sejarah rombongan sultan masih ada yang terdiri dari makam-makam rombongan Sultan yang mangkat di Tambelan. Makam-makam tersebut berada di atas kompek khusus yang ditembok dengan batu. Batu nisan terbuat dari batu yang diukir dengan tulisan arab. Tingginya nisan melebihi orang dewasa. Warnanya hitam.
Jika diamati dari batu nisan, yang meninggal di sana bukan orang sembarangan. "Pasti pejabat tinggi di kerajaan,” ujar Atmadinata yakin. Kini makam Sultan Johor yang berada di komplek pemakaman Desa Batulepuk itu terlihat megah karena sudah dilakukan pemugaran. Sedangkan makam di dekat Bentayan, kurang terawat. Batu nisan terlihat tak terurus. Warga banyak berkebun di sekitar lokasi makam. Hanya makam Sultan yang terlihat terawat. Makam dominan dengan warna kuning.
Menurut Atmadinata, perubahan nama Pulau Sabda jadi Timbalan terjadi tahun 1784 ketika terjadi Perang Riau (1782-1784) yang lebih dikenal Perang Bahari. Dalam perang itu, tak boleh dilupakan, peran besar yang diberikan oleh datuk-datuk asal Pulau Tujuh, yaitu Datuk Jemaja, Datuk Siantan, Datuk Pulau Laut, Datuk Serasan, Datuk Subi dan Datuk Pulau Sabda atau Tambelan.
Hal ini, kata Atmadinata, diperkuat dengan laporan Kontelir A.W.L. Vogelesang dalam “Gegeven Betreffende den Tambelan en den Watas Archiep” (1921). Dalam Adat Rechtbundels 26 halaman 12 disebutkan, Datuk Pulau Sabda berhasil merebut meriam-meriam dari kapal perang Belanda. Sebagai imbalan, Sultan Mahmud Syah III memberikan gelar Datuk Petinggi Timbalan Riau Maharaja Lela Setia kepada Datuk Pulau Sabda.
Arti lela adalah meriam. Timbalan artinya wakil, suatu kedudukan sangat istimewa. Saking istimewanya, sebelum datuk di Pulau Tujuh itu bisa menghadap Sultan, mereka berkumpul dulu di Pulau Sabda sebagai penghormatan kepada Datuk Pulau Sabda. Setelah menghadap Datuk Pulau Sabda, baru mereka bisa menjumpai Sultan. Bisa dikatakan, Datuk Tambelan ketika itu jadi wakil sultan.
“Sejak saat itu tak disebut lagi Datuk Pulau Sabda, tetapi Datuk Timbalan. Dan nama Pulau Sabda jadi Pulau Timbalan. Lidah Belanda melafalkan Tambelan berlangsung hingga detik ini,” kata Atmadinata, yang pernah menulis buku sejarah Kerajaan Johor Riau Pahang bersama dengan tokoh sejarah Kepri Aswandi Syahri itu.
Atmadinata mengatakan, jika dianalisa, tentang anugrah gelar Datuk Petinggi Timbalan Riau Maharaja Lela Setia, kepada Datuk Pulau Sabda, maka dalam tradisi peanugrahan gelar Kerajaan Riau, gelar tak diberikan kepada seseorang apabila tak ada sesuatu prestasi yang luar biasa yang diraih penerima gelar. Saat itu Sultan Mahmud tak pernah memberikan gelar kepada siapapun kecuali kepada Datuk Pulau Sabda.
“Satu- satunya yang dapat gelar ini Datuk Pulau Sabda. Hal ini dikarenakan peran Datuk Pulau Sabda sangat besar dalam Perang Riau yang menyebabkan Belanda mengundurkan diri dari medan perang perairan Riau ke Malaka. Belanda mundur karena kapal perang mereka Malaka’s Walvaren dihancur,” ujar Atma.
[]
Dulu Belanda pun Beri Otonomis Khusus
Kecamatan Tambelan, Kabupaten Bintan, diberikan otonomo khusus di zaman Belanda. Dan Tambelan mendapat pilihan pertama sebagai daerah otonom di seluruh Keresidenan Riau, sebagai ujicoba yang nantinya diterapkan juga ke daerah lain.
Untuk melaksanakan penghargaan dari Belanda, maka dibentuklah Negeri Tambelan dengan cara diberi nama gemeinshaaft atau masyarakat adat yang dibentuk berdasarkan kemauan bersama dan diatur dengan adatnya. Masyarakat ini diketuai atau dipimpin oleh seorang yang diberi gelar Datuk Kaya.
Berdasarkan kesaksian Ramli Ismail, kata peneliti sejarah Kepri Atmadinata, pada waktu itu, masyarakat Tambelan dikumpulkan di lapangan bola untuk memilih Datuk Kaya. Orang yang dipilih dari keturunan yakni orang yang masih berhubungan dengan Datuk Kaya dulu. Dan akhirnya masyarakat sepakat memilih Hasnan bin Yahya sebagai Datuk Kaya yang memimpin masyarakat adat.
Sebulan setelah peristiwa itu, keluarlah surat keputusan dari Belanda Resident Riouw No 221 tertanggal 28 Mei 1929 dengan lampiran berisikan tatacara kerja masyarakat adat sesuai dengan Indische Staatsregelling (IS) atau UU Belanda tentang pengaturan pemerintahan.
Status otonomi Tambelan hingga saat ini, kata Atmadinata, tak pernah dicabut secara tertulis. Hanya saja tidak berlaku dengan sendirinya karena telah lahir beberapa kali peraturan perundangan yang mengatur tentang pemerintah daerah dan otonomi daerah. Selama Tambelan dijadikan daerah khusus, ada beberapa keberhasilan yang dilakukan masyarakat Tambelan. Misalnya di Tambelan dibangun rumah jabatan Asisten Wedana yang sekarang jadi rumah dinas camat. Kemudian dibangun juga balai pengobatan, kantor Lembaga Adat Tambelan, sekolah PGA, kantor sosial, balai desa, Masjid Raya Tambelan, dan yang paling jauh dari Tambelan yakni dibangunnya Rumah Adat Tambelan di Belakang Gedung Daerah Tanjungpinang.
Sayangnya Rumah Adat itu saat ini tidak dimanfaatkan optimal oleh warga Tambelan yang berada di Tanjungpinang. Rumah Adat yang dibangun zaman Belanda itu hanya disewakan kepada pihak lain. Atmadinata menambahkan, otonomi khusus ini merupakan penghargaan khusus kepada Tambelan.
Irwandi, Ketua Himpunan Mahasiswa Tambelan di Tanjungpinang kecewa dengan Kerukunan Keluarga Tambelan di Tanjungpinang karena Rumah Adat Tambelan tidak dimanfaatkan untuk kepentingan warga Tambelan. "Malah warga Tambelan sendiri marasa asing pergi ke sana," kata Irwandi, seraya mengatakan, Rumah Adat itu disewakan kepada pihak ketiga. Sampai sekarang, tidak diketahui uang sewa itu dikelola siapa dan untuk apa.
Atmadinata menambahkan, bisa saja, Otonomi Khusus Tambelan dikembalikan seperti masyarakat adat di Yogyakarta, dan daerah lainnya di Indonesia. "Tetapi memang perlu kajian lebih dalam lagi," kata Kepala Bidang Pendidikan Kejuruan Dinas Pendidikan Provinsi Kepri itu.
Ya, menilik sejarah Kecamatan Tambelan, daerah itu memainkan peran yang sangat penting sejak abad 16 di kawasan Sumatera. Tetapi, kini, Tambelan hanya sebuah kecamatan kecil dari Kabupaten Bintan yang terlupakan. Daerah yang melahirkan banyak profesor itu masih tertinggal dan terus tertinggal dari daerah lain. Tambelan tenggelam dari zaman kejayaannya hanya meninggalkan kenangan sejarah untuk kita berkaca menatap masa depan. (tanjungpinangpos/robby patria)
Senin, 08 Februari 2010
Ketika Ismeth Ragu Menyatakan Ya
Setelah Ismeth Abdullah ditetapkan jadi tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), peta politik di Kepri berubah. Ismeth pun ragu menyatakan akan mengikuti pilkada Kepri. Sedangkan orang dekatnya mulai mencari ancang-ancang mendukung calon lain.
Keluar dari mobil dinas Toyota Camry, Ismeth disambut ibu-ibu dengan memukul gendang. Dentuman suara kompang itu menjadi ciri khas di Tanjungpinang, jika ada pejabat yang datang menghadiri acara. Ketika itu Ismeth menggunakan batik kecoklatan terlihat tenang memasuki ruangan Hotel Laguna untuk menghadiri acara pelantikan pengurus lembaga swadaya masyarakat, belum lama ini.
Mulai dari pintu masuk, Ismeth terus menyalami puluhan orang yang ada di hotel hingga dia duduk di kursi barisan terdepan. Di sampingnya ada Abdul Razak, Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri yang sebelumnya getol mendukung Ismeth kembali menjadi gubernur. Ismeth terus tersenyum mengamati prosesi pelaksanaan pelantikan pengurus LSM itu. Sesekali kepalanya mengangguk mendengar kata sambutan.
Ketika ditanya apakah ingin maju menjadi calon gubernur? Ismeth dengan cepat menjawab, "Nanti ya. Ada waktunya. Atau saya berpasangan dengan kamu," kata Ismeth sambil menunjuk salah satu wartawan.
Hingga kini, belum bisa dipastikan apakah Ismeth akan maju atau tidak. Tetapi dari internal Golkar menganggap Ismeth tidak berpeluang untuk dicalonkan kembali. Sehingga Partai Beringin yang sudah menjagokan Ismeth jauh-jauh hari terlihat berpaling. Tetapi, DPP Golkar tetap memberikan bantuan hukum kepada kadernya yang terjerat masalah hukum. Apalagi Ismeth kader Golkar.
"Kita tidak intervensi masalah hukumnya. Karena banyak kepala daerah di Indonesia yang terlibat dalam kasus pengadaan mobil pemadam kebakaran sudah masuk penjara," kata salah satu pengurus DPP.
Lantas, apakah Ismeth tetap dicalonkan dari Golkar? Belum ada yang berani memastikan. Namun Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie mengatakan Golkar bisa saja mencalonkan figur yang jadi tersangka. "Selagi belum terdakwa tak masalah," kata Aburizal di Lagoi belum lama ini. "Kita tetap menunggu hasil survei LSI," kata Aburizal.
Sedangkan Ansar Ahmad sebelumnya menyebutkan selain Ismeth, masih banyak kader Golkar yang bisa dicalonkan menjadi gubernur. Dia menyebutkan nama Muhammad Sani, Aida Ismeth, termasuk nama yang diajukan Golkar dalam survei yang dilakukan lembaga survei terkemuka di Indonesia mengenai siapa calon yang paling populer di tengah-tengah masyarakat. Bagitu juga dengan pernyataan pengurus DPP Golkar Sudirman Almoen.
"Kita cukup kehilangan sosok Ismeth. Tetapi menghadapi pilkada Golkar masih banyak stok," kata Almoen yang memperkuat kata Ansar. Partai pemenang pemilu di Kepri ini akan mencari figur pengganti Ismeth yang memiliki nilai jual supaya bisa menang di pilkada.
Sampai sejauh ini, sejak ditetapkan KPK tersangka, Ismeth belum menyatakan akan ikut pilkada.
Sadar dengan posisinya yang rawan, Ismeth berpesan kepada kalangan pemuda untuk melanjutkan pembangunan Kepri ke depan. Dia menginginkan pemuda di Kepri tetapi kompak dalam melaksanakan pembangunan. Tentunya di tangan generasi muda, Kepri ke depan dibangun.
Tidak mungkin, katanya, Kepri dibangun oleh pemerintah saja. Semua komponen masyarakat harus dilibatkan agar Kepri menjadi provinsi yang membanggakan. Dalam lima tahun, dia mengakui, di Kepri masih banyak persoalan yang belum bisa diselesaikan. Misalnya tingkat kemiskinan, kebodohan dan pembangunan lainnya. Tetapi itulah proses yang harus dilalui. Pemerintah harus bisa membangun sumber daya manusia dari bodoh menjadi pintar, dari masyarakat miskin menjadi kaya.
"Kita juga harus mengejar ketertinggalan dari tetangga. Baik itu masalah anak-anak yang tak mampu mengikuti pendidikan. Seluruh masyarakat harus bersatu membangun Kepri," katanya.
Mantan Ketua Otorita Batam ini juga sudah meletakkan pondasi yang kuat pembangunan ekonomi di Kepri. Ismeth mengakui, free trade zone (FTZ) di Batam, Bintan, dan Karimun memang belum optimal. Tetapi, setelah dilakukan revisi oleh pemerintah, FTZ akan berjalan mulus. Hampir 61 persen, persoalan FTZ di Kepri sudah baik. Tidak ada hambatan yang mendasar dalam pelaksanaannya.
Hampir 8 bulan FTZ di Kepri, masalah yang dihadapi mulai membaik. Struktur impor dan industri tidak ada hambatan lagi," kata Ismeth. Dulu peraturan belum lengkap, sekarang sudah dibereskan.
Sedangkan menurut Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kepri Abdullah Gosse, Ismeth sudah berjasa melaksana
kan pembangunan di Kepri. "Banyak yang sudah dia perbuat untuk Kepri. Tapi jika dia tersangkut masalah hukum, itu sudah menjadi resiko. Kita kasihan juga," katanya.
Sedangkan menurut Burnanuddin Nur, Lembaga Kesatuan Aksi Anak Negeri Batam, menilai penetapan Ismeth sebagai tersangka merupakan murni kasus hukum yang seharusnya sudah tuntas 2008 lalu. Pasalnya gubernur dan wali kota daerah yang terlibat dalam kasus pengadaan damkar sudah masuk penjara.
"Kita melihat kasus ini sempat diendapkan sehingga baru saat ini ditetapkan jadi tersangka. Jadi tidak benar kasus ini ada aroma politik. Ini murni hukum," kata Burnanuddin Nur kepada Tanjungpinang Pos, kemarin.
Bukan berarti, katanya, dengan Ismeth jadi tersangka, maka peluang putra daerah besar menjadi gubernur. "Itu salah. Peluang Ismeth dan calon lainnya tetap memiliki kesempatan yang sama," kata Burhanuddin yang sempat melaporkan pejabat KPK ke Mabes Polri terkait pernyataan bohong. Kemudian laporan itu dicabut kembali setelah KPK menetapkan Ismeth resmi jadi tersangka.
Burhanuddin bertolak belakang dengan Generasi Muda Badan Perjuangan Pembentukan Provinsi Kepri (GM-BP3KR) Basyaruddin Idris. Dia melihat Ismeth ditetapkan tersangka kental dengan nuansa politik.
"Banyak musuh Ismeth menginginkan beliau tidak ikut pilkada. Sehingga dengan pelbagai cara mereka lakukan untuk menjerat Ismeth," kata Basyaruddin Idris. "Kita tetap mengharapkan Ismeth maju mengandeng tokoh Sudirman Almoen yang menjadi tokoh utama lahirnya Kepri. Andai nanti Ismeth terpilih dan ditahan KPK, maka wakilnya bisa menggantikan. Tapi kita tak berharap Ismeth ditahan," kata Basyaruddin.
Sedangkan Juru Bicara KPK Johan Budi membantah anggapaan Ismeth dijadikan tersangka karena pesanan. " Ah, tidak ada hubungan dengan pilkada." Lantas apakah Ismeth tetap maju dalam pilkada yang tahapannya dimulai akhir Desember ini? " Nanti saja, ya," kata Ismeth lagi.
Huzrin Hood, tidak mempersoalkan siapa saja yang menang dalam pilkada Kepri nanti. Asalkan yang menang itu anak Kepri. Sudah saatnya Kepri dipimpin anak daerah. Huzrin mencontoh daerah lain di Indonesia yang semua kepala daerah dipimpin anak daerah bukan dari daerah lain seperti yang terjadi di Kepri.
"Saya tetap mencalonkan diri menjadi gubernur. Jika nanti tidak bisa karena masalah teknis, maka suara dukungan saya juga akan dilimpahkan kepada calon lain. Tetapi sebelum itu saya akan maju dulu," kata Huzrin. Jikapun Ismeth tetap maju, maka Huzrin tak gentar melawannya di pilkada. "Saya lebih suka Ismeth maju. Karena ingin menang secara terbuka. Bukan karena Ismeth tak ikut pilkada."
Keluar dari mobil dinas Toyota Camry, Ismeth disambut ibu-ibu dengan memukul gendang. Dentuman suara kompang itu menjadi ciri khas di Tanjungpinang, jika ada pejabat yang datang menghadiri acara. Ketika itu Ismeth menggunakan batik kecoklatan terlihat tenang memasuki ruangan Hotel Laguna untuk menghadiri acara pelantikan pengurus lembaga swadaya masyarakat, belum lama ini.
Mulai dari pintu masuk, Ismeth terus menyalami puluhan orang yang ada di hotel hingga dia duduk di kursi barisan terdepan. Di sampingnya ada Abdul Razak, Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri yang sebelumnya getol mendukung Ismeth kembali menjadi gubernur. Ismeth terus tersenyum mengamati prosesi pelaksanaan pelantikan pengurus LSM itu. Sesekali kepalanya mengangguk mendengar kata sambutan.
Ketika ditanya apakah ingin maju menjadi calon gubernur? Ismeth dengan cepat menjawab, "Nanti ya. Ada waktunya. Atau saya berpasangan dengan kamu," kata Ismeth sambil menunjuk salah satu wartawan.
Hingga kini, belum bisa dipastikan apakah Ismeth akan maju atau tidak. Tetapi dari internal Golkar menganggap Ismeth tidak berpeluang untuk dicalonkan kembali. Sehingga Partai Beringin yang sudah menjagokan Ismeth jauh-jauh hari terlihat berpaling. Tetapi, DPP Golkar tetap memberikan bantuan hukum kepada kadernya yang terjerat masalah hukum. Apalagi Ismeth kader Golkar.
"Kita tidak intervensi masalah hukumnya. Karena banyak kepala daerah di Indonesia yang terlibat dalam kasus pengadaan mobil pemadam kebakaran sudah masuk penjara," kata salah satu pengurus DPP.
Lantas, apakah Ismeth tetap dicalonkan dari Golkar? Belum ada yang berani memastikan. Namun Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie mengatakan Golkar bisa saja mencalonkan figur yang jadi tersangka. "Selagi belum terdakwa tak masalah," kata Aburizal di Lagoi belum lama ini. "Kita tetap menunggu hasil survei LSI," kata Aburizal.
Sedangkan Ansar Ahmad sebelumnya menyebutkan selain Ismeth, masih banyak kader Golkar yang bisa dicalonkan menjadi gubernur. Dia menyebutkan nama Muhammad Sani, Aida Ismeth, termasuk nama yang diajukan Golkar dalam survei yang dilakukan lembaga survei terkemuka di Indonesia mengenai siapa calon yang paling populer di tengah-tengah masyarakat. Bagitu juga dengan pernyataan pengurus DPP Golkar Sudirman Almoen.
"Kita cukup kehilangan sosok Ismeth. Tetapi menghadapi pilkada Golkar masih banyak stok," kata Almoen yang memperkuat kata Ansar. Partai pemenang pemilu di Kepri ini akan mencari figur pengganti Ismeth yang memiliki nilai jual supaya bisa menang di pilkada.
Sampai sejauh ini, sejak ditetapkan KPK tersangka, Ismeth belum menyatakan akan ikut pilkada.
Sadar dengan posisinya yang rawan, Ismeth berpesan kepada kalangan pemuda untuk melanjutkan pembangunan Kepri ke depan. Dia menginginkan pemuda di Kepri tetapi kompak dalam melaksanakan pembangunan. Tentunya di tangan generasi muda, Kepri ke depan dibangun.
Tidak mungkin, katanya, Kepri dibangun oleh pemerintah saja. Semua komponen masyarakat harus dilibatkan agar Kepri menjadi provinsi yang membanggakan. Dalam lima tahun, dia mengakui, di Kepri masih banyak persoalan yang belum bisa diselesaikan. Misalnya tingkat kemiskinan, kebodohan dan pembangunan lainnya. Tetapi itulah proses yang harus dilalui. Pemerintah harus bisa membangun sumber daya manusia dari bodoh menjadi pintar, dari masyarakat miskin menjadi kaya.
"Kita juga harus mengejar ketertinggalan dari tetangga. Baik itu masalah anak-anak yang tak mampu mengikuti pendidikan. Seluruh masyarakat harus bersatu membangun Kepri," katanya.
Mantan Ketua Otorita Batam ini juga sudah meletakkan pondasi yang kuat pembangunan ekonomi di Kepri. Ismeth mengakui, free trade zone (FTZ) di Batam, Bintan, dan Karimun memang belum optimal. Tetapi, setelah dilakukan revisi oleh pemerintah, FTZ akan berjalan mulus. Hampir 61 persen, persoalan FTZ di Kepri sudah baik. Tidak ada hambatan yang mendasar dalam pelaksanaannya.
Hampir 8 bulan FTZ di Kepri, masalah yang dihadapi mulai membaik. Struktur impor dan industri tidak ada hambatan lagi," kata Ismeth. Dulu peraturan belum lengkap, sekarang sudah dibereskan.
Sedangkan menurut Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kepri Abdullah Gosse, Ismeth sudah berjasa melaksana
kan pembangunan di Kepri. "Banyak yang sudah dia perbuat untuk Kepri. Tapi jika dia tersangkut masalah hukum, itu sudah menjadi resiko. Kita kasihan juga," katanya.
Sedangkan menurut Burnanuddin Nur, Lembaga Kesatuan Aksi Anak Negeri Batam, menilai penetapan Ismeth sebagai tersangka merupakan murni kasus hukum yang seharusnya sudah tuntas 2008 lalu. Pasalnya gubernur dan wali kota daerah yang terlibat dalam kasus pengadaan damkar sudah masuk penjara.
"Kita melihat kasus ini sempat diendapkan sehingga baru saat ini ditetapkan jadi tersangka. Jadi tidak benar kasus ini ada aroma politik. Ini murni hukum," kata Burnanuddin Nur kepada Tanjungpinang Pos, kemarin.
Bukan berarti, katanya, dengan Ismeth jadi tersangka, maka peluang putra daerah besar menjadi gubernur. "Itu salah. Peluang Ismeth dan calon lainnya tetap memiliki kesempatan yang sama," kata Burhanuddin yang sempat melaporkan pejabat KPK ke Mabes Polri terkait pernyataan bohong. Kemudian laporan itu dicabut kembali setelah KPK menetapkan Ismeth resmi jadi tersangka.
Burhanuddin bertolak belakang dengan Generasi Muda Badan Perjuangan Pembentukan Provinsi Kepri (GM-BP3KR) Basyaruddin Idris. Dia melihat Ismeth ditetapkan tersangka kental dengan nuansa politik.
"Banyak musuh Ismeth menginginkan beliau tidak ikut pilkada. Sehingga dengan pelbagai cara mereka lakukan untuk menjerat Ismeth," kata Basyaruddin Idris. "Kita tetap mengharapkan Ismeth maju mengandeng tokoh Sudirman Almoen yang menjadi tokoh utama lahirnya Kepri. Andai nanti Ismeth terpilih dan ditahan KPK, maka wakilnya bisa menggantikan. Tapi kita tak berharap Ismeth ditahan," kata Basyaruddin.
Sedangkan Juru Bicara KPK Johan Budi membantah anggapaan Ismeth dijadikan tersangka karena pesanan. " Ah, tidak ada hubungan dengan pilkada." Lantas apakah Ismeth tetap maju dalam pilkada yang tahapannya dimulai akhir Desember ini? " Nanti saja, ya," kata Ismeth lagi.
Huzrin Hood, tidak mempersoalkan siapa saja yang menang dalam pilkada Kepri nanti. Asalkan yang menang itu anak Kepri. Sudah saatnya Kepri dipimpin anak daerah. Huzrin mencontoh daerah lain di Indonesia yang semua kepala daerah dipimpin anak daerah bukan dari daerah lain seperti yang terjadi di Kepri.
"Saya tetap mencalonkan diri menjadi gubernur. Jika nanti tidak bisa karena masalah teknis, maka suara dukungan saya juga akan dilimpahkan kepada calon lain. Tetapi sebelum itu saya akan maju dulu," kata Huzrin. Jikapun Ismeth tetap maju, maka Huzrin tak gentar melawannya di pilkada. "Saya lebih suka Ismeth maju. Karena ingin menang secara terbuka. Bukan karena Ismeth tak ikut pilkada."
Minggu, 03 Januari 2010
Tak Lagi Wapres, Jusuf Kalla ke Lagoi Khusus Bermain Golf
Hampir dua bulan Jusuf Kalla (JK) melakoni hidup sebagai warga negara biasa, Jumat dan Sabtu (26/12/2009), JK ke Lagoi, Bintan bersama 43 orang rombongan orang dekatnya termasuk istri dan anaknya. Selama dua hari, Kalla menghabiskan waktu bermain golf di sana.
Pesawat pribadi Kalla, Atirah mendarat mulus di Bandara Tanjungpinang pukul 09.00 wib. Di belakang pesawat yang dinominasi warna putih itu masih ada tulisan JK-WIN. Mungkin itu logo kenangan Kalla yang pernah mencalonkan diri menjadi presiden bersama dengan Ketua Partai Hanura Wiranto. Tulisan warna hitam itu belum dihapus hingga kemarin. Dengan pesawat ini biasanya Kalla berkeliling Indonesia. Bahkan Kalla punya pesawat khusus untuk keliling dunia.
Mantan orang nomor dua di Indonesia ini dijemput Gubernur Kepri Ismeth Abdullah. Sejurus rombongan besar Kalla melanjutkan perjalanan ke Hotel Nirwana, Lagoi untuk menikmati lapangan golf yang termasuk paling baik di Indonesia itu. Kalla didampingi istri Mutfidah Kalla dan tiga orang anaknya. Tak ketinggalan orang dekatnya seperti Aksa Mahmud, kemudian mantan Sekretaris Jenderal Partai Golkar Soemarsono, mantan Ketua DPP Golkar Syamsul Muarif, mantan Ketua DPP Iskandar Manji. Mantan Menteri Sosial dari PPP Bachtiar Chamsah. Terlihat juga pengusaha asal Sulawesi yang selalu mendampinginya Alwi Hamu. Bos media dari Sulawesi itu selalu mendampingi JK.
Sampai di Lagoi, rombongan langsung menikmati indahnya lapangan Golf Nirwana. Semua biaya menyewa lapangan golf untuk 33 pemain dari rombongan Kalla menggunakan uang JK sendiri. Pemerintah Kabupaten Bintan dan Provinsi Kepri hanya memberikan layanan makan malam gratis di Kelong Lagoi. Selebihnya semua biaya ditanggung JK. Habis dari Lagoi, Ahad (27/12), rombongan yang sama juga akan ke Australia.
"Sebagai tuan rumah kita wajib melayani tamu," kata Raja Muhammad, Kepala Bagian Umum Pemkab Bintan yang selalu siap memenuhi kebutuhan rombongan.
"Pak JK menikmati setelah pensiun dari wakil presiden. Dia banyak duit, sehingga tak masalah dengan dana ketika keliling dunia."
"Kita tak perlu repot menyediakan fasilitas. Karena mereka semua yang menanggung," kata salah satu pejabat dari Bintan lainnya.
JK bisa jadi mendapat undangan dari Gubernur Kepri Ismeth Abdullah ke Lagoi ketika sudah pensiun. Maklum di kawasan wisata itu, Ibu Mutfidah JK pernah punya kesan tersendiri. Mutfidah sekali merayakan ulang tahun di Lagoi. Waktu kunjungan beberapa tahun lalu ke Bintan, JK tak lama menikmati indahnya Lagoi. Calon presiden dari Golkar itu justru baru kali ini selama dua hari menikmati Lagoi sebagai warga biasa. Bukan sebagai pejabat negara.
Bupati Bintan Ansar Ahmad yang dikenal dekat dengan Kalla mengakui, JK ke Lagoi khusus bermain golf. "Tidak ada urusan lain," kata Ansar yang masih menggunakan kaos biru dari lambang salah satu hotel di Lagoi, menandakan Ansar baru usai menemani mantan bosnya di Golkar itu bermain golf.
Ansar juga bersama dengan Wakil Gubernur Muhammad Sani, Kapolda Kepri Pudji, anggota DPD Aida Nasution mengantar Kalla sampai ke lapangan bandara. Kalla punya kesan tersendiri terhadap kawasan industri di Bintan. sehingga, kawasan industri Lobam dimasukkan ke dalam kawasan perdagangan bebas yang saat ini pelaksanaannya masih setengah hati.
Free Trade Zone (FTZ) atau kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas memang lahir dari tangan dingin Kalla waktu menjabat wakil presiden. Dia ingin Batam, Bintan, dan Karimun (BBK) menjadi segitiga emas yang bisa menangkap peluang dari perluasan usaha dan pesatnya perkembangan bisnis di Singapura.
Banyak daerah di China, Malaysia bisa berkembang pesat setelah ditetapkan yang sudah ditetapkan kawsan FTZ. Kalla ingin melanjutkan konsep mantan Presiden Habibie membangun Batam di era bonded zone plus diterapkan dua pulau Bintan dan Karimun.
Harapannya jika FTZ sudah berjalan mulus, investasi asing berbondong bondong masuk ke BBK. Tenaga kerja banyak terserap. Multiplier effect-nya signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Kesejahteraan masyarakat pun meningkat. Namun upaya Kalla belum berjalan mulus. Krisis ekonomi yang menghantam dunia membuat investasi di BBK tidak mengembirakan setelah BBK ditetapkan sebagai kawasan FTZ.
Singapura yang diharapkan jadi bapak yang baik waktu itu sedang sakit keras. Limpahan proyek dari Singapura minim. Kepri kena dampak negatif. Ditambah dengan aturan di lapangan FTZ membingungkan pengusaha seperti masterlist dan persoalan lainnya membuat dunia usaha di BBK mengeluh. Akhirnya pemerintah melakukan revisi kembali Peraturan Menteri Keuangan (PMK) mengenai teknis di lapangan supaya FTZ di BBK sesuai dengan harapan untuk menggerakkan roda perekonomian di Kepri dan nasional tentunya.
Kalla mengatakan, dia tetap optimistis pelaksanaan FTZ di BBK. "Kan sekarang tidak ada lagi hambatan. Apa yang jadi hambatan saat ini? Masalah itu akan diselesaikan Dewan Kawasan dan Otorita Batam," kata Kalla menjelaskan, ketika hendak meninggalkan bandara Tanjungpinang yang saat ini sedang dilakukan perluasan itu.
Kalla terkesan hati-hati berbicara kepada media sejak dia tak lagi jadi orang nomor dua di Indonesia. Tentu beda saat dia masih menjadi Wapres saat ditanya mengenai FTZ, Kalla pasti semangat menjawab pertanyaan. Ketika Tanjungpinang Pos tanya apakah masih memantau pelaksanaan FTZ di BBK? Kalla bilang tidak. "Tidak lagi sekarang. Kan sudah ada yang mengurus," katanya sambil berjalan menuju pesawat pribadi.
Dari pengamatan Tanjungpinang Pos, sejumlah pasukan pengaman presiden tidak banyak mendampinginya. Kalla mudah untuk diwawancara karena tidak ada pengawalan yang ketat. Muhammad Sani juga mengatakan kunjungan JK kali ini hanya untuk bermain golf. Kemudian, sebagai Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI), JK menyempatkan mengunjungi PMI Kepri di Tugu Pahlawan.
Di sana JK meninjau dan melihat secara langsung kantor PMI Kepri yang sederhana itu. Kalla berpesan PMI jangan jadi “drakula” makan darah manusia. "Saya juga pengen seperti Pak Kalla jika sudah pensiun," kat Sani yang masih menggunakan pakain kaos golf.
“Tak ada pembahasan serius dengan JK. Kami juga tak melakukan pembahasan mengenai pilkada Kepri," ujar Sani yang mengantarkan JK hingga pesawat meninggalkan bandara, baru Sani beranjak meninggalkan bandara.***
Pesawat pribadi Kalla, Atirah mendarat mulus di Bandara Tanjungpinang pukul 09.00 wib. Di belakang pesawat yang dinominasi warna putih itu masih ada tulisan JK-WIN. Mungkin itu logo kenangan Kalla yang pernah mencalonkan diri menjadi presiden bersama dengan Ketua Partai Hanura Wiranto. Tulisan warna hitam itu belum dihapus hingga kemarin. Dengan pesawat ini biasanya Kalla berkeliling Indonesia. Bahkan Kalla punya pesawat khusus untuk keliling dunia.
Mantan orang nomor dua di Indonesia ini dijemput Gubernur Kepri Ismeth Abdullah. Sejurus rombongan besar Kalla melanjutkan perjalanan ke Hotel Nirwana, Lagoi untuk menikmati lapangan golf yang termasuk paling baik di Indonesia itu. Kalla didampingi istri Mutfidah Kalla dan tiga orang anaknya. Tak ketinggalan orang dekatnya seperti Aksa Mahmud, kemudian mantan Sekretaris Jenderal Partai Golkar Soemarsono, mantan Ketua DPP Golkar Syamsul Muarif, mantan Ketua DPP Iskandar Manji. Mantan Menteri Sosial dari PPP Bachtiar Chamsah. Terlihat juga pengusaha asal Sulawesi yang selalu mendampinginya Alwi Hamu. Bos media dari Sulawesi itu selalu mendampingi JK.
Sampai di Lagoi, rombongan langsung menikmati indahnya lapangan Golf Nirwana. Semua biaya menyewa lapangan golf untuk 33 pemain dari rombongan Kalla menggunakan uang JK sendiri. Pemerintah Kabupaten Bintan dan Provinsi Kepri hanya memberikan layanan makan malam gratis di Kelong Lagoi. Selebihnya semua biaya ditanggung JK. Habis dari Lagoi, Ahad (27/12), rombongan yang sama juga akan ke Australia.
"Sebagai tuan rumah kita wajib melayani tamu," kata Raja Muhammad, Kepala Bagian Umum Pemkab Bintan yang selalu siap memenuhi kebutuhan rombongan.
"Pak JK menikmati setelah pensiun dari wakil presiden. Dia banyak duit, sehingga tak masalah dengan dana ketika keliling dunia."
"Kita tak perlu repot menyediakan fasilitas. Karena mereka semua yang menanggung," kata salah satu pejabat dari Bintan lainnya.
JK bisa jadi mendapat undangan dari Gubernur Kepri Ismeth Abdullah ke Lagoi ketika sudah pensiun. Maklum di kawasan wisata itu, Ibu Mutfidah JK pernah punya kesan tersendiri. Mutfidah sekali merayakan ulang tahun di Lagoi. Waktu kunjungan beberapa tahun lalu ke Bintan, JK tak lama menikmati indahnya Lagoi. Calon presiden dari Golkar itu justru baru kali ini selama dua hari menikmati Lagoi sebagai warga biasa. Bukan sebagai pejabat negara.
Bupati Bintan Ansar Ahmad yang dikenal dekat dengan Kalla mengakui, JK ke Lagoi khusus bermain golf. "Tidak ada urusan lain," kata Ansar yang masih menggunakan kaos biru dari lambang salah satu hotel di Lagoi, menandakan Ansar baru usai menemani mantan bosnya di Golkar itu bermain golf.
Ansar juga bersama dengan Wakil Gubernur Muhammad Sani, Kapolda Kepri Pudji, anggota DPD Aida Nasution mengantar Kalla sampai ke lapangan bandara. Kalla punya kesan tersendiri terhadap kawasan industri di Bintan. sehingga, kawasan industri Lobam dimasukkan ke dalam kawasan perdagangan bebas yang saat ini pelaksanaannya masih setengah hati.
Free Trade Zone (FTZ) atau kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas memang lahir dari tangan dingin Kalla waktu menjabat wakil presiden. Dia ingin Batam, Bintan, dan Karimun (BBK) menjadi segitiga emas yang bisa menangkap peluang dari perluasan usaha dan pesatnya perkembangan bisnis di Singapura.
Banyak daerah di China, Malaysia bisa berkembang pesat setelah ditetapkan yang sudah ditetapkan kawsan FTZ. Kalla ingin melanjutkan konsep mantan Presiden Habibie membangun Batam di era bonded zone plus diterapkan dua pulau Bintan dan Karimun.
Harapannya jika FTZ sudah berjalan mulus, investasi asing berbondong bondong masuk ke BBK. Tenaga kerja banyak terserap. Multiplier effect-nya signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Kesejahteraan masyarakat pun meningkat. Namun upaya Kalla belum berjalan mulus. Krisis ekonomi yang menghantam dunia membuat investasi di BBK tidak mengembirakan setelah BBK ditetapkan sebagai kawasan FTZ.
Singapura yang diharapkan jadi bapak yang baik waktu itu sedang sakit keras. Limpahan proyek dari Singapura minim. Kepri kena dampak negatif. Ditambah dengan aturan di lapangan FTZ membingungkan pengusaha seperti masterlist dan persoalan lainnya membuat dunia usaha di BBK mengeluh. Akhirnya pemerintah melakukan revisi kembali Peraturan Menteri Keuangan (PMK) mengenai teknis di lapangan supaya FTZ di BBK sesuai dengan harapan untuk menggerakkan roda perekonomian di Kepri dan nasional tentunya.
Kalla mengatakan, dia tetap optimistis pelaksanaan FTZ di BBK. "Kan sekarang tidak ada lagi hambatan. Apa yang jadi hambatan saat ini? Masalah itu akan diselesaikan Dewan Kawasan dan Otorita Batam," kata Kalla menjelaskan, ketika hendak meninggalkan bandara Tanjungpinang yang saat ini sedang dilakukan perluasan itu.
Kalla terkesan hati-hati berbicara kepada media sejak dia tak lagi jadi orang nomor dua di Indonesia. Tentu beda saat dia masih menjadi Wapres saat ditanya mengenai FTZ, Kalla pasti semangat menjawab pertanyaan. Ketika Tanjungpinang Pos tanya apakah masih memantau pelaksanaan FTZ di BBK? Kalla bilang tidak. "Tidak lagi sekarang. Kan sudah ada yang mengurus," katanya sambil berjalan menuju pesawat pribadi.
Dari pengamatan Tanjungpinang Pos, sejumlah pasukan pengaman presiden tidak banyak mendampinginya. Kalla mudah untuk diwawancara karena tidak ada pengawalan yang ketat. Muhammad Sani juga mengatakan kunjungan JK kali ini hanya untuk bermain golf. Kemudian, sebagai Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI), JK menyempatkan mengunjungi PMI Kepri di Tugu Pahlawan.
Di sana JK meninjau dan melihat secara langsung kantor PMI Kepri yang sederhana itu. Kalla berpesan PMI jangan jadi “drakula” makan darah manusia. "Saya juga pengen seperti Pak Kalla jika sudah pensiun," kat Sani yang masih menggunakan pakain kaos golf.
“Tak ada pembahasan serius dengan JK. Kami juga tak melakukan pembahasan mengenai pilkada Kepri," ujar Sani yang mengantarkan JK hingga pesawat meninggalkan bandara, baru Sani beranjak meninggalkan bandara.***
Ketika APBD Kepri Tersedot Pusat Pemerintahan di Dompak

Ismeth Bangun Masjid yang Bisa Menampung 4.000 Jamaah
Pusat Pemerintahan Provinsi Kepulauan Riau di Dompak, Tanjungpinang diperkirakan selesai Juni 2010, bertepatan habisnya masa jabatan Gubernur Ismeth Abdullah. Tetapi banyak pihak meragukan mega proyek yang menelan Rp1,9 triliun itu selesai tepat waktu. Di antara bangunan megah yang sedang dikerjakan, ada masjid yang menjadi maskot kebesaran Islam di Tanjungpinang nantinya.
Dari jauh, bangunan besar itu berdiri kokoh. di sanalah pusat pemerintahan Kepri nantinya berada. Untuk sampai ke Dompak bisa menggunakan pompong nelayan. Waktu yang dibutuhkan relatif singkat. Saat Tanjungpinang Pos ke sana, Kamis (31/12), bersama dengan anggota DPRD Kepri dari daerah pemilihan Tanjungpinang, Lis Darmansyah, Surya Makmur Nasution, dan Muhammad Sadar, waktu tempuh cuma 5 menit dengan menggunakan speed milik Dinas Perhubungan kota Tanjungpinang.
Baru 2010, masyarakat Tanjunginang bisa ke Dompak dengan menggunakan kendaraan roda dua ataupun roda empat. Itupun jika jembatan selesai dikerjakan. Saat ini pemerintah sedang membangun jembatan utama yang menghubungkan Jalan Wiratno, depan Ramayana dengan Dompak. Panjang jembatan sekitar 900 meter. Diperkirakan Juni 2010, jembatan tersebut bisa selesai dan dibuka untuk umum.
Selain jembatan utama, Pemprov juga membangun jembatan kedua, yang menghubungkan Dompak Darat dengan Dompak Laut. Jembatan ini bisa dilalui dari Stisipol Tanjungpinang. Dari jembatan utama, dari kejauhan sudah terlihat kubah masjid besar Dompak. Pembangunan masjid yang menelan dana Rp105 miliar itu dikerjakan PT Waskita Karya. Perusahaan yang sudah berpengalaman di dunia kontruksi Indonesia.
Jalan menuju masjid juga dibuat lebar hingga 60 meter, dengan dua jalur. Jalan-jalan utama di sana semuanya dibuat lebar. Sayangnya belum diapal. Di pinggir jalan sejumlah pekerja sedang mengerjakan taman-taman kota yang nantinya menambah daya tarik Dompak sebagai kota baru yang disulap jadi pusat pemerintahan. Dulu daerah ini hanya tempat pengusaha menambang bauksit. Entah siapa yang mempunyai ide, sehingga DPRD Kepri menyetujui Dompak laut menjadi pusat pemerintahan Kepri. Sebelumnya Pemprov merencanakan Dompak darat untuk dikembangkan.
Masih banyak bekas bauksit di sana. Hutan bakau yang seharusnya hijau di sekitar Dompak kini sudah mengering. Hanya ranting bakau tersisa. Jangan bayangkan daerah ini hijau. Yang ada tanah menguning. Ya, bekas galian bauksit yang dominan. "Limbah bauksit yang menyebabkan bakau itu mati," kata Ketua Komisi III DPRD Kepri Lis Darmansyah, kemarin.
Masjid yang dibangun provinsi itu berada di atas lahan seluas 7 hektare. Luas bangunan mencapai 1.600 meter per segi. Masjid itu juga dilengkapi dengan menara setinggi 70 meter. Nantinya masjid ini tak hanya digunakan untuk salat semata. Warga yang berkunjung ke masjid bisa menikmati indahnya pemandangan Pulau Bintan. Karena letak bangunan berada di bukit tertinggi di Dompak. Sebelah kiri, kita akan melihat laut lepas dan pulau-pulau kecil yang mengelilingi Bintan. Sebelah kanan masjid, terlihat pemandangan kota Tanjungpinang yang mulai sesak dengan bangunan perumahan.
Maklum, usia Tanjungpinang sudah 200 tahun lebih. Tak heran lagi, kota ini seperti sesak akan bangunan. Rusaknya tata kota, menyebabkan kurang indah untuk dilihat. Pembangunan mendatang memang harus mencari
lahan baru seperti di Dompak.
Masjid yang belum bernama itu akan dilengkapi lift. Di menara, disediakan satu lift. Sedangkan di masjid juga disediakan lift. Hal itu dilakukan untuk memudahkan orang yang cacat menunaikan salat.
Menurut Afrizal, petinggi PT Waskita yang mengerjakan proyek tersebut, masjid nantinya bisa menjadi maskot Kepri. "Bisa menjadi tempat wisata nantinya," kata Afrizal menjelaskan.
Dibandingkan dengan Masjid Raya Batam, masjid di Dompak terlihat lebih besar. Di bawah masjid tersedia bangunan serbaguna yang bisa menampung ribuan orang. Ruangan itu persis di bawah masjid. Ruangan pertemuan itu bisa dikelola untuk pertemuan, pernikahan, dan pusat kajian Islam. Dari penjelasan Afrizal, masjid ini bisa menampung 4.000-an jamaah saat salat.
"Jika satu meter luas digunakan tiga orang, maka luas masjid 1.600 meter bisa menampung 4.000-an jamaah. Di lantai dua juga bisa disediakan untuk salat jika dilantai satu sudah sesak. Dalam masjid memang tidak seperti Masjid Raya Batam yang bebas dari tiang. Bagian tengah masjid Dompak terdiri diperkuat empat tiang utama.
"Desain utamanya masih ada kemiripan dengan masjid Batam," kata Surya Makmur, Sekretaris Komisi I DPRD Kepri menambahkan. "Enaknya di sini pemandangannya bagus."
Pihak kontraktor berjanji, masjid selesai dikerjakan Juni mendatang. Sekarang proses pengerjaannya sudah 60 persen. Bangunan utama masjid sudah berdiri tegak. Rumah Allah itu dikerjakan 120 orang. Mereka berusaha
memasang kubah masjid.
Kontraktor memang dikejar waktu. Masalah utama yang mereka hadapi, banyak pekerja masuk rumah sakit karena serangan wabah malaria. "Tapi kita selalu mencari pekerja baru untuk mengejar waktu yang sudah ditetapkan. Insya Allah Juni, masjid sudah bisa digunakan untuk salat," kata Afrizal. Sayangnya, letak masjid tersebut berjarak ratusan meter dari kantor gubernur dan perkantoran provinsi lainnya. Dari kantor DPRD Kepri lebih dari 1 kilometer.
DPRD pun Pesimisitis Siap Diakhir Jabatan Ismeth
Pembangunan pusat pemerintah di Dompak merupakan proyek prestisius yang dipaksakan. Dimulai tahun 2007 dan berakhir Juni 2010, proyek multiyeas ini menyedot Rp1,9 triliun uang rakyat. Ketika DPRD Kepri meninjau langsung proyek yang sedang dikerjakan itu, rasa pesimistis pun muncul proyek di sana siap tepat waktu.
Gedung Lembaga Adat Melayu (LAM) yang dikerjakan PT Superita saat ini baru membangun pondasi bangunan. Belum berdiri tiang bangunan. Kontraktor baru mengerjakan sekitar 21 persen dari total kontruksi yang ada. Padahal proyek tersebut harus siap dikerjakan Juni mendatang. "Jika tidak siap, maka
kontraktornya bisa diganti," kata Ketua Komisi III DPRD Provinsi Kepulauan Riau Lis Darmansyah, Kamis (31/12), kepada Tanjungpinang Pos, di lokasi bangunan yang menjadi kebanggan adat nantinya itu.
Pihak kontraktor beralasan, lambannya pengerjaan proyek LAM karena sudah lima kali pindah lokasi. Menurut salah satu pekerja, dengan kondisi tersebut menghambat pembangunan. Lagi pula pemerintah baru melaksanakan lelang proyek 2008. Proyek bisa dikerjakan 2009.
Lis mengatakan, jika proyek tersebut tidak siap, maka akan dicari jalan keluarnya. Bisa saja kontraktor yang mengerjakan proyek tersebut diganti dengan kontraktor baru. Ataupun tetap memberikan kesempatan kepada kontraktor, tetapi mereka didenda sesuai dengan perjanjian awal.
"Kita tetap yakin, proyek ini tidak akan siap sesuai jadwal. Kecuali mereka menggunakan jin," kata Lis politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini.
Lagi pula, dilihat dari jumlah pekerja yang mengerjakan bangunan itu tidak sebanding dengan jumlah pekerja yang mengerjakan proyek lainnya di Dompak. Hanya belasan orang yang terlihat bekerja di sana saat Tanjungpinang Pos meninjau lokasi pembangunan. Sedangkan bahan bangunan seperti pasir, batu granit, terlihat masih menumpuk di samping pondasi.
Dalam daftar proyek pembangunan pusat pemerintahan, pembangunan gedung LAM ini ditangani oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kepri. Proyek itu tak masuk dalam pos anggaran Dinas Pekerjaan Umum yang biasanya melaksanakan pembangunan proyek fisik.
Bangunan LAM, merupakan salah satu proyek yang tidak akan selesai tepat waktu. Tak jelas alasan yang dikemukakan kontraktor penyebab lambannya proyek tersebut dikerjakan.
"Seharusnya pemerintah tegas dalam melakukan pengawasan semua proyek. Jangan sampai lengah mengawas. Akibatnya kan bisa fatal. Proyek tak siap. Padahal sudah kita dianggarkan," kata Lis. Gedung LAM termasuk bangunan yang paling dekat dengan kantor Gubernur Kepri.
Dari 10 proyek di Dompak, yang dianggarkan dengan tahun jamak, kantor gubernur termasuk proyek yang paling cepat pengerjaannya. Nilai proyek yang dikerjakan PT Jaya Kontruksi itu sebesar Rp258 miliar. Sekarang rialisasinya 60 persen. Kontraktor juga yakin, Juni bangunan sudah siap dikerjakan. Dari pantauan Tanjungpinang Pos, pekerja sedang melakukan pemasangan kramik warna kecoklatan di lantai dua bangunan yang sudah diatap itu.
Emil Mirza, bagian keselamatan bangunanan mengatakan, pada Mei pengerjaan bangunan sudah tuntas. Kantor Gubernur empat lantai dilengkapi dengan tiga lift. Dua lift untuk umum. Sedangkan satu lift khusus untuk gubernur. Lift tersebut hanya bisa digunakan dari lantai satu ke lantai empat. Hal ini memang diciptakan supaya gubernur terpilih di pilkada Kepri Juni mendatang lebih cepat bergerak.
Lantai empat khusus untuk ruangan gubernur dan wakil. Sedangkan lantai tiga bangunan tersebut untuk sekretariat daerah. Lantai berikutnya untuk asisten dan kepala biro. Sedangkan untuk kepala dinas dan badan sudah disiapkan bangunan tersendiri. Letaknya di samping kantor gubernur. "Semua kepala dinas dan badan berkantor di sana," kata Emil.
Di belakang kantor gubernur dibangun aula yang nantinya dijadikan kawasan pertemuan. Setidaknya ada empat bangunan utama yang mendampingi kantor gubernur.
Menurut Emil, bangunan itu bisa digunakan 2010. Tetapi menurut Surya Makmur, bangunan itu secara kasar memang siap Juni. Tetapi apakah mau pegawai Pemprov pindah dengan kondisi belum tersedianya listrik. Jembatan saja belum ada.
"Saya kira, 2011 baru Pemprov pindah ke Dompak," kata Surya. Kantor Gubernur Kepri, kata Emil, memiliki ciri khusus bernuansa Melayu."Inilah yang membedakan bangunan yang pernah mereka kerjakan di daerah lainnya di Indonesia.
Coremap Bintan yang Gagal
Upaya Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Pesisir
jadi Angan
Bukan hanya di Desa Kawal, Coremap (Coral Reef Rehabilitation and Management Program), atau Program Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang yang mengalami kegagalan. Di Kecamatan Tambelan, berada 210 mil dari Pulau Bintan yang dijadikan kawasan Coremap juga nyaris gagal !
Razali Muhammad, Ketua Lembaga Pengelola Terumbu Karang (LPTK) Desa Hilir, Kecamatan Tambelan, Kabupaten Bintan terus melakukan kontrol terhadap kinerja bengkel dan budidaya ikan kerapu yang diberikan modal oleh Coremap tahun lalu. 2008, Desa Hilir mendapatkan tiga program bantuan Coremap yakni program budidaya ikan kerapu, pemeliharaan penyu, dan usaha perbengkelan.
Setiap program dikelola oleh satu kelompok dengan jumlah 10 orang. Minimal 30 orang sudah terlibat aktif dalam program itu. Besar dana yang dianggarkan mencapai Rp90 juta untuk per program. Sebagai ketua LPTK, dia optimis program itu berhasil. Hanya saja ada masalah pokok yang mengganjalnya, hasil budidaya ikan terbentur pemasaran.
Kelompok masyarakat Desa Hilir mendapatkan bantuan seribu lebih bibit ikan kerapu untuk dibudidayakan. Sampai November 2009 bibit kerapu itu berkurang menjadi 800 ekor dengan umur sekitar 8 bulan. Penyebab matinya bibit bermacam-macam. Berat ikan kerapu ini pun pelbagai ukuran. Ada 8- 9 ons. “Kita belum mau menjual karena harga masih murah. Nanti kalau beratnya 1 kilogram dan harga ikan tinggi baru kita jual. Sehingga modal tersebut bisa digulirkan ke kelompok lain,” katanya. Di desa lain, malah sudah menjual, walaupun rugi.
Kalau dijual saat ini, dipastikan rugi. Pasalnya biaya operasional sehari hari sangat besar. Tidak seimbang dengan modal yang diberikan pemerintah.
Razali mengakui, program Coremap jika dilaksanakan dengan baik akan meningkatkan perekonomian warga pesisir. Sayangnya, gairah masyarakat untuk mengikuti program ini tak banyak. Bahkan, ada beberapa kampung anggotanya kelompok tinggal 10 orang. Yang tersisa koordinatornya saja. Kejadian ini terjadi di Desa Batulepuk, Tambelan.
“Diperlukan program tepat sasaran agar warga betah bergabung. Kalau program Coremap ini ditekuni, bukan tidak mungkin, nelayan Tambelan sejahtera. Tapi kalau sekarang ini saya melihat belum optimal karena ikan banyak yang mati.”
Di Tambelan, baru program pemberdayaan masyarakat yang berjalan. Sedangkan program pemeliharaan terumbu karang belum optimal. Menurut dia, setiap kampung sudah ditetapkan kawasan terumbu karang yang dilindungi. Sehingga Nelayan Tambelan yang jumlahnya 65 persen dari jumlah penduduk Tambelan tak diperkenankan mencari ikan di kawasan konservasi.
Khusus Desa Hilir ditetapkan kawasan konservasi di Pulau Wie. Harapannya, dalam masa konservasi, ikan berkembang biak. Ekosistem laut bertambah.
Efeknya ribuan nelayan tak perlu jauh meninggalkan darat untuk mecari ikan karena populasi ikan bertambah.
Yang jadi persoalan, katanya, siapa yang menjaga kawasan konservasi. Inilah jadi kendala suksesnya program. Sebenarnya, masyarakat Tambelan sudah sadar tak menggunakan bahan peledak dan obat bius untuk mengkap ikan setelah program Coremap masuk ke Tambelan. ”Sayang konservasi belum dijaga. Kesannya tak efektif. Masih ada nelayan yang nekad mencari ikan di kawasan yang dilindungi itu,” katanya.
Razali mengharapkan program Coremap bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat Tambelan. Tapi, hingga kini belum menunjukan efek positif. “Kita berusaha agar program ini tak ditutup tahun 2010. Tetapi jika dalam penilaian tim di Tambelan dianggap gagal, maka bisa saja Coremap di Tambelan dihentikan. Tapi kita bekerja keras supaya amanah ini berhasil dan kelompok yang lain mendapatkan dana bergulir,” katanya.
Pesan Razali, agar program ini berhasil, pemerintah mencarikan tempat pemasaran produk yang dihasilkan dari Tambelan seperti kerupuk, rumput laut, dan ikan kerapu. Alasannya, untuk apa masyarakat melakukan usaha budidaya rumput laut, tapi tak ada yang menampung hasilnya. Akhirnya mereka meninggalkan budidaya rumput laut dan kembali menjadi nelayan tradisional yang menangkap ikan berdasarkan naluri.
Di Tanjungpinang, harga rumput laut per kilo mencapai Rp 20 ribu. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepri Lamidi mengatakan usaha rumput laut berpotensi dikembangkan. Salah satu lokasi yang tepat di Tambelan. DKP Kepri memberikan bantuan Rp3 juta per nelayan untuk mengembangkan usaha itu, awal November lalu.
Razali, sudah lama mengusulkan pemerintah mencarikan tempat pemasaran. Tapi belum ada respon. Selama ini, ikan tangkapan nelayan dijual ke tauke yang menampung di Tambelan. Lalu ikan itu dibawa ke Tanjungpinang dan diekspor ke Singapura. Masyarakat banyak terjebak oleh tauke. Apalagi tauke membeli ikan jauh dari harga harapan nelayan.
“Andai di Tambelan ada pabrik pengolahan ikan, maka nelayan pasti sejahtera, Apalagi, di sini dibangun tempat pelelangan ikan.”
Dia menyebutkan, banyak nelayan di Tambelan yang terbelit hutang dengan tengkulak itu. Sehingga berapapun harga yang ditetapkan, nelayan tidak memiliki nilai tawar. Ikan yang mereka cari dengan susah payah terpaksa dijual dengan murah. “Ikan dibeli murah karena tauke monopoli. Masalah Ini yang harusnya dipecahkan pemerintah, baru nelayan sejahtera,” katanya.
Sejak Coremap II diluncurkan di Kecamatan Tambelan setahun lalu, program tersebut sebenarnya mendapatkan tanggapan positif dari warga Tambelan yang berjumlah 5.000 jiwa. Wan Topan, tokoh pemuda Desa Batulepuk mengakui Coremap memberikan manfaat terhadap peningkatan perekonomian masyarakat Tambelan yang kebanyakan nelayan.
Cuma belum ada indikator yang jelas, ukuran keberhasilan program yang sedang mendapatkan perhatian dunia itu. Menurut Wan Topan, program Coremap yang memberikan nilai tambah perekonomian masyarakat Tambelan yakni program budi daya. Sedangkan program konservasi terumbu karang tak maksimal dilaksanakan. Padahal, keberhasilan
Coremap pada program konservasi terumbu karang.
"Ada aggapan bantuan yang diberikan pemerintah masih dianggap pemberian sehingga tak perlu dikembalikan. Bantuan tersebut belum dianggap sebagai sarana untuk perbaikan perekonomian. Hal ini yang menyebabkan program tersebut jalan di tempat," kata Wan Topan yang sering mengikuti pelatihan Coremap utusan Tambelan di Tanjungpinang.
Bupati Bintan Ansar Ahmad mengingatkan agar program ini berhasil, maka kelompok kerja masyarakat yang sudah diberikan bantuan oleh pemerintah bekerja maksimal.
Sedangkan menurut Ketua Kelompok Pengawasan Masyarakat, Desa Hilir, Syamsudin, Coremap sempat tersendat beberapa tahun. Banyak aset Coremap di Tambelan kurang bermanfaat. Kebangkitan Coremap di Tambelan, ditandai dengan munculnya kelompok-kelompok masyarakat yang diberikan bantuan dari Pemda Bintan untuk memulai usaha setahun yang lalu. Di Desa Hilir misalnya, saat ini program tersebut belum bisa sukses. Karena masih dalam proses.
“Pola pikir nelayan sekarang sedikit berubah tak lagi menangkap ikan dengan bahan peledak.
Pada akhirnya program Coremap yang diharapkan ini berakhir dengan tercipta masyarakat pesisir mencapai keseimbangan antara lingkungan hidup dan kesejahteraan mereka tampaknya belum terwujud. Perkerjaan rumah Coremap masih panjang agar masyarakat Tambelan pesisir tak lagi terasing dari pembangunan terumbu karang, dan ekosistem terkait dapat dilestarikan. ***
jadi Angan
Bukan hanya di Desa Kawal, Coremap (Coral Reef Rehabilitation and Management Program), atau Program Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang yang mengalami kegagalan. Di Kecamatan Tambelan, berada 210 mil dari Pulau Bintan yang dijadikan kawasan Coremap juga nyaris gagal !
Razali Muhammad, Ketua Lembaga Pengelola Terumbu Karang (LPTK) Desa Hilir, Kecamatan Tambelan, Kabupaten Bintan terus melakukan kontrol terhadap kinerja bengkel dan budidaya ikan kerapu yang diberikan modal oleh Coremap tahun lalu. 2008, Desa Hilir mendapatkan tiga program bantuan Coremap yakni program budidaya ikan kerapu, pemeliharaan penyu, dan usaha perbengkelan.
Setiap program dikelola oleh satu kelompok dengan jumlah 10 orang. Minimal 30 orang sudah terlibat aktif dalam program itu. Besar dana yang dianggarkan mencapai Rp90 juta untuk per program. Sebagai ketua LPTK, dia optimis program itu berhasil. Hanya saja ada masalah pokok yang mengganjalnya, hasil budidaya ikan terbentur pemasaran.
Kelompok masyarakat Desa Hilir mendapatkan bantuan seribu lebih bibit ikan kerapu untuk dibudidayakan. Sampai November 2009 bibit kerapu itu berkurang menjadi 800 ekor dengan umur sekitar 8 bulan. Penyebab matinya bibit bermacam-macam. Berat ikan kerapu ini pun pelbagai ukuran. Ada 8- 9 ons. “Kita belum mau menjual karena harga masih murah. Nanti kalau beratnya 1 kilogram dan harga ikan tinggi baru kita jual. Sehingga modal tersebut bisa digulirkan ke kelompok lain,” katanya. Di desa lain, malah sudah menjual, walaupun rugi.
Kalau dijual saat ini, dipastikan rugi. Pasalnya biaya operasional sehari hari sangat besar. Tidak seimbang dengan modal yang diberikan pemerintah.
Razali mengakui, program Coremap jika dilaksanakan dengan baik akan meningkatkan perekonomian warga pesisir. Sayangnya, gairah masyarakat untuk mengikuti program ini tak banyak. Bahkan, ada beberapa kampung anggotanya kelompok tinggal 10 orang. Yang tersisa koordinatornya saja. Kejadian ini terjadi di Desa Batulepuk, Tambelan.
“Diperlukan program tepat sasaran agar warga betah bergabung. Kalau program Coremap ini ditekuni, bukan tidak mungkin, nelayan Tambelan sejahtera. Tapi kalau sekarang ini saya melihat belum optimal karena ikan banyak yang mati.”
Di Tambelan, baru program pemberdayaan masyarakat yang berjalan. Sedangkan program pemeliharaan terumbu karang belum optimal. Menurut dia, setiap kampung sudah ditetapkan kawasan terumbu karang yang dilindungi. Sehingga Nelayan Tambelan yang jumlahnya 65 persen dari jumlah penduduk Tambelan tak diperkenankan mencari ikan di kawasan konservasi.
Khusus Desa Hilir ditetapkan kawasan konservasi di Pulau Wie. Harapannya, dalam masa konservasi, ikan berkembang biak. Ekosistem laut bertambah.
Efeknya ribuan nelayan tak perlu jauh meninggalkan darat untuk mecari ikan karena populasi ikan bertambah.
Yang jadi persoalan, katanya, siapa yang menjaga kawasan konservasi. Inilah jadi kendala suksesnya program. Sebenarnya, masyarakat Tambelan sudah sadar tak menggunakan bahan peledak dan obat bius untuk mengkap ikan setelah program Coremap masuk ke Tambelan. ”Sayang konservasi belum dijaga. Kesannya tak efektif. Masih ada nelayan yang nekad mencari ikan di kawasan yang dilindungi itu,” katanya.
Razali mengharapkan program Coremap bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat Tambelan. Tapi, hingga kini belum menunjukan efek positif. “Kita berusaha agar program ini tak ditutup tahun 2010. Tetapi jika dalam penilaian tim di Tambelan dianggap gagal, maka bisa saja Coremap di Tambelan dihentikan. Tapi kita bekerja keras supaya amanah ini berhasil dan kelompok yang lain mendapatkan dana bergulir,” katanya.
Pesan Razali, agar program ini berhasil, pemerintah mencarikan tempat pemasaran produk yang dihasilkan dari Tambelan seperti kerupuk, rumput laut, dan ikan kerapu. Alasannya, untuk apa masyarakat melakukan usaha budidaya rumput laut, tapi tak ada yang menampung hasilnya. Akhirnya mereka meninggalkan budidaya rumput laut dan kembali menjadi nelayan tradisional yang menangkap ikan berdasarkan naluri.
Di Tanjungpinang, harga rumput laut per kilo mencapai Rp 20 ribu. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepri Lamidi mengatakan usaha rumput laut berpotensi dikembangkan. Salah satu lokasi yang tepat di Tambelan. DKP Kepri memberikan bantuan Rp3 juta per nelayan untuk mengembangkan usaha itu, awal November lalu.
Razali, sudah lama mengusulkan pemerintah mencarikan tempat pemasaran. Tapi belum ada respon. Selama ini, ikan tangkapan nelayan dijual ke tauke yang menampung di Tambelan. Lalu ikan itu dibawa ke Tanjungpinang dan diekspor ke Singapura. Masyarakat banyak terjebak oleh tauke. Apalagi tauke membeli ikan jauh dari harga harapan nelayan.
“Andai di Tambelan ada pabrik pengolahan ikan, maka nelayan pasti sejahtera, Apalagi, di sini dibangun tempat pelelangan ikan.”
Dia menyebutkan, banyak nelayan di Tambelan yang terbelit hutang dengan tengkulak itu. Sehingga berapapun harga yang ditetapkan, nelayan tidak memiliki nilai tawar. Ikan yang mereka cari dengan susah payah terpaksa dijual dengan murah. “Ikan dibeli murah karena tauke monopoli. Masalah Ini yang harusnya dipecahkan pemerintah, baru nelayan sejahtera,” katanya.
Sejak Coremap II diluncurkan di Kecamatan Tambelan setahun lalu, program tersebut sebenarnya mendapatkan tanggapan positif dari warga Tambelan yang berjumlah 5.000 jiwa. Wan Topan, tokoh pemuda Desa Batulepuk mengakui Coremap memberikan manfaat terhadap peningkatan perekonomian masyarakat Tambelan yang kebanyakan nelayan.
Cuma belum ada indikator yang jelas, ukuran keberhasilan program yang sedang mendapatkan perhatian dunia itu. Menurut Wan Topan, program Coremap yang memberikan nilai tambah perekonomian masyarakat Tambelan yakni program budi daya. Sedangkan program konservasi terumbu karang tak maksimal dilaksanakan. Padahal, keberhasilan
Coremap pada program konservasi terumbu karang.
"Ada aggapan bantuan yang diberikan pemerintah masih dianggap pemberian sehingga tak perlu dikembalikan. Bantuan tersebut belum dianggap sebagai sarana untuk perbaikan perekonomian. Hal ini yang menyebabkan program tersebut jalan di tempat," kata Wan Topan yang sering mengikuti pelatihan Coremap utusan Tambelan di Tanjungpinang.
Bupati Bintan Ansar Ahmad mengingatkan agar program ini berhasil, maka kelompok kerja masyarakat yang sudah diberikan bantuan oleh pemerintah bekerja maksimal.
Sedangkan menurut Ketua Kelompok Pengawasan Masyarakat, Desa Hilir, Syamsudin, Coremap sempat tersendat beberapa tahun. Banyak aset Coremap di Tambelan kurang bermanfaat. Kebangkitan Coremap di Tambelan, ditandai dengan munculnya kelompok-kelompok masyarakat yang diberikan bantuan dari Pemda Bintan untuk memulai usaha setahun yang lalu. Di Desa Hilir misalnya, saat ini program tersebut belum bisa sukses. Karena masih dalam proses.
“Pola pikir nelayan sekarang sedikit berubah tak lagi menangkap ikan dengan bahan peledak.
Pada akhirnya program Coremap yang diharapkan ini berakhir dengan tercipta masyarakat pesisir mencapai keseimbangan antara lingkungan hidup dan kesejahteraan mereka tampaknya belum terwujud. Perkerjaan rumah Coremap masih panjang agar masyarakat Tambelan pesisir tak lagi terasing dari pembangunan terumbu karang, dan ekosistem terkait dapat dilestarikan. ***
Ketika Penerimaan CPNS Jadi Idola Masyarakat
Ingin Merubah Nasib, Menapaki Masa Tua dengan Tenang
Terik panas matahari tak menyurutkan langkah Yenny, 25, memandang papan pengumuman formasi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di lingkungan Pemerintahan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), di halaman kantor Pos Tanjungpinang, Km3. Butiran keringatnya terlihat menetes ke lantai. Sesekali dia mengusap wajahnya dengan menggunakan tisu warna putih. Jika lulus seleksi administrasi tahun ini, sudah dua kali dia mengikuti tes menjadi CPNS setelah diwisuda program sarjana Sebtember 2007.
"Saya ingin merubah nasib, mudah mudahan lulus jadi PNS," kata-kata itu meluncur manis dari bibir Yenny yang sedikit basah dengan olesan lipstik tipis ketika berjumpa dengan Tanjungpinang Pos di kantor Pos Tanjungpinang, kemarin.
Ya, mungkin itulah motivasi ribuan masyarakat di Kepri yang akan mengikuti tes CPNS kabupaten/kota dan provinsi tahun ini. Mereka berdatangan dari pelosok desa. Mulai daerah terpencil seperti dari Kecamatan Tambelan yang jaraknya 210 mil dari Pulau Bintan sampai dari Tanah Jawa pun akan mengikuti tes yang akan digelar akhir November. Padahal kursi yang diperebutkan jumlahnya atusan, sedangkan jumlah peserta tes mencapai ribuan orang. Tak salah jika ada yang berani memberikan uang sampai ratusan juta jika ada jaminan diterima jadi CPNS.
"Kita harapkan prosesnya transparan," kata lulusan jurusan manajemen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) YKPN Yogyakarta itu, sambil mencatat syarat yang dibutuhkan hingga contoh amplop lamaran.
Sampai dengan Sabtu (7/11), jumlah pelamar untuk di Pemprov Kepri mencapai 576 pelamar. Diperkirakan, untuk Pemprov Kepri akan diikuti ribuan pelamar. Daerah se Kepri, membutuhkan 3.000 CPNS. Tenaga guru, kesehatan, dan tenaga teknis merupakan jurusan formasi yang paling banyak dibutuhkan di tingkat kota. Sedangkan di level provinsi, jumlah tenaga teknis yang paling banyak dibutuhkan. Maklum provinsi ini masih membutuhkan banyak pegawai untuk mengurus masalah teknis.
"Kita membutuhkan banyak tenaga teknis karena pegawai yang ada saat ini masih kurang," ujar Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kepri, Muhammad Nur.
Kemarin, Yenny baru mengantarkan berkas lamarannya. Sebenarnya, Rabu (11/11), berkasnya lamarannya sudah siap untuk dimasukkan ke kantor Pos. Ketika tiba di kantor Pos, dia melihat papan pengumuman di sana. Timbul tanda tanya, ketika melihat pengumuman di kantor Pos. Jabatan yang dia lamar tidak cocok dengan pengumuman. Pengumuman di koran tidak sama dengan formasi yang sedang di baca di kantor Pos. Misalnya, di koran diumumkan, jurusan manajemen diterima 22 orang untuk bidang arsiparis. Padahal di papan pengumuman di kantor Pos , tidak ada jurusan manajemen untuk arsiparis. Yang ada, jurusan manajemen diterima hanya untuk jurusan perecanaan dan evaluasi, serta analisis tata praja.
"Pengumuman di koran itu sepertinya salah. Karena kode arsiparis digabungkan dengan analisis tata praja. Mungkin banyak pelamar yang salah kalau tak membaca pengumuman di kantor Pos. Saya terpaksa menulis ulang lamaran. Kamis baru diantar lagi ke kantor Pos," ujar wanita kulit putih yang masih lajang itu.
Bukan hanya Yenni yang tak beranjak memandang papan pengumuman. Yoyok juga serius melihat papan pengumuman takut berkasnya salah. Kalau tak sesuai dengan kode jurusan dan formasi, bisa-bisa harapan untuk menjadi CPNS tertutup. Lulus administrasi baru mereka bisa mengikuti tes tertulis.
Yenny menambahkan, harapannya berkasnya bisa lolos administrasi. Sehingga masalah sekecil apapun diteliti supaya tidak menyalahi aturan yang sudah ditetapkan. Dari bentuk legalisir dari kampus hingga letak alamat lamaran pun diperhatikan sesuai dengan contoh yang sudah dikeluarkan Pemprov Kepri. Contoh surat lamaran itu dipajang di papan pengumuman kantor Pos.
Mungkin Yenni tak ingin seperti Pramono, salah satu karyawan perbankan di Batam gagal mengikuti tes tahun lalu akibat
berkas legalisir dari kampusnya dianggap tidak sah oleh panitia.
"Saya terpaksa ke Bandung untuk legalisir kembali agar tahun ini bisa lolos administrasi."
Alasan Pramono ikut tes karena ingin aman tak khawatir akan PHK atau kontrak tak diperpanjang. "Apalagi di bank sekarang banyak menggunakan sistem outsourcing. Status kita jadi tak jelas. Padahal umur terus bertambah," ujar Pramono mengikuti tes CPNS.
Yenni sendirinya sudah siaga belajar soal dari buku yang banyak dijual di toko buku. Dari pengalaman, bahan soal biasanya ada yang membahas tentang Kepri dan masalah umum tentang pemerintahan. "
Saya akan fokus belajar psikotes," imbuhnya.
Senada dengan Yenni. Yani, Ibu satu anak itu mengikuti tes untuk membantu keuangan keluarga. Karena pendapatan suaminya yang berkerja di perusahaan tidak mencukupi untuk kebutuhan
keluarga yang kian besar.
Sedangkan menurut Yahya Zailani, warga Km9 Tanjungpinang, tiga orang anaknya akan mengikuti tes tahun ini. Anaknya sudah memasukkan lamaran. Ada yang memasuki dua lamaran di Pemkab Bintan dan di provinsi. Jika lolos keduanya, tentu akan dilihat peluang yang paling besar untuk lolos.
Alasan Yahya menyuruh anaknya mengikuti tes agar anaknya hidup sejahtera bisa memenuhi kebutuhan hidup. Ketiga anak Yahya Zailani memiliki kualifikasi pendidikan yang berbeda. Dua orang sarjana ekonomi lulusan universitas terkemuka di Yogyakarta. Sedangkan satu lagi lulusan Akademi Perawat di Tanjungpinang.
Yahya mengatakan, satu anaknya bekerja di perusahaan, sedangkan dua lagi menjadi pegawai honorer. Menurutnya, jika anaknya sudah menjadi PNS, mereka siap mengarungi hari tua. Tapi yang lebih penting, kata dia, sebagai anak daerah, harusnya mereka bisa menjadi abdi masyarakat dan bisa memberikan sumbangsih pemikiran untuk mengisi pembangunan di daerahnya sendiri.
"Kita prihatin jika anak daerah malah jadi penonton di negeri sendiri. Seperti tahun sebelumnya lulusan CPNS itu diisi oleh dari daerah lain. Padahal tujuan dari pembentukan provinsi ini untuk kesejahteraan masyarakat Kepri," katanya.
Dia menambahkan, dengan menjadi PNS, hari tua anaknya lebih terjamin karena ada pensiun. Sedangkan swasta tidak ada uang pensiun. "Apalagi gaji yang diterima PNS cukup besar, tidak seperti kami dulu. Gaji masih kecil," kata Yahya, yang langsung mengantarkan dua berkas lamaran anaknya ke kantor Pos Tanjungpinang.
Hanya saja, dia khawatir, penerimaan PNS kali ini tidak transparan.
"Jika anak-anak pejabat sudah punya jatah, maka peluang yang tak punya bekingan pun tipis untuk lolos. Semoga penerimaan CPNS tahun ini bersih dan jujur," imbuhnya.
Sejalan dengan Yahya, Huzrin Hood, tokoh utama pembentukan Provinsi Kepri meminta agar pemerintah memperhatikan anak daerah dalam penerimaan CPNS. "Saya mengusulkan, jika nilai mereka sama, maka anak daerahlah yang diutamakan. Jangan orang luar yang diterima sedangkan anak daerah yang memiliki kemampaun malah diabaikan.***
Terik panas matahari tak menyurutkan langkah Yenny, 25, memandang papan pengumuman formasi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di lingkungan Pemerintahan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), di halaman kantor Pos Tanjungpinang, Km3. Butiran keringatnya terlihat menetes ke lantai. Sesekali dia mengusap wajahnya dengan menggunakan tisu warna putih. Jika lulus seleksi administrasi tahun ini, sudah dua kali dia mengikuti tes menjadi CPNS setelah diwisuda program sarjana Sebtember 2007.
"Saya ingin merubah nasib, mudah mudahan lulus jadi PNS," kata-kata itu meluncur manis dari bibir Yenny yang sedikit basah dengan olesan lipstik tipis ketika berjumpa dengan Tanjungpinang Pos di kantor Pos Tanjungpinang, kemarin.
Ya, mungkin itulah motivasi ribuan masyarakat di Kepri yang akan mengikuti tes CPNS kabupaten/kota dan provinsi tahun ini. Mereka berdatangan dari pelosok desa. Mulai daerah terpencil seperti dari Kecamatan Tambelan yang jaraknya 210 mil dari Pulau Bintan sampai dari Tanah Jawa pun akan mengikuti tes yang akan digelar akhir November. Padahal kursi yang diperebutkan jumlahnya atusan, sedangkan jumlah peserta tes mencapai ribuan orang. Tak salah jika ada yang berani memberikan uang sampai ratusan juta jika ada jaminan diterima jadi CPNS.
"Kita harapkan prosesnya transparan," kata lulusan jurusan manajemen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) YKPN Yogyakarta itu, sambil mencatat syarat yang dibutuhkan hingga contoh amplop lamaran.
Sampai dengan Sabtu (7/11), jumlah pelamar untuk di Pemprov Kepri mencapai 576 pelamar. Diperkirakan, untuk Pemprov Kepri akan diikuti ribuan pelamar. Daerah se Kepri, membutuhkan 3.000 CPNS. Tenaga guru, kesehatan, dan tenaga teknis merupakan jurusan formasi yang paling banyak dibutuhkan di tingkat kota. Sedangkan di level provinsi, jumlah tenaga teknis yang paling banyak dibutuhkan. Maklum provinsi ini masih membutuhkan banyak pegawai untuk mengurus masalah teknis.
"Kita membutuhkan banyak tenaga teknis karena pegawai yang ada saat ini masih kurang," ujar Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kepri, Muhammad Nur.
Kemarin, Yenny baru mengantarkan berkas lamarannya. Sebenarnya, Rabu (11/11), berkasnya lamarannya sudah siap untuk dimasukkan ke kantor Pos. Ketika tiba di kantor Pos, dia melihat papan pengumuman di sana. Timbul tanda tanya, ketika melihat pengumuman di kantor Pos. Jabatan yang dia lamar tidak cocok dengan pengumuman. Pengumuman di koran tidak sama dengan formasi yang sedang di baca di kantor Pos. Misalnya, di koran diumumkan, jurusan manajemen diterima 22 orang untuk bidang arsiparis. Padahal di papan pengumuman di kantor Pos , tidak ada jurusan manajemen untuk arsiparis. Yang ada, jurusan manajemen diterima hanya untuk jurusan perecanaan dan evaluasi, serta analisis tata praja.
"Pengumuman di koran itu sepertinya salah. Karena kode arsiparis digabungkan dengan analisis tata praja. Mungkin banyak pelamar yang salah kalau tak membaca pengumuman di kantor Pos. Saya terpaksa menulis ulang lamaran. Kamis baru diantar lagi ke kantor Pos," ujar wanita kulit putih yang masih lajang itu.
Bukan hanya Yenni yang tak beranjak memandang papan pengumuman. Yoyok juga serius melihat papan pengumuman takut berkasnya salah. Kalau tak sesuai dengan kode jurusan dan formasi, bisa-bisa harapan untuk menjadi CPNS tertutup. Lulus administrasi baru mereka bisa mengikuti tes tertulis.
Yenny menambahkan, harapannya berkasnya bisa lolos administrasi. Sehingga masalah sekecil apapun diteliti supaya tidak menyalahi aturan yang sudah ditetapkan. Dari bentuk legalisir dari kampus hingga letak alamat lamaran pun diperhatikan sesuai dengan contoh yang sudah dikeluarkan Pemprov Kepri. Contoh surat lamaran itu dipajang di papan pengumuman kantor Pos.
Mungkin Yenni tak ingin seperti Pramono, salah satu karyawan perbankan di Batam gagal mengikuti tes tahun lalu akibat
berkas legalisir dari kampusnya dianggap tidak sah oleh panitia.
"Saya terpaksa ke Bandung untuk legalisir kembali agar tahun ini bisa lolos administrasi."
Alasan Pramono ikut tes karena ingin aman tak khawatir akan PHK atau kontrak tak diperpanjang. "Apalagi di bank sekarang banyak menggunakan sistem outsourcing. Status kita jadi tak jelas. Padahal umur terus bertambah," ujar Pramono mengikuti tes CPNS.
Yenni sendirinya sudah siaga belajar soal dari buku yang banyak dijual di toko buku. Dari pengalaman, bahan soal biasanya ada yang membahas tentang Kepri dan masalah umum tentang pemerintahan. "
Saya akan fokus belajar psikotes," imbuhnya.
Senada dengan Yenni. Yani, Ibu satu anak itu mengikuti tes untuk membantu keuangan keluarga. Karena pendapatan suaminya yang berkerja di perusahaan tidak mencukupi untuk kebutuhan
keluarga yang kian besar.
Sedangkan menurut Yahya Zailani, warga Km9 Tanjungpinang, tiga orang anaknya akan mengikuti tes tahun ini. Anaknya sudah memasukkan lamaran. Ada yang memasuki dua lamaran di Pemkab Bintan dan di provinsi. Jika lolos keduanya, tentu akan dilihat peluang yang paling besar untuk lolos.
Alasan Yahya menyuruh anaknya mengikuti tes agar anaknya hidup sejahtera bisa memenuhi kebutuhan hidup. Ketiga anak Yahya Zailani memiliki kualifikasi pendidikan yang berbeda. Dua orang sarjana ekonomi lulusan universitas terkemuka di Yogyakarta. Sedangkan satu lagi lulusan Akademi Perawat di Tanjungpinang.
Yahya mengatakan, satu anaknya bekerja di perusahaan, sedangkan dua lagi menjadi pegawai honorer. Menurutnya, jika anaknya sudah menjadi PNS, mereka siap mengarungi hari tua. Tapi yang lebih penting, kata dia, sebagai anak daerah, harusnya mereka bisa menjadi abdi masyarakat dan bisa memberikan sumbangsih pemikiran untuk mengisi pembangunan di daerahnya sendiri.
"Kita prihatin jika anak daerah malah jadi penonton di negeri sendiri. Seperti tahun sebelumnya lulusan CPNS itu diisi oleh dari daerah lain. Padahal tujuan dari pembentukan provinsi ini untuk kesejahteraan masyarakat Kepri," katanya.
Dia menambahkan, dengan menjadi PNS, hari tua anaknya lebih terjamin karena ada pensiun. Sedangkan swasta tidak ada uang pensiun. "Apalagi gaji yang diterima PNS cukup besar, tidak seperti kami dulu. Gaji masih kecil," kata Yahya, yang langsung mengantarkan dua berkas lamaran anaknya ke kantor Pos Tanjungpinang.
Hanya saja, dia khawatir, penerimaan PNS kali ini tidak transparan.
"Jika anak-anak pejabat sudah punya jatah, maka peluang yang tak punya bekingan pun tipis untuk lolos. Semoga penerimaan CPNS tahun ini bersih dan jujur," imbuhnya.
Sejalan dengan Yahya, Huzrin Hood, tokoh utama pembentukan Provinsi Kepri meminta agar pemerintah memperhatikan anak daerah dalam penerimaan CPNS. "Saya mengusulkan, jika nilai mereka sama, maka anak daerahlah yang diutamakan. Jangan orang luar yang diterima sedangkan anak daerah yang memiliki kemampaun malah diabaikan.***
Demi Marwah
Ketua Umum Badan Perjuangan Pembentukan Provinsi Kepulauan Riau (BP3KR) Huzrin Hood menyatakan akan mengikuti pimilihan gubernur Kepulauan Riau yang akan dilaksanakan Juni 2010. Majunya tokoh penting terbentuknya Provinsi Kepri tak lain dan tak bukan untuk menegakkan marwah anak jati Melayu di negeri sendiri yang selama ini terlihat belum terwakilkan maksimal.
Keseriusan Huzrin untuk mencalonkan diri menjadi calon gubernur akan dideklarasikan dalam waktu dekat. Tokoh pejuang BP3KR seperti Muhammad Buang dan dedengkot BP3KR lainnya memberikan dukungan kepada Pemangku Kerajaan Bentan itu. Bukan tanpa alasan mereka memberikan dukungan kepada Huzrin. Dialah bersama tokoh masyarakat berjuang sekuta tenaga menjadikan daerah ini dulunya kabupaten menjadi sebuah provinsi termuda di Indonesia.
Jika Huzrin serius maju mengikuti pilkada gubernur, maka dia berhadapan dengan Gubernur Kepri saat ini Ismeth Abdullah. Itupun jika Ismeth kembali maju untuk periode kedua. Jika Ismeth tak maju, maka Huzrin dipastikan calon terkuat dibandingkan dengan calon lainnya yang belum berani muncul ke permukaan. Sesungguhnya majunya Huzrin dan Ismeth di pilkada Kepri merupakan pertarungan yang seimbang antara perjuang dan penguasa saat ini.
Popularitas Ismeth sebagai kepala daerah diuji dengan ketokohan Huzrin sebagai pejuang yang sudah mendekap di penjara demi memperjuangkan hadirnya provinsi baru di Nusantara. Lantas siapa yang akan mendampingi Huzrin? Partai mana yang akan digunakannya sebagai perahu politik? Huzrin belum menyebutkan secara gamblang siapa yang akan jadi wakilnya untuk merebut kekuasaan. Dan partai mana yang akan dia gunakan pun belum diberitahu. Yang jelas, jikalau mantan bupati Kepri ini tak mendapatkan perahu, maka ia menggunakan jalur independen yang masih bisa mengantarkannya bersaing dengan calon lainnya. Peluang untuk mendapatkan kursi parpol masih terbuka. Bisa saja ia menggunakan jalur Partai Demokrat melalui adiknya kandungnya Husnizar Hood yang juga ketua DPC Demokrat Tanjungpinang.
Huzrin memang tak bingung mencari parpol. Sedangkan Ismeth yang juga Ketua Dewan Pembina Partai Golkar pasti menggunakan partai itu jadi tiket ke Kepri satu. Jauh-jauh hari, salah satu pengurus DPD Golkar Kepri menyatakan Partai Beringin kembali mencalonkan Ismeth sebagai cagub untuk kedua kalinya. Lalu siapa yang akan digunakan Ismeth jadi wakilnya. Apakah masih HM Sani. Sangat logis Ismeth akan mencari wakil yang bisa memecah suara Huzrin di pedesaan. Mungkin Ismeth berpikir dua kali kembali menggunakan Sani. Pasalnya, pilkada lima tahun lalu, Sani yang diharapkan meraup suara di Karimun ternyata gagal. Pasangan Ismeth-Sani waktu itu kalah.
Ismeth yang sudah ngetop di perkotaan tidak terlalu banyak bekerja keras. Nama- nama yang berasal dari melayu yang diharapkan memiliki nilai jual di golongan masyarakat hinterland menjadi pertimbangan Ismeth untuk memecah kantong suara Huzrin.
Bagitu juga Huzrin. Dia kemungkinan besar akan menggunaakan wakil dari Batam. Apalagi Batam sebagai kota penentu pemenang pilkada di Kepri. Dengan jumlah penduduk 915 ribu, dari 1, 8 juta penduduk Kepri, sudah tentu Batam yang paling strategis untuk dikuasai setelah Pulau Bintan. Untuk itu, Huzrin akan memilih wakilnya dari Batam dengan harapan bisa meraup suara menandingi Ismeth yang tak asing lagi di Batam.
Peta dua kubu sebenarnya sudah mulai terlihat dari pemilu legislatif. Di mana, suara aggota DPD Aida Ismeth, istri Ismeth Abdullah meraup sekitar 125 ribu pemilih. Jumlah ini menurun dibandingkan dengan suara Aida pada pemilu 2004 berjumlah 250 ribu. Sedangkan suara Hardi Hood yang juga adik kandung Huzrin mendapat suara sekitar 36 ribu. Walaupun jauh tertinggal dari Aida, Hardi setidaknya memilik massa yang cukup mumpuni. Bisa saja, suara Hardi adalah perwakilan dari suara Huzrin. Sedangkan suara Aida, representasi suara Ismeth di pilkada nanti.
Lantas, apakah Ismeth bisa menang melawan Huzrin? Belum tentu. Bisa jadi, Huzrin diuntungkan dengan figur pejuang provinsi. Ada yang beranggapan, biarkan Huzrin diberikan waktu untuk memimpin Kepri yang juga hasil perjuangan dia bersama dengan kawan-kawan. Huzrin juga bisa menjual isu putra daerah harus jadi tuan di negeri sendiri. Langkah nekad Ismeth menggganti Kepala PU Ismanulah dengan pegawai Departemen PU
menunjukkan Ismeth tak pro anak daerah bisa menjadi senjata Huzrin untuk meraih pemilih. PIlkada Kepri nanti diperkirakan sekitar lima pasang cagub. Sedangkan pasangan yang bertempur keras antara Ismeth dan Huzrin. Sedangkan pasangan lain bisa jadi boneka untuk memecah suara di antara keduanya.
Figur seperti Nyat Kadir, Asman Abnur, Harry Azhar Azis, Gempur Adnan, Idris Zaini, Ria Saptarika, Soerya Respationo, HM Sani, Nurdin Basirun, Syamsul Bahrum, Ansar Ahmad, Andi Masmiyat, dan Ahmad Dahlan bisa diandalkan untuk menjadi wakil Ismeth dan Huzrin pada pilkada nanti. Tetapi semuanya berpulang kepada pemilih di Kepri. walaupun jumlah penduduk di Kepri
terdiri dari beragam etnis, bukan mustahil negeri Melayu dipimpin anak Melayu sendiri. Kita tidak perlu mengimpor kepala daerah dinas dan pejabat tinggi lainnya dari daerah lain. Kita bisa mencontohkan Gubernur Jakarta dari putra Betawi, walaupun sumber daya di luar Betawi lebih banyak. Bagitu juga di Sumatera Barat, Pulau Sulawesi, Aceh, Bali dan daerah lainnya. Sudah saatnya, anak daerah bangkit untuk mewujudkan pemerintahaan yang bersih dan membawa amanah perjuangan provinsi termuda ini. Ya, semua itu demi marwah.****
Keseriusan Huzrin untuk mencalonkan diri menjadi calon gubernur akan dideklarasikan dalam waktu dekat. Tokoh pejuang BP3KR seperti Muhammad Buang dan dedengkot BP3KR lainnya memberikan dukungan kepada Pemangku Kerajaan Bentan itu. Bukan tanpa alasan mereka memberikan dukungan kepada Huzrin. Dialah bersama tokoh masyarakat berjuang sekuta tenaga menjadikan daerah ini dulunya kabupaten menjadi sebuah provinsi termuda di Indonesia.
Jika Huzrin serius maju mengikuti pilkada gubernur, maka dia berhadapan dengan Gubernur Kepri saat ini Ismeth Abdullah. Itupun jika Ismeth kembali maju untuk periode kedua. Jika Ismeth tak maju, maka Huzrin dipastikan calon terkuat dibandingkan dengan calon lainnya yang belum berani muncul ke permukaan. Sesungguhnya majunya Huzrin dan Ismeth di pilkada Kepri merupakan pertarungan yang seimbang antara perjuang dan penguasa saat ini.
Popularitas Ismeth sebagai kepala daerah diuji dengan ketokohan Huzrin sebagai pejuang yang sudah mendekap di penjara demi memperjuangkan hadirnya provinsi baru di Nusantara. Lantas siapa yang akan mendampingi Huzrin? Partai mana yang akan digunakannya sebagai perahu politik? Huzrin belum menyebutkan secara gamblang siapa yang akan jadi wakilnya untuk merebut kekuasaan. Dan partai mana yang akan dia gunakan pun belum diberitahu. Yang jelas, jikalau mantan bupati Kepri ini tak mendapatkan perahu, maka ia menggunakan jalur independen yang masih bisa mengantarkannya bersaing dengan calon lainnya. Peluang untuk mendapatkan kursi parpol masih terbuka. Bisa saja ia menggunakan jalur Partai Demokrat melalui adiknya kandungnya Husnizar Hood yang juga ketua DPC Demokrat Tanjungpinang.
Huzrin memang tak bingung mencari parpol. Sedangkan Ismeth yang juga Ketua Dewan Pembina Partai Golkar pasti menggunakan partai itu jadi tiket ke Kepri satu. Jauh-jauh hari, salah satu pengurus DPD Golkar Kepri menyatakan Partai Beringin kembali mencalonkan Ismeth sebagai cagub untuk kedua kalinya. Lalu siapa yang akan digunakan Ismeth jadi wakilnya. Apakah masih HM Sani. Sangat logis Ismeth akan mencari wakil yang bisa memecah suara Huzrin di pedesaan. Mungkin Ismeth berpikir dua kali kembali menggunakan Sani. Pasalnya, pilkada lima tahun lalu, Sani yang diharapkan meraup suara di Karimun ternyata gagal. Pasangan Ismeth-Sani waktu itu kalah.
Ismeth yang sudah ngetop di perkotaan tidak terlalu banyak bekerja keras. Nama- nama yang berasal dari melayu yang diharapkan memiliki nilai jual di golongan masyarakat hinterland menjadi pertimbangan Ismeth untuk memecah kantong suara Huzrin.
Bagitu juga Huzrin. Dia kemungkinan besar akan menggunaakan wakil dari Batam. Apalagi Batam sebagai kota penentu pemenang pilkada di Kepri. Dengan jumlah penduduk 915 ribu, dari 1, 8 juta penduduk Kepri, sudah tentu Batam yang paling strategis untuk dikuasai setelah Pulau Bintan. Untuk itu, Huzrin akan memilih wakilnya dari Batam dengan harapan bisa meraup suara menandingi Ismeth yang tak asing lagi di Batam.
Peta dua kubu sebenarnya sudah mulai terlihat dari pemilu legislatif. Di mana, suara aggota DPD Aida Ismeth, istri Ismeth Abdullah meraup sekitar 125 ribu pemilih. Jumlah ini menurun dibandingkan dengan suara Aida pada pemilu 2004 berjumlah 250 ribu. Sedangkan suara Hardi Hood yang juga adik kandung Huzrin mendapat suara sekitar 36 ribu. Walaupun jauh tertinggal dari Aida, Hardi setidaknya memilik massa yang cukup mumpuni. Bisa saja, suara Hardi adalah perwakilan dari suara Huzrin. Sedangkan suara Aida, representasi suara Ismeth di pilkada nanti.
Lantas, apakah Ismeth bisa menang melawan Huzrin? Belum tentu. Bisa jadi, Huzrin diuntungkan dengan figur pejuang provinsi. Ada yang beranggapan, biarkan Huzrin diberikan waktu untuk memimpin Kepri yang juga hasil perjuangan dia bersama dengan kawan-kawan. Huzrin juga bisa menjual isu putra daerah harus jadi tuan di negeri sendiri. Langkah nekad Ismeth menggganti Kepala PU Ismanulah dengan pegawai Departemen PU
menunjukkan Ismeth tak pro anak daerah bisa menjadi senjata Huzrin untuk meraih pemilih. PIlkada Kepri nanti diperkirakan sekitar lima pasang cagub. Sedangkan pasangan yang bertempur keras antara Ismeth dan Huzrin. Sedangkan pasangan lain bisa jadi boneka untuk memecah suara di antara keduanya.
Figur seperti Nyat Kadir, Asman Abnur, Harry Azhar Azis, Gempur Adnan, Idris Zaini, Ria Saptarika, Soerya Respationo, HM Sani, Nurdin Basirun, Syamsul Bahrum, Ansar Ahmad, Andi Masmiyat, dan Ahmad Dahlan bisa diandalkan untuk menjadi wakil Ismeth dan Huzrin pada pilkada nanti. Tetapi semuanya berpulang kepada pemilih di Kepri. walaupun jumlah penduduk di Kepri
terdiri dari beragam etnis, bukan mustahil negeri Melayu dipimpin anak Melayu sendiri. Kita tidak perlu mengimpor kepala daerah dinas dan pejabat tinggi lainnya dari daerah lain. Kita bisa mencontohkan Gubernur Jakarta dari putra Betawi, walaupun sumber daya di luar Betawi lebih banyak. Bagitu juga di Sumatera Barat, Pulau Sulawesi, Aceh, Bali dan daerah lainnya. Sudah saatnya, anak daerah bangkit untuk mewujudkan pemerintahaan yang bersih dan membawa amanah perjuangan provinsi termuda ini. Ya, semua itu demi marwah.****
Melihat Pustaka Islam Pertama di Tanjungpinang
Karena Lengkap, Warga Singapura pun Berburu Buku di Sana
Pustaka Islam Bayan, di Jalan Buguran, Perumnas menjadi salah satu pustaka Islam terbesar di Kepulauan Riau. Pustaka tersebut menyediakan ribuan judul buku yang diterbitkan lebih dari 72 penerbit. Saking lengkapnya akan buku-buku Islam, warga Singapura pun berburu buku Islam di sana. Pustaka Bayan seolah-olah mengembalikan kejayaan Tanjungpinang di dunia sastra Islam.
Hujan yang mengguyur Tanjungpinang, Sabtu (19 lalu, tidak menyurutkan langkah Ruddy Firmansyah, manager program Bayan FM dan Pustaka Bayan menerima kami untuk wawancara mengenai program pustaka Islam yang pertama di Tanjungpinang itu.
"Silakan masuk. Sekarang kita sedang menyiapkan segala perlengkapan sebelum pustaka ini kita buka untuk umum," kata Ruddy meyambut. Di depan pustaka tersebut dua orang pekerja sedang memasang keramik. Nantinya, di teras rumah di Perumnas, Jalan Buguran itulah, pusat dakwah radio dan pustaka Islam digerakkan. Di ruangan depan rumah yang disulap jadi perpustakaan itu, ribuan buku tersusun rapi di rak-rak besar. Ada juga buku yang dibiarkan begitu saja karena belum ada rak buku. Ruangan pustaka berbentuk hurup u. Saat ini, pengelola sedaqng menata teras rumah untuk rak-rak buku. Sehingga warga yang bertamu di sana bisa duduk santai di teras membaca buku.
Ruddy bersama dengan rekannya sedang menyiapkan studio radio dakwah, hingga sistem perpustakaan. Jika perpustakaan buku tersebut sudah siap terpajang, mereka akan mengatur sistem peminjaman buku, jadwal laki-laki dan wanita berkunjung, dan tentunya disertai kajian ilmiah bersama ustad.
"Kan aneh, jika pustaka Islam, tapi pria dan wanita saling bertemu. Sehingga kita buat jadwal khusus untuk hari wanita dan hari pria," kata dia lagi.
Di Pustaka Bayan, saat ini jumlah buku yang tersedia ribuan judul buku yang sudah dikumpulkan sejak lima tahun lalu. Masih ada buku tersisa di Batam. Jika lokasi sudah siap, maka buku-buku di Batam akan dibawa ke Tanjungpinang. Yang jelas, buku yang dipajang di sana sudah disortir sehingga laik baca. Tak ada buku yang dilarang pemerintah ataupun ulama ada di sana.
Mereka memiliki slogan, mengutamakan ilmu. Karena dengan ilmu, bisa melakukan apa saja. Ibadah tanpa ilmu sepertinya percuma. Itulah pentingnya ilmu. "Kan tidak mungkin berenang tanpa mengetahui teknik. Kalau langsung menceburkan diri ke laut, pasti tenggelam," kata Ruddy memberikan analogi.
Perpustakaan Islam ini satu bendera dengan radio Bayan FM, di gelombang 96,0 FM. Radio dan pustaka ini memiliki misi pendidikan dakwah melalui radio dan pustaka. Untuk radio, sekarang masih uji siaran. Jika sudah optimal, maka warga dibelahan dunia manapun bisa mendengarkan radio Bayan melalui internet. Walaupun masih uji, warga Tanjungpinang bisa mendengarkan siaran Hang FM Batam.
Sambil menunggu peresmian pustaka dan, Bayan FM, Ruddy bersama dengan rekannya melakukan kajian ilmu dengan mendatangkan ustad dari luar kota. Mereka sudah melakukan kajian tentang perdukunan, dan teroris. Hal itu sebagai upaya untuk memperkenalkan Bayan kepada warga Tanjungpinang. Setidaknya kajian itu menambah ilmu masyarakat yang masih awam tentang ilmu Islam.
Menurutnya Ruddy, dengan tersedianya buku tentang Islam di pustaka Islam, masyarakat bisa datang ke sana untuk mencari ilmu tentang apa saja. Mulai dari ilmu fikih, jual beli, dan lainnya. Mereka juga menyediakan kipa asli dari pengarang dari Arab Saudi yang masih menggunakan tulisan arab. Biasanya, banyak ustad menggunakan kitab asli dari Arab.
Contoh buku yang tersedia antara lain: kumpulan hadits Bukhari, Muslim, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Abu Daud, Nasa'i, Tirmidzi, Ad Darimi, Addaruqutni.
Kemudian kitap-kitap mashur Iman as Syafi'i seperti Al Umm, Al Risalah, Musnad Imam Syafi'i, Manhaj Aqidah Imam Syafi'i, Musnad Imam Ahmad, tafsir Ibnu Katsir, Al Aisar, Alqurtubi, Aththabari, Fathul baari, Fathul Majid, Fathul Qadir, Al Mughni, Bidayatul Mujtahid, Riyadush Shalihin, Al i'tisham, Al muwatha', Adwaul Bayan, Al lu'lu'wal Marjan, Nailul Authar, Zadul Ma'ad, Subulus Salam, Bulughul Maram. Kemudian tersedia juga fatwa-fatwa terkini ulama Saudi, tentang Aqidah Ahlussunnah Wal jama'ah, Ahkamul Janaiz, dan Sirah Nabawi.
Menurut Ruddy, masalah ibadah terkadang ada yang tidak sesuai dengan ajaran Nabi. Sehingga masalah-masalah tersebut bisa diselesaikan dengan mencari buku-buku rujukan. Selisih tentang apa yang dikatakan salah satu ustad misalnya bisa dicari sumbernya.
Pustaka Bayan menyediakan kitap Al Um, karangan Syafii. Buku tersebut merupakan inti sari pemikiran Syafii yang banyak digunakan di Indonesia. Kitab tersebut terbilang langka. Sebaiknya, kata Ruddy, tak salah kitap Al Um, dijadikan koleksi pribadi sehingga bisa memahami buku tersebut. Kemudian, mereka juga menyediakan kumpulan hadist lemah karangan Nasyaruddin Albani.
Ke depanya, pustaka itu juga melayani jual dan beli. "Siapa yang tertarik memiliki buku setelah berkunjung ke perpustakaan kita layani," kata Ruddy yang memiliki jenggot segenggaman itu.
Menurut Ruddy, ribuan buku-buku yang tersedia saat ini dipesan secara khusus dari daerah Jawa dan Arab Saudi. Ada juga sumbangan dari warga. Walaupun sudah terbilang banyak, Pustaka Bayan tetap mencari buku-buku baru. "Dengan banyaknya jumlah buku, kita tertantang terus menambah judul buku lewat teman-teman dari Jakarta, Solo, Surabaya, dan daerah lainnya," ujarnya.
Yang pasti, buku-buku di Paustaka Bayan tidak terkontaminasi dengan ajaran sesat.
"Tidak sembarang buku yang bisa masuk ke sini. Kita tidak mau menampilkan buku-buku yang lemah hadistnya. Kalau kita menyediakan buku yang lemah hadistnya, maka kita juga bertanggungjawab kepada Allah akibat buku yang kita sediakan menyesatkan umat," imbuhnya.
Buku yang ada di pustaka tersebut tidak ada sumbangan dari pemerintah. "Biarlah pustaka miliki Pemprov Kepri menyediakan buku-buku umum, sedangkan pustaka kita menyediakan buku tentang Islam. Wargakan jadi banyak pilihan. Kita berupaya pustaka ini tempat mencari ilmu untuk warga Tanjungpinang." ***
Pustaka Islam Bayan, di Jalan Buguran, Perumnas menjadi salah satu pustaka Islam terbesar di Kepulauan Riau. Pustaka tersebut menyediakan ribuan judul buku yang diterbitkan lebih dari 72 penerbit. Saking lengkapnya akan buku-buku Islam, warga Singapura pun berburu buku Islam di sana. Pustaka Bayan seolah-olah mengembalikan kejayaan Tanjungpinang di dunia sastra Islam.
Hujan yang mengguyur Tanjungpinang, Sabtu (19 lalu, tidak menyurutkan langkah Ruddy Firmansyah, manager program Bayan FM dan Pustaka Bayan menerima kami untuk wawancara mengenai program pustaka Islam yang pertama di Tanjungpinang itu.
"Silakan masuk. Sekarang kita sedang menyiapkan segala perlengkapan sebelum pustaka ini kita buka untuk umum," kata Ruddy meyambut. Di depan pustaka tersebut dua orang pekerja sedang memasang keramik. Nantinya, di teras rumah di Perumnas, Jalan Buguran itulah, pusat dakwah radio dan pustaka Islam digerakkan. Di ruangan depan rumah yang disulap jadi perpustakaan itu, ribuan buku tersusun rapi di rak-rak besar. Ada juga buku yang dibiarkan begitu saja karena belum ada rak buku. Ruangan pustaka berbentuk hurup u. Saat ini, pengelola sedaqng menata teras rumah untuk rak-rak buku. Sehingga warga yang bertamu di sana bisa duduk santai di teras membaca buku.
Ruddy bersama dengan rekannya sedang menyiapkan studio radio dakwah, hingga sistem perpustakaan. Jika perpustakaan buku tersebut sudah siap terpajang, mereka akan mengatur sistem peminjaman buku, jadwal laki-laki dan wanita berkunjung, dan tentunya disertai kajian ilmiah bersama ustad.
"Kan aneh, jika pustaka Islam, tapi pria dan wanita saling bertemu. Sehingga kita buat jadwal khusus untuk hari wanita dan hari pria," kata dia lagi.
Di Pustaka Bayan, saat ini jumlah buku yang tersedia ribuan judul buku yang sudah dikumpulkan sejak lima tahun lalu. Masih ada buku tersisa di Batam. Jika lokasi sudah siap, maka buku-buku di Batam akan dibawa ke Tanjungpinang. Yang jelas, buku yang dipajang di sana sudah disortir sehingga laik baca. Tak ada buku yang dilarang pemerintah ataupun ulama ada di sana.
Mereka memiliki slogan, mengutamakan ilmu. Karena dengan ilmu, bisa melakukan apa saja. Ibadah tanpa ilmu sepertinya percuma. Itulah pentingnya ilmu. "Kan tidak mungkin berenang tanpa mengetahui teknik. Kalau langsung menceburkan diri ke laut, pasti tenggelam," kata Ruddy memberikan analogi.
Perpustakaan Islam ini satu bendera dengan radio Bayan FM, di gelombang 96,0 FM. Radio dan pustaka ini memiliki misi pendidikan dakwah melalui radio dan pustaka. Untuk radio, sekarang masih uji siaran. Jika sudah optimal, maka warga dibelahan dunia manapun bisa mendengarkan radio Bayan melalui internet. Walaupun masih uji, warga Tanjungpinang bisa mendengarkan siaran Hang FM Batam.
Sambil menunggu peresmian pustaka dan, Bayan FM, Ruddy bersama dengan rekannya melakukan kajian ilmu dengan mendatangkan ustad dari luar kota. Mereka sudah melakukan kajian tentang perdukunan, dan teroris. Hal itu sebagai upaya untuk memperkenalkan Bayan kepada warga Tanjungpinang. Setidaknya kajian itu menambah ilmu masyarakat yang masih awam tentang ilmu Islam.
Menurutnya Ruddy, dengan tersedianya buku tentang Islam di pustaka Islam, masyarakat bisa datang ke sana untuk mencari ilmu tentang apa saja. Mulai dari ilmu fikih, jual beli, dan lainnya. Mereka juga menyediakan kipa asli dari pengarang dari Arab Saudi yang masih menggunakan tulisan arab. Biasanya, banyak ustad menggunakan kitab asli dari Arab.
Contoh buku yang tersedia antara lain: kumpulan hadits Bukhari, Muslim, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Abu Daud, Nasa'i, Tirmidzi, Ad Darimi, Addaruqutni.
Kemudian kitap-kitap mashur Iman as Syafi'i seperti Al Umm, Al Risalah, Musnad Imam Syafi'i, Manhaj Aqidah Imam Syafi'i, Musnad Imam Ahmad, tafsir Ibnu Katsir, Al Aisar, Alqurtubi, Aththabari, Fathul baari, Fathul Majid, Fathul Qadir, Al Mughni, Bidayatul Mujtahid, Riyadush Shalihin, Al i'tisham, Al muwatha', Adwaul Bayan, Al lu'lu'wal Marjan, Nailul Authar, Zadul Ma'ad, Subulus Salam, Bulughul Maram. Kemudian tersedia juga fatwa-fatwa terkini ulama Saudi, tentang Aqidah Ahlussunnah Wal jama'ah, Ahkamul Janaiz, dan Sirah Nabawi.
Menurut Ruddy, masalah ibadah terkadang ada yang tidak sesuai dengan ajaran Nabi. Sehingga masalah-masalah tersebut bisa diselesaikan dengan mencari buku-buku rujukan. Selisih tentang apa yang dikatakan salah satu ustad misalnya bisa dicari sumbernya.
Pustaka Bayan menyediakan kitap Al Um, karangan Syafii. Buku tersebut merupakan inti sari pemikiran Syafii yang banyak digunakan di Indonesia. Kitab tersebut terbilang langka. Sebaiknya, kata Ruddy, tak salah kitap Al Um, dijadikan koleksi pribadi sehingga bisa memahami buku tersebut. Kemudian, mereka juga menyediakan kumpulan hadist lemah karangan Nasyaruddin Albani.
Ke depanya, pustaka itu juga melayani jual dan beli. "Siapa yang tertarik memiliki buku setelah berkunjung ke perpustakaan kita layani," kata Ruddy yang memiliki jenggot segenggaman itu.
Menurut Ruddy, ribuan buku-buku yang tersedia saat ini dipesan secara khusus dari daerah Jawa dan Arab Saudi. Ada juga sumbangan dari warga. Walaupun sudah terbilang banyak, Pustaka Bayan tetap mencari buku-buku baru. "Dengan banyaknya jumlah buku, kita tertantang terus menambah judul buku lewat teman-teman dari Jakarta, Solo, Surabaya, dan daerah lainnya," ujarnya.
Yang pasti, buku-buku di Paustaka Bayan tidak terkontaminasi dengan ajaran sesat.
"Tidak sembarang buku yang bisa masuk ke sini. Kita tidak mau menampilkan buku-buku yang lemah hadistnya. Kalau kita menyediakan buku yang lemah hadistnya, maka kita juga bertanggungjawab kepada Allah akibat buku yang kita sediakan menyesatkan umat," imbuhnya.
Buku yang ada di pustaka tersebut tidak ada sumbangan dari pemerintah. "Biarlah pustaka miliki Pemprov Kepri menyediakan buku-buku umum, sedangkan pustaka kita menyediakan buku tentang Islam. Wargakan jadi banyak pilihan. Kita berupaya pustaka ini tempat mencari ilmu untuk warga Tanjungpinang." ***
Rabu, 29 April 2009
Penantian Itu
Malam yang hening dengan hiasan kilauan gemerlap bintang jadi saksi bisu. Di bantal yang lusuh, kamar yang dingin oleh semilir angin malam, air mata mengalir deras. Aku galau. Badan Ku gemetar. Pikiranku kalut. Aku bimbang. Kenapa kehadirannya Aku tak ada di samping orang yang Aku cintai. Mengapa Aku membiarkan dia sendiri saat perjuangan pertaruhan hidup dan mati.
Tak ada perasaan apapun Minggu (5/4/09). Tanpa beban Aku meninggalkan rumah untuk kembali bekerja setelah menghabiskan libur akhir pekan di Tanjungpinang. Kembali ke Batam memang selalu diselimuti kesedihan. Tetapi itulah perjuangan kecil yang dilalui untuk sementara waktu. Dia sudah mengingatkan supaya jangan pulang hari itu.
Tetapi Aku merasa bersalah jika lari tanggung jawab sebagai karyawan yang harus memenuhi kewajiban setiap hari kerja. Sebagai suami Aku juga harus menjaga perasaan istriku agar selalu bahagia.
Dari rumah, Aku menggunakan angkutan umum pergi ke pelabuhan Sri Bintan Pura yang agak nyebelin karena tak jarang, penerangan di sana gelap. Istriku tak sampai di pintu mengantar seperti biasanya. Dia hanya di kamar menahan berat beban anak yang dikandungnya selama sembilan bulan. Dan tentunya rasa sedih yang hinggap di pikirannya. Setelah 20 menit menempuh perjalanan, sampailah di pelabuhan.
Waktu itu, aku menggunakan feri Mutiara Emas yang terkenal bagus. Sampai di kapal, ponselku berbunyi, tanda ada SMS. Ketika dibuka, dari istri." Bang, jangan balik. Pinggang adek sakit ni."
Aku tahu, kalau tulang belakang terasa sakit, salah satu pertanda wanita yang hamil akan melahirkan. Tetapi berharap semoga dia belum melahirkan saat Aku ada di Batam. Kapal pun berangkat. Sampai di Batam, ponselku kembali berdering. Ternyata SMS darinya. "Bang, pakaian anak kite sudah adek masukkan di tas. Tinggal dibawa ke tempat dokter. Nanti biar tak repot."
Aku hanya mengiyakan apa yang dia tulis. Sekali lagi, Aku tak yakin kalau itu tanda - tanda yang dialami seorang ibu dari sesoarang wanita yang mengandung buah cinta kami.
Pukul 23.00, baru Aku dikejutkan dengan telepon darinya. Di balik ponsel itu terdengar suara yang agak lemas," Bang, air ketuban adek sudah keluar.". "Adek ke Klinik Pamedan sekarang dengan Apak. Pakai mobil pak Edy."
Saat itu, aku langsung lemas. Air mataku menetes membasahi kelopak mata. Bagaimanapun, sebagai seorang suami aku harus mendampinginya saat dia berjuang melahirkan anak kami. Aku merasa bersalah seumur hidup jika waktu itu terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Aku langsung sholat dan berdoa kepada Allah semoga kedua orang yang aku cintai selamat. Ayahanda ku minta, ponsel ku tak usah dimatikan.
Apalagi, air ketuban istri sudah pecah. Dan dia harus diimpus supaya kuat. Malam itu Maryani ditemani ayahku, pamanku dan istrinya yang menjaga Maryani.Malam yang membuat aku termenung dan galau. Aku minta dia mengambil kamar VIP. Aku sudah menyiapkan anggaran khusus untuk dia melahirkan. Di ruangan yang ber AC itulah dia terbaring lemas menanti waktu melahirkan. Sekitar pukul 12.00 baru terjadi buka satu. Di Batam, aku gelisah.
Selesai shalat, aku ke warnet untuk menghilangkan kepanikan yang tiada tara. Belum aku alami kejadian seperti itu. Harry Azhar Azis waktu itu mengatakan berdoalah, permintaan yang tulus akan dikabulkan Tuhan.
Arah jarum pendek jam dinding di warnet di Green Land menunjukkan pukul 02.00. Akupun pulang ke rumah disertai perasaan harap harap cemas. Sampai di kos pun, kelopak mata ini sulit untuk dipejamkan. Aku selalu terbayang wajah istriku yang agak bulat itu. Di atas kasur yang tipis itulah lagi lagi air mataku kembali menetes. Malam itu aku merasa bersalah sebagai suami yang tidak menemani saat dia berjuang sendirian untuk melahirkan hasil buah cinta kami.
Aku tak sabar menunggu pagi untuk segera ke Tanjungpinang. Pukul 05.00, aku langsung mandi dan shalat subuh. Selesai itu, aku dapat telpon dari bapak, kalau dia sudah buka 7. Artinya tak lama lagi akan melahirkan.
Pajar yang masih bersembunyi itu, aku menghidupkan motor Thunder menuju Pelabuhan Telaga Punggur. Sampai di sana sekitar pukul 06.00. Sarana transportasi pertama cuma speed. Aku pun menggunakan speed. Satu jam waktu yang diperlukan untuk sampai di Tanjungpinang. Duduk di bagian paling belakang, kembali akan terbayang wajahnya. Diperkirakan pukul 07.30 baru aku sampai di Tanjungpinang. Setelah speed berjalan 30 menit dari Punggur, mendadak kaptennya menurunkan kecepatan.
Karena ada puluhan orang sedang berkumpul tengah laut mencari mayat yang hilang saat mancing.Setelah melewati rombongan suku laut tersebut, speed yang saya tumpangi kembali melaju dengan kecepatan normal. Ketika berada di laut Lobam, telepon dari ayah ku masuk ke ponsel.
"Nak, Alhamdulillah Yani lah melahirkan. Keduanya selamat."
Alangkah bahagianya aku saat itu. Umurku yang baru memasuki 26 tahun sudah jadi ayah. Bapakku juga sudah jadi kakek.Rasanya tak sabar lagi untuk melihat wajahnya mirip siapa. Tak lama kemudian ibu ku dari Tambelan, Kabupaten Bintan menelpon. Selamat ya nak.
Sekarang jadi ayah. Bagitu juga dari adek ku di kampung. Sampai di Pelabuhan Sri Bintan Pura, saya berkegas mencari ojek menuju ke Poliklinik Pamedan yang merupakan klinik terbaik yang ada di Tanjungpinang.
Sampai di klinik, aku sempat salah ruangan. Mereka berada di lantai dasar. Sedangkan aku mencari di lantai dua. Setelah bertanya ke suster, baru aku tahu ruangan yang jadi sejarah lahirnya Addaruqutni Patria tepatnya pukul 07 tanggal 6 April, 2009, Senin.
Assamualaikum. Saat aku membuka pintu, terlihat di atas kotak kaca persegi empat itu, bayi laki laki yang diselimuti kain. Panjangnya 52 centimeter, beratnya 3.3 kg.
Senyum merekah dari kedua bibir istriku yang terbaring lemas di ranjang. Tangannya masih ada impus. Mataku tertuju wajah bayi yang ada di dalam kotak kaca yang diterangi dua lampu warna kuning. Lampu itu untuk memanaskan suhu agar bayi tak kedinginan. Tanpa basa basi- aku langsung mengendong anakku untuk pertama kalinya. Akupun langsung mengazankan di telingga bagian kanan.
Ya, satu jam paska kelahirannya aku baru datang. Dari keterangan tante Sri, Maryani melahirkan dengan mudah. Tak ditemukan kesulitan yang berarti. Selama dia hamil, lebih tiga kali dia khatam membaca Quran. Beberapa jam sebelum melahirkan Maryani tamat membaca Quran.
Sehari sebelum melahirkan, dia masih menyempatkan kuliah di STAI Tanjungpinang. Hampir tiga minggu kelahirannya, Qutni mulai berkembang. Berat badannya sudah naik. Mudah mudahan kamu jadi mutiara ayah dan ibu mu nak. Kau jadi harapan kami di masa yang akan datang. AMIN ya Allah. (robby patria)
Tak ada perasaan apapun Minggu (5/4/09). Tanpa beban Aku meninggalkan rumah untuk kembali bekerja setelah menghabiskan libur akhir pekan di Tanjungpinang. Kembali ke Batam memang selalu diselimuti kesedihan. Tetapi itulah perjuangan kecil yang dilalui untuk sementara waktu. Dia sudah mengingatkan supaya jangan pulang hari itu.
Tetapi Aku merasa bersalah jika lari tanggung jawab sebagai karyawan yang harus memenuhi kewajiban setiap hari kerja. Sebagai suami Aku juga harus menjaga perasaan istriku agar selalu bahagia.
Dari rumah, Aku menggunakan angkutan umum pergi ke pelabuhan Sri Bintan Pura yang agak nyebelin karena tak jarang, penerangan di sana gelap. Istriku tak sampai di pintu mengantar seperti biasanya. Dia hanya di kamar menahan berat beban anak yang dikandungnya selama sembilan bulan. Dan tentunya rasa sedih yang hinggap di pikirannya. Setelah 20 menit menempuh perjalanan, sampailah di pelabuhan.
Waktu itu, aku menggunakan feri Mutiara Emas yang terkenal bagus. Sampai di kapal, ponselku berbunyi, tanda ada SMS. Ketika dibuka, dari istri." Bang, jangan balik. Pinggang adek sakit ni."
Aku tahu, kalau tulang belakang terasa sakit, salah satu pertanda wanita yang hamil akan melahirkan. Tetapi berharap semoga dia belum melahirkan saat Aku ada di Batam. Kapal pun berangkat. Sampai di Batam, ponselku kembali berdering. Ternyata SMS darinya. "Bang, pakaian anak kite sudah adek masukkan di tas. Tinggal dibawa ke tempat dokter. Nanti biar tak repot."
Aku hanya mengiyakan apa yang dia tulis. Sekali lagi, Aku tak yakin kalau itu tanda - tanda yang dialami seorang ibu dari sesoarang wanita yang mengandung buah cinta kami.
Pukul 23.00, baru Aku dikejutkan dengan telepon darinya. Di balik ponsel itu terdengar suara yang agak lemas," Bang, air ketuban adek sudah keluar.". "Adek ke Klinik Pamedan sekarang dengan Apak. Pakai mobil pak Edy."
Saat itu, aku langsung lemas. Air mataku menetes membasahi kelopak mata. Bagaimanapun, sebagai seorang suami aku harus mendampinginya saat dia berjuang melahirkan anak kami. Aku merasa bersalah seumur hidup jika waktu itu terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Aku langsung sholat dan berdoa kepada Allah semoga kedua orang yang aku cintai selamat. Ayahanda ku minta, ponsel ku tak usah dimatikan.
Apalagi, air ketuban istri sudah pecah. Dan dia harus diimpus supaya kuat. Malam itu Maryani ditemani ayahku, pamanku dan istrinya yang menjaga Maryani.Malam yang membuat aku termenung dan galau. Aku minta dia mengambil kamar VIP. Aku sudah menyiapkan anggaran khusus untuk dia melahirkan. Di ruangan yang ber AC itulah dia terbaring lemas menanti waktu melahirkan. Sekitar pukul 12.00 baru terjadi buka satu. Di Batam, aku gelisah.
Selesai shalat, aku ke warnet untuk menghilangkan kepanikan yang tiada tara. Belum aku alami kejadian seperti itu. Harry Azhar Azis waktu itu mengatakan berdoalah, permintaan yang tulus akan dikabulkan Tuhan.
Arah jarum pendek jam dinding di warnet di Green Land menunjukkan pukul 02.00. Akupun pulang ke rumah disertai perasaan harap harap cemas. Sampai di kos pun, kelopak mata ini sulit untuk dipejamkan. Aku selalu terbayang wajah istriku yang agak bulat itu. Di atas kasur yang tipis itulah lagi lagi air mataku kembali menetes. Malam itu aku merasa bersalah sebagai suami yang tidak menemani saat dia berjuang sendirian untuk melahirkan hasil buah cinta kami.
Aku tak sabar menunggu pagi untuk segera ke Tanjungpinang. Pukul 05.00, aku langsung mandi dan shalat subuh. Selesai itu, aku dapat telpon dari bapak, kalau dia sudah buka 7. Artinya tak lama lagi akan melahirkan.
Pajar yang masih bersembunyi itu, aku menghidupkan motor Thunder menuju Pelabuhan Telaga Punggur. Sampai di sana sekitar pukul 06.00. Sarana transportasi pertama cuma speed. Aku pun menggunakan speed. Satu jam waktu yang diperlukan untuk sampai di Tanjungpinang. Duduk di bagian paling belakang, kembali akan terbayang wajahnya. Diperkirakan pukul 07.30 baru aku sampai di Tanjungpinang. Setelah speed berjalan 30 menit dari Punggur, mendadak kaptennya menurunkan kecepatan.
Karena ada puluhan orang sedang berkumpul tengah laut mencari mayat yang hilang saat mancing.Setelah melewati rombongan suku laut tersebut, speed yang saya tumpangi kembali melaju dengan kecepatan normal. Ketika berada di laut Lobam, telepon dari ayah ku masuk ke ponsel.
"Nak, Alhamdulillah Yani lah melahirkan. Keduanya selamat."
Alangkah bahagianya aku saat itu. Umurku yang baru memasuki 26 tahun sudah jadi ayah. Bapakku juga sudah jadi kakek.Rasanya tak sabar lagi untuk melihat wajahnya mirip siapa. Tak lama kemudian ibu ku dari Tambelan, Kabupaten Bintan menelpon. Selamat ya nak.
Sekarang jadi ayah. Bagitu juga dari adek ku di kampung. Sampai di Pelabuhan Sri Bintan Pura, saya berkegas mencari ojek menuju ke Poliklinik Pamedan yang merupakan klinik terbaik yang ada di Tanjungpinang.
Sampai di klinik, aku sempat salah ruangan. Mereka berada di lantai dasar. Sedangkan aku mencari di lantai dua. Setelah bertanya ke suster, baru aku tahu ruangan yang jadi sejarah lahirnya Addaruqutni Patria tepatnya pukul 07 tanggal 6 April, 2009, Senin.
Assamualaikum. Saat aku membuka pintu, terlihat di atas kotak kaca persegi empat itu, bayi laki laki yang diselimuti kain. Panjangnya 52 centimeter, beratnya 3.3 kg.
Senyum merekah dari kedua bibir istriku yang terbaring lemas di ranjang. Tangannya masih ada impus. Mataku tertuju wajah bayi yang ada di dalam kotak kaca yang diterangi dua lampu warna kuning. Lampu itu untuk memanaskan suhu agar bayi tak kedinginan. Tanpa basa basi- aku langsung mengendong anakku untuk pertama kalinya. Akupun langsung mengazankan di telingga bagian kanan.
Ya, satu jam paska kelahirannya aku baru datang. Dari keterangan tante Sri, Maryani melahirkan dengan mudah. Tak ditemukan kesulitan yang berarti. Selama dia hamil, lebih tiga kali dia khatam membaca Quran. Beberapa jam sebelum melahirkan Maryani tamat membaca Quran.
Sehari sebelum melahirkan, dia masih menyempatkan kuliah di STAI Tanjungpinang. Hampir tiga minggu kelahirannya, Qutni mulai berkembang. Berat badannya sudah naik. Mudah mudahan kamu jadi mutiara ayah dan ibu mu nak. Kau jadi harapan kami di masa yang akan datang. AMIN ya Allah. (robby patria)
Rabu, 04 Maret 2009
Ketika KPK Merisaukan Pejabat
"Kalau teman diperiksa Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) sekarang tak lagi jadi tabu dibicarakan," kata salah satu pegawai di Tanjungpinang di sebuah kedai kopi akhir pekan lalu.
Mereka sibuk membicarakan masalah KPK mengobok-obok Kantor Pemko Batam dan pemberitaan media massa tentang Ismeth Abdullah
yang kembali diperiksa KPK dalam kasus pengadaan mobil kebakaran. Ismeth memang hanya jadi saksi dalam kasus itu.
Tapi bukan tak mungkin dia senasib dengan kepala daerah lain yang sudah menjalani hukuman. Masyarakat Kepri, sempat dihentakkan kasus yang menjadi seantero negeri ini karena tertangkapnya Sekda Bintan Azirwan oleh KPK dalam kasus penyuapan anggota DPR M Amin Nasutiun saat peralihan lahan di Bintan Bunyu yang saat ini dijadikan pusat
pemerintahan Kabupaten Bintan.
Sejak kasus itu putus dan Azirwan dihukum 2.5 tahun penjara, publik hanya disodorkan kasus kecil di Kepri. Ketika KPK mulai
menyita dokumen Pemko Batam dan memeriksa Ismeth, akhir pekan lalu, seolah kebobrokan birokrasi itu jelas ada. Media pun
menjadikan isu ini jadi laporan utama.Masyarakat jadi tahu jika selama ini,pejabat yang mereka percayakan mengelola hasil
pajak yang mereka bayar ke negara ternyata ada yang tak beres.
Tentulah KPK tidak akan melakukan pemeriksaan jika pemerintah daerah menjalankan proses pemerintahan dengan tertip dan
transparan. Ya, pejabat di Kepri yang melakukan kejahatan korupsi tak akan tidur tenang.Karena KPK sudah menyentuh kulit luar
dari sebuah bola emas yang terus menggelinding sampai titik nadir dan bola itu akan sampai ke titik sasaran.
Bahkan ada salah satu pejabat di Kepri sampai operasi jantung. Humas salah satu pemerintah juga mencoba membujuk wartawan agar tidak terlalu
keras bertanya kepada pejabat yang menderita penyakit jantung itu.
Bisa jadi si pejabat sibuk memikirkan nasibnya, jika komisi berhasil menemukan bukti korupsi. Ibarat pepatah sepandai-pandai
topai melompat jatuh juga ke tanah, bisa jadi akan menjadi kenyataan. Lamban laun, kasus korupsi penjarahan uang rakyat akan
dibongkar KPK.
Dalam sekejap populeritas yang dibangun begitu lama hilang tak berbekas.
Keluarga pejabat yang melakukan korupsi kena sanksi moral dari lingkungan yang parah dibandingkan lama mendekam di bali jeruji besi.Cap sebagai koruptor dan perampok uang rakyat sepertinya akan disandang sampai mati. Gelar itu juga lebih buruk
dari seorang maling ayam di kampung yang terpaksa mencuri karena kelaparan.
Bahkan kita tahu uang haram yang dimakan dan diberikan ke anak dan istri akan dimintai pertanggung jawaban di pengadilan Yang Maha Adil yang tak bisa dibeli oleh apapun. Kenapa mereka yang korupsi masih lupa dengan pengadilan Tuhan yang jujur akan akan dirasakan tak lama lagi.
Selama ini pegawai yang sudah terbiasa melakukan korupsi kini mulai takut. Untuk menjadi pimpinan proyek pun harus mikir.
Dulu, menjadi pimpro, jabatan favorite.
Karena gencarnya penegakkan hukum, kekhawatiran tersandung hukum membuat jabatan tersebut ditakuti.Ketakutan itu berbuah
penyerapan kue APBD di seluruh Indonesia menjadi relatif kecil berkisar 70 persen. Di Batam saja, masih tersisa 100 miliar
dari APBD tahun 2008.
Harusnya dana Rp100 miliar itu bisa dinikmati masyarakat.Tetapi, entah kenapa menghabiskan anggaran saja, sudah sulitnya
bukan main.Inilah salah satu ketakutan pejabat untuk mengelola kue manis APBD. Kita tunggu saja drama yang dimainkan korupsi
di Kepri yang disutradarai oleh KPK dalam melakukan pengawasan terhadap penggunaan uang rakyat. Tentu kita tak asing lagi, pegawai pemda dengan gaji pas pasan bisa memiliki mobil dan rumah mewah.
Dari mana mereka mendapatkan uang, padahal jika ditotal gaji per bulan tak cukup untuk membeli rumah yang mewah. Ada
pendapatan lain yang tak terlihat yang menyebabkan mereka kaya.Kita menginginkan uang rakyat itu dikelola dengan transparan untuk kepentingan rakyat.Bukankah rakyat sudah membayar besar pejabat publik itu agar mereka berbakti kepada rakyat. Bukan
sebaliknya merampok uang rakyat yang bukan haknya. Bukankah di Kepri masih ada 73 ribu rumah tangga miskin yang harus
diperhatikan. Sedangkan di Indonesia ada 17 juta kepala keluarga yang tergolong susah dan laik diberikan bantuan.
Kecurangan dan kebaikkan itu berjalan bersama.Jika kebaikkan itu yang sampai pertama kali, maka keburukkan akan terkubur.
Abdi rakyat itu akan tenang menghabiskan massa tuanya. Tetapi jika keburukan yang tiba pertama, maka bukan tak mungkin mereka
menghabiskan massa tua di balik jeruli besi. (robby patria)
Mereka sibuk membicarakan masalah KPK mengobok-obok Kantor Pemko Batam dan pemberitaan media massa tentang Ismeth Abdullah
yang kembali diperiksa KPK dalam kasus pengadaan mobil kebakaran. Ismeth memang hanya jadi saksi dalam kasus itu.
Tapi bukan tak mungkin dia senasib dengan kepala daerah lain yang sudah menjalani hukuman. Masyarakat Kepri, sempat dihentakkan kasus yang menjadi seantero negeri ini karena tertangkapnya Sekda Bintan Azirwan oleh KPK dalam kasus penyuapan anggota DPR M Amin Nasutiun saat peralihan lahan di Bintan Bunyu yang saat ini dijadikan pusat
pemerintahan Kabupaten Bintan.
Sejak kasus itu putus dan Azirwan dihukum 2.5 tahun penjara, publik hanya disodorkan kasus kecil di Kepri. Ketika KPK mulai
menyita dokumen Pemko Batam dan memeriksa Ismeth, akhir pekan lalu, seolah kebobrokan birokrasi itu jelas ada. Media pun
menjadikan isu ini jadi laporan utama.Masyarakat jadi tahu jika selama ini,pejabat yang mereka percayakan mengelola hasil
pajak yang mereka bayar ke negara ternyata ada yang tak beres.
Tentulah KPK tidak akan melakukan pemeriksaan jika pemerintah daerah menjalankan proses pemerintahan dengan tertip dan
transparan. Ya, pejabat di Kepri yang melakukan kejahatan korupsi tak akan tidur tenang.Karena KPK sudah menyentuh kulit luar
dari sebuah bola emas yang terus menggelinding sampai titik nadir dan bola itu akan sampai ke titik sasaran.
Bahkan ada salah satu pejabat di Kepri sampai operasi jantung. Humas salah satu pemerintah juga mencoba membujuk wartawan agar tidak terlalu
keras bertanya kepada pejabat yang menderita penyakit jantung itu.
Bisa jadi si pejabat sibuk memikirkan nasibnya, jika komisi berhasil menemukan bukti korupsi. Ibarat pepatah sepandai-pandai
topai melompat jatuh juga ke tanah, bisa jadi akan menjadi kenyataan. Lamban laun, kasus korupsi penjarahan uang rakyat akan
dibongkar KPK.
Dalam sekejap populeritas yang dibangun begitu lama hilang tak berbekas.
Keluarga pejabat yang melakukan korupsi kena sanksi moral dari lingkungan yang parah dibandingkan lama mendekam di bali jeruji besi.Cap sebagai koruptor dan perampok uang rakyat sepertinya akan disandang sampai mati. Gelar itu juga lebih buruk
dari seorang maling ayam di kampung yang terpaksa mencuri karena kelaparan.
Bahkan kita tahu uang haram yang dimakan dan diberikan ke anak dan istri akan dimintai pertanggung jawaban di pengadilan Yang Maha Adil yang tak bisa dibeli oleh apapun. Kenapa mereka yang korupsi masih lupa dengan pengadilan Tuhan yang jujur akan akan dirasakan tak lama lagi.
Selama ini pegawai yang sudah terbiasa melakukan korupsi kini mulai takut. Untuk menjadi pimpinan proyek pun harus mikir.
Dulu, menjadi pimpro, jabatan favorite.
Karena gencarnya penegakkan hukum, kekhawatiran tersandung hukum membuat jabatan tersebut ditakuti.Ketakutan itu berbuah
penyerapan kue APBD di seluruh Indonesia menjadi relatif kecil berkisar 70 persen. Di Batam saja, masih tersisa 100 miliar
dari APBD tahun 2008.
Harusnya dana Rp100 miliar itu bisa dinikmati masyarakat.Tetapi, entah kenapa menghabiskan anggaran saja, sudah sulitnya
bukan main.Inilah salah satu ketakutan pejabat untuk mengelola kue manis APBD. Kita tunggu saja drama yang dimainkan korupsi
di Kepri yang disutradarai oleh KPK dalam melakukan pengawasan terhadap penggunaan uang rakyat. Tentu kita tak asing lagi, pegawai pemda dengan gaji pas pasan bisa memiliki mobil dan rumah mewah.
Dari mana mereka mendapatkan uang, padahal jika ditotal gaji per bulan tak cukup untuk membeli rumah yang mewah. Ada
pendapatan lain yang tak terlihat yang menyebabkan mereka kaya.Kita menginginkan uang rakyat itu dikelola dengan transparan untuk kepentingan rakyat.Bukankah rakyat sudah membayar besar pejabat publik itu agar mereka berbakti kepada rakyat. Bukan
sebaliknya merampok uang rakyat yang bukan haknya. Bukankah di Kepri masih ada 73 ribu rumah tangga miskin yang harus
diperhatikan. Sedangkan di Indonesia ada 17 juta kepala keluarga yang tergolong susah dan laik diberikan bantuan.
Kecurangan dan kebaikkan itu berjalan bersama.Jika kebaikkan itu yang sampai pertama kali, maka keburukkan akan terkubur.
Abdi rakyat itu akan tenang menghabiskan massa tuanya. Tetapi jika keburukan yang tiba pertama, maka bukan tak mungkin mereka
menghabiskan massa tua di balik jeruli besi. (robby patria)
Rabu, 11 Februari 2009
Menanti
Berhayal setiap aku terbaring di ranjang, wajahku menatap wajahnya yang penuh harapan. Membelai tubunya yang masih berwarna kemerahan. Mencium aroma tubuhnya yang khas. Menjaga dari gigitan nyamuk yang bisa menyebabkan kulitnya tergores. Di
sampingnya ada istriku.
Tangisan bayi tentunya akan membahana di rumah kami yang sederhana itu menjadi warna warni kehidupan mahligai rumah tangga. Ya, selepas pemilu tanggal 9 April 2009, putra Ku insya Allah lahir di bumi yang panas ini. Dia meninggalkan alam rahim yang kokoh diciptakan Allah SWT.
Segala sesuatu yang berkaitan dengan kebutuhan baby mulai dipersiapkan. Mulai dari kain, baju, sampul tangan, lemari, minyak kayu putih, sabun mandi, sampo, kelambu, ayunan, sampai perlengkapan lainnya harus dipersiapkan dari sekarang.
Dalam waktu dekat, direncanakan kami akan melakukan mandi tujuh bulanan yang sudah menjadi kebiasaan adat. Saat acara itu nantinya akan diadakan syukuran keluarga.
Rencana kelahirannya di klinik Muhibah Pamedan, Tanjungpinang. Semoga dia lahir dalam kedaan sehat. Begitu juga dengan ibunya nanti.Amin. Penantian itu penuh harapan. Ayah sedang menyiapkan nama yang bagus untuk Mu Nak. Nama itu, doaku untuk Mu. (robby patria)
sampingnya ada istriku.
Tangisan bayi tentunya akan membahana di rumah kami yang sederhana itu menjadi warna warni kehidupan mahligai rumah tangga. Ya, selepas pemilu tanggal 9 April 2009, putra Ku insya Allah lahir di bumi yang panas ini. Dia meninggalkan alam rahim yang kokoh diciptakan Allah SWT.
Segala sesuatu yang berkaitan dengan kebutuhan baby mulai dipersiapkan. Mulai dari kain, baju, sampul tangan, lemari, minyak kayu putih, sabun mandi, sampo, kelambu, ayunan, sampai perlengkapan lainnya harus dipersiapkan dari sekarang.
Dalam waktu dekat, direncanakan kami akan melakukan mandi tujuh bulanan yang sudah menjadi kebiasaan adat. Saat acara itu nantinya akan diadakan syukuran keluarga.
Rencana kelahirannya di klinik Muhibah Pamedan, Tanjungpinang. Semoga dia lahir dalam kedaan sehat. Begitu juga dengan ibunya nanti.Amin. Penantian itu penuh harapan. Ayah sedang menyiapkan nama yang bagus untuk Mu Nak. Nama itu, doaku untuk Mu. (robby patria)
Langganan:
Postingan (Atom)