Senin, 27 Oktober 2008

Bukan Kemerdekaan Individu yang Kami Cari


Aksi Putu Wijaya di BAF. foto Wijaya Satria Batam Pos.



Burung perkutut tak ingin terbang dan merdeka. Tapi daerah di Indonesia ingin merdeka dengan otonomi. Pusat jangan menjajah kemerdekaan yang sudah diberikan ke daerah. Setidaknya, inilah pesan yang disampaikan Putu Wijaya melalui aksi monolog saat
menjadi bintang tamu Bintan Art Festival (BAF) yang ke delapan.

BAF makin dewasa dengan hadirnya sastawan negeri ini Putu Wijaya. Gawean BAF kali ini juga berbeda dari biasanya. Acapkali BAF digelar di Gedung Kesenian Aisyah. Kini acara kesenian yang berlangsung dari 24-25 Oktober 2008 itu dapat disaksikan di lapangan
terbuka. Tepatnya, di depan Gedung Daerah Tanjungpinang. BAF terlihat lebih menarik dibandingkan pelaksanaan BAF tahun sebelumnya.

Husnizar Hood sebagai Ketua Dewan Kesenian Kepulauan Riau berusaha mendatangkan Putu Wijaya agar BAF kali ini istimewa. Walaupun sebelum Putu, tampil sastrawan muda seperti Fajar Riadi dari Solo, Hasan Aspahani, Ramon Damora, dan Ikranegara.Maknet Putu masih menarik sampai detik ini. Malam itu, Putu yang tampil dengan pakaian serba hitam kembali
menunjukkan dia sebagai penyair kelas wahid di Indonesia.

Mulai dari kopiah, baju, celana, sampai sepatu, peraih piala Citra di Festival Film Indonesia (FFI) ini menggunakan warna hitam. Warna hitam, sudah menjadi ciri khas dari penyair. Terkesan, hitam itu sudah miliknya penyair. Ya, penuh tanda tanya, misteri yang terselubung di balik warna hitam.

Penampilan pengarang lebih dari seribu cerpen ini memang ditunggu-tunggu warga Tanjungpinang. Panggung yang cukup luas, membuatnya lebih leluasa untuk mengeksplorasi diri. Bentuknya panggung agak bundar. Di tengah panggung, panitia BAF menyediakan papan untuk meletakkan sangkar burung, dan satu kursi warna coklat. Didikung sistem suara yang bagus, membuat susana BAF lebih romantis. Perlengkapan tersebut untuk mendukung aksi sastrawan yang pernah mengikuti International Writing
Programme, Iowa, AS.

Jarum jam menunjukkan pukul 22.00 Wib. Saat itulah, mantan redaktur di Majalah Tempo ini langsung meletakkan perlengkapan untuk menambah daya tarik aksinya. Tepung yang dibawa dalam kantong kresek pun dia masukkan dalam sangkar burung. Seolah- sang sastrawan memberi makan burung perkutut yang berada dalam sangkar. Padahal, burung tak pernah ada.

Malam ini, kata penerima Profesional Fellowship dari The Japan Foundation Kyoto, Jepang ini, ada 200 juta lebih burung perkutut dalam sangkar yang dipelihara oleh seorang majikan tua. Sang majikan ingin memberikan hadiah kepada salah satu burung perkututnya untuk merdeka–terbang ke angkasa dan menghadapi hidup tidak dalam sangkar lagi, melainkan lewat langit.

Tetapi, perkutut burung takut dengan kemerdekaan itu. Burung kecil tak mau terbang menghirup udara segar. Sebab, kebiasan perkutut yang hidup di dalam sangkar lebih nyaman, ketimbang merdeka dan mencari makan sendiri. Belum lagi, banyak predator yang mengerikan di luar sana yang siap menerkam. Perkutut tetap tak mau terbang. Padahal sang majikan telah membuka pintu sangkar dengan selebar-lebarnya.

Dengan gayanya yang bisa mengubah suara, penulis novel "Tidak" memerankan tiga tokoh pada malam penutupan BAF. Pertama tokoh burung perkutut yang takut akan kebebasan. Kemudian tokoh pemilik burung pipit yang setiap hari memberikan burung makan.

Lalu Putu juga berperan sebagai dirinya sendiri. Tanpa teks, acara semacam drama yang berdurasi hampir satu jam lamanya. Dalam monolog, Putu sempat melakukan intraksi dengan ratusan penonton yang tak beranjak menyaksikan pertunjukkan.

"Tuuuut,, tuuuut, tuttt, mana perkutut Tanjungpinang," kata Putu memancing penonton untuk mengikuti perkataannya. Semua penonton yang masih malu dengan ajakan Putu terdiam.Hanya dikit yang mengikuti. Tetapi, ketika dia mengakatakan," Saya terbang lebih dari 1 jam ke Tanjungpinang untuk mencari perkutut."

Sepontan, pecinta seni di sana langsung bersuara seolah-olah terbius ajakan Putu. Tanpa dipandu, mereka langsung bersuara seolah-olah menyerupai perkutut yang bising pada pagi hari.Satu keberhasilan sastrawan di dalam pertunjukkan dicontohkan Putu.

Emosi Putu terkadang meledak-ledak. Suaranya berteriak, memecah keheningan malam tanpa kilauan bintang. Putu terkadang memekik. "Terbanglah kau burung. Cari kebebasan di langit sana," teriaknya.

Sambil memukul-mukul sangkar dengan kursi, Putu terus meraung. Membuat mata tak berkedip. Denyut jantung terkadang terhempas melihat aksi pria yang jarang melepaskan topi warna putih. Dia seolah-olah menangis, menyesal dengan sikap burung pipit yang
enggan pergi dari sangkar.

Sesekali tangannya mengambil tepung di sampingnya. Tepung itu diterbangkan ke atas. Tak ayal, pakaian hitam yang dikenakan pun jadi memutih kena tepung. Kopiah Putu berubah warna jadi putih. Tak ada keraguan untuk Putu melakukan hal itu. Dia juga merayap di atas pentas. Padahal umurnya sudah lebih dari setengah abad.Umur tidak membuuat Putu lemah. Suaranya tetap lantang menghayati tiap kata-kata yang keluar dari mulutnya.

Berulangkali disebut Putu, sang perkutut dengan sebutan “bodoh!” Sang majikan berpendapat, perkututnya tak menghargai kemerdekaan padahal bangsa-bangsa di dunia sejak dulu kala bersimbahan darah demi kemerdekaan itu.

Berulangkali pula, sang majikan membentak perkutut, bahkan mengancam. “Jika tidak keluar, maka aku akan membunuhmu!” ucap sang majikan terhadap perkutut tersebut. Dengan menggunakan sapu lidi, Putu menikam burung dalam sangkar. Sehingga sapu lidi pun
menancap di sangkar.

Pekutut yang dipaksa suruh terbang akhirnya menabrak tembok. Dan terlihat pingsan.
Sang majikan terkejut, perkututnya jatuh ke tanah tak bergerak lagi.

"200 juta perkutut-perkutut lain pun miris melihat kematian perkutut tersebut," ucap Putu.

Sang majikan pun tak habis-habisnya menyatakan perkutut tersebut bodoh. Dan ia pun seakan menasihati perkutut-perkututnya yang lain agar meresapi arti kemerdekaan.
Namun tiba-tiba, perkutut-perkutut yang dimiliki oleh bapak tua tadi, lain mendobrak sangkar terbang jauh ke langit. Sang majikan pun kesalnya bukan main. Ratusan perkutut itu terbang ke sana-kemari. Burung itu pun membuang tahinya ke bumi. Dan mengenai kepala majikan.

Dalam pesannya perkutut, “Bukan kemerdekaan individu yang kami mau. Tetapi, kemerdekaan secara bersama yang kami inginkan.”

Embun malam mulai meresap ke dalam tulang.Malam mulai sepi. Tanjungpinang begitu istimewa dengan kehadiran Putu sebagai penampilan kunci BAF. Memang BAF tidak kehilangan arah tanpa Putu. Setelah Raja Haji Fisabillilah, kemudian Sutardji, siapa lagi yang akan menjadi lagendaris sastar dari bumi Melayu. Dua tokoh itu sudah diakui oleh seantero negeri ini kualitasnya. Akankan, Kepri melahirkan sastrawan baru setelah Raja Haji dan Sutardji. Hanya waktu yang bisa menjawab. (robby patria)

Minggu, 26 Oktober 2008

Putra Tanjungpinang Itu Nyaris Jadi Menteri

Harry Azhar Azis tengah saat di AS


Hotel Sempurna Tanjungpinang malam pertengahan Oktober 2008 kedatangan tamu istimewa. Ruangan pertemuan hotel yang sederhana sesak dengan pelbagai perwakilan dari tokoh masyarakat di Bintan. Dengan pencahayaan yang pas-pasan, suasana yang dibalut suasana Idul Fitri berlangsung dengan penuh makna.

Malam yang hening menjadi saksi, melihat, mendengar anak daerah yang kini menjadi anggota Komisi XI DPR-RI Harry Azhar Azis melakukan pertemuan menjelang pemilu. Momen itu juga disejalankan halal bihalal dengan warga Tanjungpinang.

Deretan puluhan kursi penuh dengan tokoh masyarakat. Saat jarum pendek jam dinding ruangan menunjukkan pukul 21.00, barulah Helmi, tokoh pemuda asal Tambelan memberikan kata sambutan sebagai tanda dibukanya acara tersebut.

Sebelum acara pertemuan khusus digelar, tamu yang datang diperkenankan untuk mencicipi makanan nasi. Harry terlihat asik berbicara dengan teman masa kecilnya di Tanjungpinang Erni dan Erna. Dua wanita kembar ini, memang tinggal di dekat rumah Harry di Tanjungpinang di Jalan Yusuf Kahar, di samping Hotel Sempurna. Erna dan Erni juga banyak tahu kelakuan Harry semasa kecil.

"Saya dulu suka berenang di tepi laut. Sampai badan saya hitam karena tak pakai baju. Erna dan Erni biasa melihat kalau saya sudah berenang,"

imbuh Harry mengingat masa kecilnya di Tanjungpinang sambil tersenyum simpul.

Setelah menyampaikan sikapur sirih, Helmi pun mengundang Harry Azhar untuk naik ke podium yang berwarna coklat. Harry pada malam itu menggunakan baju batik coklat, tampak menggunakan kopiah hitam. Dengan penuh percaya diri, dia memulai pembicaraan dan menceritakan kedatangannya di Tanjungpinang.

Harry Azhar merupakan anak pensiunan PNS di Kantor Pekerjaan Umum Tanjungpinang. Namanya Azis yang kini jadi nama belakang Harry. Sejak kecil dia sudah diingatkan sang ayah untuk terus belajar mengejar pendidikan setinggi-tinggi. Karena dengan pendidikan yang tinggi bisa merubah nasib untuk lebih baik.

"Kita bukan dari kalangan konglomerat. Kita ini hidup sederhana. Tak ada cara lain, untuk merubah nasib, harus melalui pendidikan," kenang Wakil Ketua Panitia Anggaran DPR-RI itu dengan nada yang lembut menyebutkan pesan sang ayah.Harry mengenyam pendidikan SD di Tanjungpinang. Lalu melanjutkan SMPN 002 yang tak jauh dari rumahnya.

Saat pulang ke kota gurimdam itu, dia sempat sedih. Karena SMP sudah menjadi hotel Laguna yang berhimpitan dengan Bestari Mal. Andaikan dana pendidikan dialokasikan pemerintah 20 persen sejak dulu, mungkin SMP 2 tidak menjadi mal. Minimnya dana, membuat sekolahnya harus dipindah ke Jalan Kuantan Km5.

Masa kecil pria yang kini rambutnya mulai menipis ini, dihabiskan di Tanjungpinang. Memang dia tidak menamatkan pendidikan SMP di Kota pantun. Tokoh politik dari Golkar itu melanjutkan pendidikan di Jakarta hingga meraih gelar sarjana.

Keluarga Harry di Bintan cukup sederhana. Sehingga untuk menambah uang jajan, Harry sempat berjualan roti di dekat Pelabuhan Sri Bintan Pura. Setiap pagi, dia berjualan roti dan kue-kue lainnya.

Suatu kejadian yang tak pernah dilupakan anggota Komisi XI DPR-RI itu, saat berjualan kue, ada anak buah kapal yang ingin membeli roti yang dijual. Karena Harry tidak membawa kantong untuk memasukan roti yang dipesan. Anak kecil yang kini Wakil Panitia Anggaran DPR itu harus

menelan air ludah. Sang pelaut batal membeli roti yang dijual dalam jumlah yang banyak."Dia hanya membeli dua keping saja. Karena tak ada bungkusan. Andai saya membawa kantong, tentunya, roti saya habis dijual. Masalah itu saya kasi tahu ke ibu," katanya.



Saat malam yang penuh dengan kilauan bintang meneteskan embun, konseptor ekonomi Partai Golkar dengan panjang lebar menjelaskan rencananya untuk kembali menjadi caleg dari Partai Golkar ke tokoh masyarakat yang hadir. Mantan Ketua Umum BP HMI 1983 ini, pernah dicalonkan parpol diera 90-an. Tetapi karena dia yakin, ilmunya masih belum memadai untuk duduk di Senayan, Harry enggan untuk menerima pinangan dari parpol.

Apa artinya jika duduk di DPR, tetapi tak bisa memberikan pemikiran untuk kemajuan bangsa. Salat istikarah dilakukan untuk menentukan pilihan menjadi caleg atau tidak saat itu. Kemudian Harry pun melanjutkan kuliah master di Amerika Serikat di University of Oregon, Bidang Economic Public Policy. Selama di AS, Harry harus kehilangan ibunda karena dipanggil Sang Khalik.

Pria yang memiliki jangot tipis itu kembali kehilangan orang tuanya saat dia menempuh pendidikan doktor di Oklahoma State University, Stillwater, Oklahoma-USA, 1994-2000. Sang ayah dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Taman Bahagia Tanjungpinang.

"Kedua orang tua saya tidak sempat melihat saya menyandang doktor dari AS. Saya tak punya uang waktu itu untuk pulang ke Tanjungpinang,

saat ayah sakit," katanya lirih dengan suara yang datar. Nada bicaranya nyaris seperti Akbar Tanjung. Ya, hubunganya dengan Akbar Tanjung cukup dekat. Apalagi Akbarlah yang mendorong Harry untuk maju menjadi caleg dari Golkar.

"Untuk apa berilmu jika tidak didermakan untuk bangsa ini," kata Harry mengikuti kata Akbar yang meminta dirinya menjadi caleg dari Golkar kala itu. Akbar masih jadi Ketua Umum Golkar sebelum digantikan Jusuf Kalla.

Harry yang menjadi aktivis HMI semasa kuliah pernah di penjara karena terlalu vocal terhadap rezim Soeharto. "Jika saya ingat kasus saya dipenjara, rasanya tak mau lagi masuk ke dunia politik. Tetapi untuk pengabdian, saya kembali terjun ke politik guna membela menyuarakan kepentingan ramai," ucapnya.

Harry mengatakan, jika terus bertahan di Tanjungpinang, sulit rasanya dia seperti sekarang ini. Untuk merubah nasib, dia harus ke Jakarta. Meningalkan Tanjungpinang untuk mengejar mimpi sekaligus merubah nasib lebih baik.

Setelah cita-cita digapai, kini tiba saatnya ayah dua anak ini untuk mengabdikan diri untuk Tanah Air melalui DPR. Tak mungkin, dengan kemampuan yang terbatas di bidang pendidikan, bisa memberikan kontribusi ke ke negara. Dengan kemampuan yang ada, sudah saatnya untuk memberikan pemikiran ke bangsa Indonesia. Jabatan strategis di DPR pun dipercayakan ke putra Tanjungpinang itu.

"Saya bermimpi, Tanjungpinang ini menjadi kota budaya. Biarlah Batam kota industri. Kota ini harus menjadi pusat budaya. Karena sumber bahasa Indonesia akarnya dari sini," ucap Harry.

Selain itu, Tanjungpinang harus memiliki universitas yang berbobot agar bisa menghasilkan sumber daya manusia yang handal. Andai saja setiap pemda di provinsi ini mau memberikan dana beasiswa untuk putra terbaik, maka setiap tahun akan lahir SDM yang pintar.
Setiap lima tahun akan lahir doktor-doktor baru di Tanjungpinang dan memimpin daerah ini.

"Jika kepala dinas dijabat doktor, tentulah mereka memiliki pemikiran yang bagus untuk pembangunan di Kepri. Negeri ini akan maju," ucap dosen Universitas Indonesia itu. Dengan pemikiran yang cemerlang, Harry kembali mencalonkan diri untuk pemilu legislatif dari Partai Golkar di nomor urut 1 saat pemilu 2009.

Dalam masa sosialisasi ini, seorang caleg harus sering ketemu masyarakat untuk guna mencari masalah yang terjadi. Tentulah dicarikan jalan keluarnya.Dia optimistis, duduk kembali ke Senayan untuk memperjuangkan kepentingan Kepri di Jakarta. Walaupun dari Kepri hanya mengirimkan tiga wakil ke DPR. Tetapi dengan posisi tawar yang tinggi, dan didukung dengan argumen yang mendukung, kepentingan Kepri akan didukung.

"Jika saya tak terpilih kembali, saya akan kembali ke habitat saya menjadi dosen pasca sarjana," tuturnya. Tetapi, sebelum masa penjoblosan itu tiba, sebelum perhitungan suara itu sampai, sebelum tahu siapa yang menang dan kalah itu datang, Harry akan bertarung merebut hati pemilih Kepri.

"Setidaknya saya sudah memiliki pengalaman di DPR, Saya sudah memberikan kontribusi untuk Kepri dan Indonesia. Untuk itu, tak salah jika saya ingin melengkapinya jika diizinkan Tuhan dan masyarakat Kepri tentunya," katanya.

Dari segi pengalaman pemerintah, Harry nyaris menjadi menteri dalam Kabinet Indonesia Bersatu (KIB). Saat terhadi reshuffle KIB, nama Harry bersama Paskah Suzeta diusulkan dar Golkar untuk menggantikan sejumlah menteri yang diistirahatkan SBY. Namun, atas pertimbangan, karir di Golkar, Paskah dipilih jadi menteri. Dari segi kemampuan, Harry tak kalah dari Paskah.

Bahkan banyak kalangan menilai, Harry lebih laik dari Paskah untuk memegang jabatan menteri. Saat pergantian kepemimpinan 2009, tidak menutup kemungkinan, penjual roti itu menjadi menteri. Warga Tanjungpinangpun akan mengukir prestasi. Memang kota ini sudah tak asing lagi menghasilkan tokoh nasional. Setidaknya untuk zaman reformasi, muncul kembali anak Melayu di pentas politik nasional.Amin. (robby patria)

Kamis, 09 Oktober 2008

AS Terjepit, Batam Menjerit


Perekonomian Amerika Serikat (AS) sedang mengalami krisis keuangan. Dampaknya sudah mulai dirasakan secara global termasuk Indonesia. Aktivitas Bursa Efek Indonesia harus dihentikan sementara karena terjadi penurunan Indek Harga Saham Gabungan yang menembus angka di luar kewajaran. Dengan terjepitnya AS mungkinkan Batam akan menjerit?

Media massa di Batam dalam sepekan terakhir banyak memberi porsi pemberitaan mengenai dampak krisis AS terhadap Batam. Ada yang berpendapat Batam akan merasakan krisis tersebut 3-6 bulan yang akan datang. Sebab saat ini data ekspor dan impor belum diketahui sehingga jangka pendek belum berdampak ke Batam. Nilai kontrak dengan importir juga belum jelas. Ya, awal 2009, dampak krisis AS itu bisa di lihat oleh pelaku ekonomi di Batam.

Secara langsung, krisis di AS memberikan dampak negatif terhadap Batam. Sebab, AS bukanlah negara yang bersentuhan langsung dengan Kepulauan Riau, Batam pada khususnya. Apalagi, nilai ekspor Batam ke negara Paman Sam itu cuma 1 persen dari nilai total ekspor yang menembus 7 miliar dolar AS di tahun 2007. Tetapi, AS masih negara kedua setelah Jepang tujuan ekspor Indonesia yang nilainya 73,54 miliar dolar AS per tahun.

Memang bagi Batam AS terlalu jauh dibandingkan dengan Singapura. Nyawa Batam sangat tergantung Singapura. Bukanlah AS. Tetapi, Singapura mengandalkan AS sebagai negara tujuan Ekspor. Barang yang diimpor Singapura diekspor ke AS. Sebenarnya Batam, Singapura dan AS satu rangkaian yang saling membutuhkan.

Sehingga tak salah, jika Kepala Bank Indonesia Batam Irwan Lubis mengatakan jika Singapura flu, maka Batam pasti meriang. Karena hubungan kedua negara begitu dekat.

Secara umum, krisis AS akan memperlambat usaha pemerintah untuk mendatangkan investasi ke Kepri dan Batam. Karena perusahaan asal negara adikuasa itu kesulitan untuk melakukan pendanaan untuk ekspansi sektor riil. Krisis keuangan membuat perbankan di AS untuk sementara menahan pemberian krdit ke sektor usaha.

Hal yang sama juga dilakukan perbankan di Eropa. Untuk itu, Badan Pengusahaan Kawasan Batam yang dulunya Otorita Batam harus mencari alternatif negara lain untuk melakukan investasi di Batam. Ya, negara asal Timur Tengah, Jepang, Rusia, Spanyol berpontensi untuk menanamkan modalnya di Batam. Sayangnya, sejumlah negara masih memiliki ketergantungan dengan AS. Bank negara di dunia, masih memiliki hubungan dengan perbankan di AS. Ketika bank negara itu berjatuhan, bank di dunia kena imbasnya.

Industri di Batam, paling banyak berasal dari investor asal Singapura yang tak lain berasal negara di Eropa dan AS. Perusahaan asal AS yang melakukan ada di Kepri kebanyakan bergerak sektor migas seperti Conoco Philip, Exxonmobile, Mc Dermot. Lagi pula, perusahaan ini orientasi ekspornya bukan ke AS, tetapi negara maju di Eropa dan Timur Tengah. Sehingga tak berpengaruh terhadap bisnis utama perusahaan tersebut.

Terlalu jauh, efek domino krisis AS untuk membuat Batam menjerit. Batam tetap aman dari krisis untuk jangka pendek, belum aman untuk jangka panjang. Bagaimanapun, AS memegang perekonomian dunia yang kemudian disusul China. Negaranya Obama itu sedang menghadapi masalah yang serius. FTZ di Kepri bisa saja tidak memberikan dampak apapun dengan melemahnya perekonomian dunia. Bagaimana mau investasi, sementara kondisi keuangan negara perusahaan sedang mengalami masalah. Sumber pendanaan untuk ekspansi berasal dari pasar modal dan perbankan. Tetapi, kedua lembaga ini sedang mengalami masalah besar. Banyak diantaranya bangkrut.

FTZ yang didengungkan akan meraup investasi 15 miliar dolar selama 5 tahun tampaknya harus terkoreksi. Bukan tak mungkin, sampai dengan akhir tahun, tingkat investasi di Kepri stagnan. Walaupun, daerah ini menjadi kawasan pelabuhan bebas dan perdagangan bebas. Akibatnya, ribuan tenaga kerja yang masuk ke Batam, Bintan, Karimun harus gigit jari karena belum mendapatkan pekerjaan.

Untuk membangkitkan kembali perekonomian di Kepri, pemerintah harus cepat mencabut PP Nomor 63 tentang Pajak Pertambahan Nilai dan PPnBM. Dengan cara itu, krisis investasi di Kepri bisa diobati. Pertumbuhan ekonomi dari luar kawasan industri diharapkan bisa menggerakkan roda perekomian di saat kawasan industri sedang stagnan dan minim order.

Sebab, untuk kawasan industri di Batam sebenarnya sudah mendapatkan insentif bebas pajak sejak dulu. Sehingga FTZ kali ini sebenarnya hanya pemanis. PP 63 memang obat penawar yang dibutuhkan Batam untuk melawan krisis berkepanjangan yang melanda dunia.

Jika pemerintah tidak mencabut PP 63 karena takut kehilangan pajak, maka lambat laun, Batam akan kena impas dari krisis ekonomi.
Mana ada investasi yang masuk, tanpa ada sumber modal dari negara asal. Tak mungkin permintaan barang produksi meningkat ketika sang pembeli mengalami masalah. Yang ada, produksi menurun, jumlah tenaga kerjapun akan dipangkas. Pemutusan hubungan kerjapun tak dapat dielakkan. Untuk itu, jangan terlambat, PP 63 cepat dicabut. (robby patria)

Selasa, 07 Oktober 2008

Lebaran Bersama Kekasih




Lebaran di kampung halaman jauh lebih nyaman ketimbang di kota orang.
Selain suasana yang berbeda di kota, dan jauh dari orangtua, makanan
bingke khas Tambelan tak saya jumpai saat Lebaran di Tanjungpinang.

Saat Matahari terbenam di ufuk barat sebagai tanda Ramadan meninggalkan
penghuni bumi, suara kemenanganpun bergema di seantero jagad mengumandangkan asma Allah Aza Wazalla. Saat itu pula, saya bersama isteri saling berpandangan.

Ya, Lebaran kali ini memang lain dari suasan biasanya.Karena saya ditemani
sang isteri tercinta. Bersamanya hari kemenangan dirayakan di Tanjungpinang. Tepatnya di kediaman kami di Perumahan Taman Harapan Indah.Untuk persiapan Lebaran, kami pun pergi ke supermarket untuk membeli kebutuhan Lebaran mulai dari kue sampai lansi.

Setidaknya ada 13 macam kue yang disiapkan saat Lebaran, mejapun terlihat
penuh berisi dengan kue. Sebagian kue diimpor dari Tambelan. Walaupun tak Lebaran di sana, saya dan isteri bisa menikmati kue khas yang ada di Tambelan. Dan kue tersebut
uniknya tak mudah dijumpai di Tanjungpinang.

Lebaran kali ini, moment pertama saya bersama isteri. Dan itulah sejarah
kehidupan yang takkan pernah lupa. Belanja bersama, membeli barang kebutuhan hari raye memang menjadi kepuasan tersendiri. Aku dan dia ke pasar membeli ketupat, dan bumbu-bumbu untuk membuat kari ikan tongkol.

Walaupun masih belajar, akhirnya proses memasak kari dan ketupat berhasil.
Makan pada pagi hari Idul Fitri bersama sang isteri dengan kari
masakannya menjadi indah. Sehabis makan, kamipun berangkat ke masjid untuk
salat id.

Suasana Lebaran pun kami rasakan saat bersilaturahmi ke keluarga sampai
semalam suntuk. di Hari kedua, baru kami merayakan ke rumah teman-teman
wartawan yang ada di Tanjungpinang. Uniknya, teman-teman saya di Tanjungpinang enggan ke tempat pejabat. Padahal, pejabat itu mereka beritakan setiap saat. Mungkin, teman-teman tetap menjaga jarak dengan nara sumber. Sehingga Lebaran, kami tak mesti mengunjungi mereka.

Suasana di hari kedua juga tak begitu berbeda dengan hari pertama.
Kemeriahan tetap menghiasi raut wajah dari teman-teman jurnalis di
Tanjungpinang. Mungkin mereka semua berpuasa. Dan amal mereka diterimaNya.
Sehingga menampakkan wajah-wajah gembira saat Lebaran tiba.

Karena ada dua kebahagian yang diperoleh orang berpuasa, yakni saat
berbuka saat berpuasa. Dan saat Lebaran tiba. Makanan di Lebaran memang harus waspada. Kalau tidak, perut akan mengalami masalah. Ha ha ha, Lebaran memang penuh makna. Untuk saling memaafkan. Tetapi alangkah lebih baik kita saling memaafkan di setiap saat. robby patria

Senin, 06 Oktober 2008

Wartawan Birokrat

Jadi jurnalis birokrat kerjanya kata kawan saya, hanya di kantor. Jarang terjun ke lapangan meliput berita berbobot. Mereka duduk di depan komputer memindahkan berita yang ditulis wartawan ke desain
halaman koran yang sudah disiapkan melalui program pagemaker.

Mereka sok berkuasa dengan egonya memerintahkan wartawan lainnya bawahannya yang tak
lain wartawan. Padahal mereka juga wartawan. Hanya pangkat yang diberikan oleh manajemen kantor yang membuat mereka jadi wartawan birokrat.

Mungkin karena mereka sudah lama bekerja di media yang
tersebut. Sehingga manajemen memberikan penghargaan dengan diberikan
pangkat dengan gaji lebih besar.

Sungguh berbeda dengan jurnalis di negara maju. Walaupun sudah diangkat
menjadi editor, namun mereka tetap menulis. Tentunya tulisan yang berkelas dalam bentuk indep news. Bukannya berita biasa atau straight news. Ataupun berita seremoni meliput kegiatan pejabat.

Sungguh memalukan jika sekelas wartawan birokrat menulis berita
seremoni. Dan paling parah, EYD nya juga salah. Sebagai wartawan yang
baru mengenyam ilmu jurnalistik, tak mungkin menegur sang wartawan
birokrat.

Nanti dalam laporan kerja bisa dinilai buruk, he he he.
Kita memang merindukan wartawan birokrat menulis liputan yang mendalam
.Karena bisa menjadi contoh untuk wartawan muda.wartawan muda perlu diajari mengungkap kasus dalam bentuk laporan
investigasi.

Tentunya, jika wartawan birokrat berhasil membuat laporan lengkap dan mendalam, maka wartawan mudapun akan hormat kepada mereka yang sudah duluan menjadi jurnalis. Tetapi jika wartawan birokrat hanya bisa menulis straight news dan mengkopi berita wartawan ke halaman lay out, sama saja mereka seperti tukang kopi.

Bukanlah tugas editor membuat berita jadi lebih nyaman dibaca. Ibarat juru masak, sang editor meramu bumbu mentah dan memasaknya menjadi lauk pauk yang lezat. Adaikan juru masak hanya mencampurkan pelbagai macam sayur dalam sebuah belanga, tanpa diberikan bumbu, tentulah sayur tersebut tak enak dimakan.

Begitu juga dengan wartawan birokrat. Mereka harus kerja
keras membuat program liputan, meramu berita wartawan yang masih
mentah dan menjadikannya berita yang lezat. Sehingga pembaca pun
menjadi tertagih untuk mengkonsumsinya setiap saat.

Bukankah di majalah, wartawan hanya bekerja mencari dan mengumpulkan data yang diperlukan wartawan birokrat. Kemudian, mereka menulis berita yang bersumber dari data-data yang dikumpulkan wartawan di lapangan.

Media di negara maju menggantungkan harapan ke editor. Jika ingin bonus lebih besar, redaktur harus berpikir keras untuk menghasilkan berita yang berkelas. Dengan demikian, pembaca akan tertarik untuk membaca koran tersebut. Ujung-ujungnya, oplah meningkat dan iklan jelas akan bertambah. Wartawan birokrat memang memiliki peran penting untuk kemajuan media massa, setelah wartawan. robby patria

Senin, 29 September 2008

Cinta Kahlil Gibran


Pabila cinta memanggilmu
Ikutilah dia walau jalannya berliku-liku
Dan, pabila sayapnya merangkummu
Pasrahlah serta menyerah walau pedang tersembunyi di sela sayap itu melukaimu.

"Ku hancurkan tulang-tulangku, tetapi aku tidak membuangnya sampai aku
mendengar suara cinta memanggilku dan melihat jiwaku siap untuk
berpetualang"

"Tubuh mempunyai keinginan yang tidak kita ketahui. Mereka dipisahkan
karena alasan duniawi dan dipisahkan di ujung bumi. Namun jiwa tetap ada
di tangan cinta... terus hidup... sampai kematian datang dan menyeret
mereka kepada Tuhan..."

"Jangan menangis, Kekasihku... Janganlah menangis dan berbahagialah,
karena kita diikat bersama dalam cinta. Hanya dengan cinta yang indah...
kita dapat bertahan terhadap derita kemiskinan, pahitnya kesedihan, dan
duka perpisahan"

"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana... seperti kata yang tak sempat
diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu...

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana... seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada..."

"Jika cinta tidak dapat mengembalikan engkau kepadaku dalam kehidupan
ini... pastilah cinta akan menyatukan kita dalam kehidupan yang akan
datang"

"Apa yang telah kucintai laksana seorang anak kini tak henti-hentinya aku
mencintai

Dan, apa yang kucintai kini... akan kucintai sampai akhir
hidupku, karena cinta ialah semua yang dapat kucapai... dan tak ada yang
akan mencabut diriku dari padanya"

"Kemarin aku sendirian di dunia ini, kekasih; dan kesendirianku...
sebengis kematian...
Kemarin diriku adalah sepatah kata yang tak bersuara..., di dalam pikiran malam. Hari ini... aku menjelma menjadi sebuah nyanyian menyenangkan di atas lidah hari. Dan, ini berlangsung dalam semenit dari sang waktu yang melahirkan sekilasan pandang, sepatah kata, sebuah desakan dan... sekecup ciuman" (Kahlil Gibran)

Selasa, 23 September 2008

Ibu Ku

IBU melahirkan kita sambil menangis kesakitan. Masihkah kita menyakitkan-nya?
Masih mampukah kita tertawa melihat penderitaan-nya?
Mencaci maki-nya?
Melawan-nya?
Memukul-nya?
Mengacuhkan-nya?
Meninggalkan-nya?
Ibu tidak pernah mengeluh membersihkan kotoran kita waktu masih kecil,
Memberikan ASI waktu kita bayi,
Mencuci celana kotor kita,
Menahan derita,
Menggendong kita sendirian.

Sadarilah bahwa di dunia ini tak ada satu orangpun yang mau mati demi kita.Tetapi beliau justru satu-satunya orang yang bersedia mati untuk melahirkan kita…
Bacalah teman untuk renungan kita ke ibu. (*)

Kamis, 18 September 2008

Kebenaran Pemberitaan Pers Bukan Kebenaran Hukum


Jika ada perkara pemberitaan oleh pers sampai ke meja hijau, hal itu terjadi karena ada orang yang tidak senang dengan pemberitaan media massa.

Contoh yang terjadi, Letnan Jendral Purnawirawan Soeyono divonis 3 bulan penjara masa percobaan akibat pernyataannya di majalah Male Emperium (ME) pada tahun 2005 yang lalu. Kalimat yang dikatakan Soeyono kepada reporter ME adalah. "Mereka sudah mendapatkan balasan yang setimpal. Seperti anak Jendral Hartono mati karena kasus narkoba." Faktanya, anak Hartono bukan mati karena kasus narkoba, melainkan sebab penyakit lain. Akibat pernyataan ini, Soeyono dituntut oleh Jendaral (P) Hartono dengan tuduhan pencemaran nama baik. Sehingga akibat pemberitaan majalah ME tersebut, Soeyono divonis tiga bulan hukuman dalam masa percobaan oleh Pengadilan Negeri Jakarta.

Ini adalah salah satu contoh kasus yang disebabkan pemberitaan pers pada zaman reformasi. Dalam proses persidangan kasus ini, Atmakusuma daro Dewan Pers diminta pengadilan sebagai saksi ahli dari Dewan Pers. Dia katakan di dalam persidangan, kedua belah pihak yakni Soeyono dan majalah ME melakukan kesalahan. Untuk majalah ME, kesalahan yang dilakukan karena tidak melakukan cek dan ricek atas kebenaran anak Hartono mati karena narkoba.Mereka memuat berita tidak berimbang.Bahkan Hartono tidak dikonfirmasi saat berita itu dimuat.Sedangkan dari Soeyono, sebagai orang intelektual yang menjadi narasumber, tidak seharusnya dia melontarkan ucapatan seperti itu.

Pada kasus ini, wartawan ME juga tidak memilih informasi yang layak dimuat. Menurut Atmakusumah yang juga salah satu perumus undang-undang pers ini, wartawan harus bisa memilih informasi dari wawancara untuk dimuat dan tidak dimuat sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik yang mengalami revisi.Tidak semua hasil dari wawancara dari narasumber untuk dimuat dalam tulisan secara keseluruhan. Karena wartawan bukanlah notulen yang mencatat semua yang dikatakan nara sumber pada saat wawancara. Wartawan harus bisa memilih informasi yang layak dimuat dan tidak layak dimuat dari hasil wawancara sesuai dengan hati nurani tanpa mengabaikan kode etik.

Berbagai perkara hukum akibat suatu pemberitaan terjadi karena, pihak yang diberitakan merasa sakit hari dan terhina oleh pemberitaan tersebut. Sehingga obyek yang diberitakan harus diberikan ruang untuk membela diri pada saat berita itu dinaikkan oleh redaksi. Pada saaat berita negatif tentang seseorang diterbitkan tanpa konfirmasi, tingkat emosional orang yang diberitakan 100 persen marah, jika diberikan ruang khusus untuk membela diri,bisa jadi 50 persen dia tak marah atas pemberitaan tersebut.

Jika ada berita mengenai kasus korupsi, pihak yang diberitakan harus dikonfirmasi mengenai kebenaran pemberitaan tersebut. Biarkan masyarakat yang menilai benar atau salah suatu pemberitaan. Bukan wartawan yang menentukannya dengan memvonis dalam suatu pemberitaan.

Jika pers memberitakan dengan berimbang, walaupun dibawa sampai ke proses hukum, maka pengadilan akan mempertimbangkan sesuai dengan Undang-Undang tentang Pers Tahun 1999 No 40 dan Kode Etik Jurnalisatik. Dewan Pers bukan semata-mata melindungi pekerja pers dari pemberitaan, melainkan membantu masyarakat umum yang dirugikan akibat pemberitaan pers. Mana mungkin Dewan Pers bisa memantau 800-an media yang ada di Indonesia,padahal anggota Dewan Pers cuma 9 orang. Oleh karena itu, Dewan Pers bertindak jika ada laporan masyarakat yang dirugikan dari pemberitaan pers.

Dalam kasus tuduhan korupsi yang dilakukan oleh mantan Presiden Soeharto, oleh Majalah Time, Pengadilan Tinggi Jakarta akhirnya menyatakan Majalah Time tidak bersalah atas gugatan Soehato dalam pemberitaan tersebut karena telah melakukan perimbangan berita. Tetapi, dalam banding di MA, Soeharto dimenangkan MA.

Dan pada kasus Majalah Tempo memberitakan miring pengusaha Tommy Winata, pada tingkat pengadilan Tempo kalah, namun pada putusan kasasi Mahkamah Agung Tempo dimenangkan. Dan pimpinan redaksi Tempo Bambang Harimurti pun dibebaskan kembali.

"Itu semua terjadi karena Tempo sudah memberikan ruang kepada Tomi Winata untuk membela diri pada edisi yang bersamaan. Bagitu juga dengan kasus Majalah Time, Soeharto juga sudah diberikan peluang untuk menanggapi tuduhan dari pihak lain. Sehingga penegak hukum pun menyatakan Time dan Tempo tidak bersalah dalam pemberitaan.Walaupun Tomi sudah diberikan ruang untuk membela diri,namun proses hukum tetap berjalan, apalagi tidak memberikan ruang untuk membela diri, "kata Atmakusumah.

Hak jawab

Nara sumber ataupun pihak lain yang merasa dirugikan atas suatu pemberitaan bisa meminta hak jawab dan klarifikasi atas pemberitaan tersebut. Bersama DPR, Dewan Pers merumuskan untuk mengatasi masalah akibat pemberitaan, maka dapat ditempuh dengan empat cara, pertama melalui hak jawab. Objek pemberitaan bisa melakukan hak jawab dari suatu pemberitaan, kedua menggunakan Dewan Pers sebagai mediator agar hak jawab itu dimuat oleh media yang bersangkutan.Karena pemuatan hak jawab merupakan hak mutlak dari media yang bersangkutan berdasarkan pertimbangan profesionalisme, bukan karena tekanan.

Sedangkan yang ketiga, pihak yang dirugikan bisa menempuh jalur hukum untuk membela diri.Untuk cara yang ketiga ini banyak terjadi di Indonesia.Yang keempat, pihak yang dirugikan bisa memboikot media yang bersangkutan untuk tidak dibeli dan membacanya.Karena media tersebut tidak jujur dalam pemberitaan. Namun aksi boikot itu tak dilakukan dengan kekerasan.

Mengikuti putusan kasasi dari Mahkamah Agung sewaktu menangani perkara pemberitaan, kebenaran pemberitaan pers, bukanlah kebenaraan absolut, kebenaran pemberitaan menurut pers bukanlah kebenaran menurut hukum, kebenaran menurut pemberitaan pers adalah kebenaran menurut narasumber dan kebenaran pemberitaan pers adalah kebenaran ilusive (sulit dipegang) licin seperti belut.

Aparat penegak hukum tentunya berdasarkan kode jurnalisatik dan Undang-Undang Pers dalam menentukan putusan hukum. Jika pekerja pers bekerja sesuai dengan kode etik,maka media tersebut akan selamat. (robby patria)

Rabu, 17 September 2008

Mengejar Mimpi atau 'Latah' Berpolitik


Oleh: Robby Patria, SE


Pemilu tinggal tujuh bulan. Partai politik sudah mendaftarkan kader partai untuk bertempur mendapatkan kursi panas di DPR, DPRD provinsi, dan DPRD tingkat kabupaten. Sangat disayangkan, dalam pencalegan kali ini, ada dugaan terjadi Korupsi Kolusi Nepotisme(KKN) politik parpol baik itu yang terjadi di pusat sampai ke daerah.

Isteri ketua parpol dimasukkan menjadi caleg. Suami jadi kepala daerah, isteri jadi pejabat negara, anak juga dijagokan jadi anggota DPR. Satu keluarga kalau bisa jadi pejabat semuanya. Apakah sumber daya manusia di Kepulauan Riau ini tak berkualitas. Sehingga untuk posisi strategis, harus keluarga tertentu yang mengendalikannya?

Jika memang iya, maka sesungguhnya Kepri masih jadi komoditas pasar untuk oknum tertentu saja. Masyarakat Kepri, hanya jadi penonton dalam suatu adegan film. Saya tentunya akan malu, sebagai anak negeri hanya duduk diam tanpa harus terlibat banyak dalam pembangunan. Sungguh ironis jika masalah itu terjadi. Partai besar di daerah ini sepertinya tak memiliki sistem pengkaderan yang dengan baik. Tetapi untuk kasus pencalegan kali ini, memang unik. Terkesan mereka latah-ikut-ikutan jadi caleg. Padahal, kemampuan berpolitik masih masih diragukan.Walaupun katanya, lulusan luar negeri dari universitas ternama.

Contoh nyata pencalegan anak pejabat itu terjadi di Golkar. Dani Ismeth berada di urutan dua untuk caleg DPR-RI. Padahal, di Kepri hanya ada tiga kursi untuk duduk di DPR. Berdasarkan pengalaman pemilu 2004, kursi DPR diraih oleh Golkar, PDIP dan PAN. Kemungkinan yang ada, pemilu tahun 2009 juga tak banyak berubah. Pasar pemilih tradisional di Kepri masih mengirim wakilnya ke Senayan melalui PDIP, Golkar dan kursi ketiga bisa direbut PKS, PAN dan PPP.

Harry Azhar Aziz dipasang Jusuf Kalla di nomor satu dapil Kepri. Tetapi, mantan ketua umum PB HMI ini juga masih ragu, dengan suara yang akan diraihnya dalam pemilu kali ini. Sebab, Golkar menggunakan sistem suara terbanyak. Artinya, Dani Ismeth bisa berpeluang menang dengan menggalang dan didukung dengan dana yang tak terhitung. Ismeth sebagai penguasa di daerah ini takkan tinggal diam ketika anaknya bertarung merebut kursi di DPR-RI. Ismeth juga tak tinggal diam ketika isterinya Aida berjuang kembali menjadi anggota DPD-RI untuk kedua kalinya. Pergerakan Dani mulai terlihat. Ibu dan anak mulai melakukan kegiatan sosial terjun ke pemilih.

Jika nantinya Dani menang dan duduk di DPR, maka prestasi akan diukir. Bisa jadi, mendapat museum rekor Indonesia (Muri) dari Jaya Suprana. Karena bapak jadi gubernur, isteri jadi anggota DPD, dan anak jadi anggota DPR. Hal itu sungguh jarang terjadi di Indonesia. Penghargaan tersebut pernah diraih Bupati Jembrana I Gedhe Winasa. Tetapi Winasa telah tujuh penghargaan MURI berhasil disabet Winasa. Pertama, karena memperoleh suara terbanyak dalam Pilkada Bupati 2005 (88,9 persen). Kedua, menggelar parade kesenian Jegog terbanyak, saat acara pelantikan dirinya sebagai Bupati Jembrana untuk kali kedua. Ketiga,pemrakarsa sekolah gratis pertama (2004). Keempat, program kesehatan gratis pertama (2003).Kelima, proyek pengolahan air laut. Keenam, membebaskan pajak bumi dan bangunan bagi lahan dan sawah. Dan ketujuh, pasangan suami istri Bupati pertama kali di Indonesia. Seperti diketahui, Ratna Ani Lestari, Bupati Banyuwangi adalah istri Winasa.Bali, karena isterinya jadi Bupati dan berhasil menjalankan program pendidikan gratis.

Wabah anak ikut bapak menjadi anggota DPR kini memang dipelopori pengurus parpol di jajaran elit partai. Trend tersebut kini merambah ke daerah. Di jajaran elit partai, kita bisa melihat putra Amien Rais maju jadi caleg dari Partai Amanat Nasional. Dave Laksono, putra Agung Laksono maju jadi caleg dari Golkar. Putra Nababan (PDIP) anak Panda Nababan, Putri Paundrianagari (PDIP) anak Guntur Soekarnoputra, Agus Haz (PPP) anak Hamzah Haz, Anindya Bakrie (Golkar) anak Aburizal Bakrie, Maruarar Sirait (PDIP) anak Sabam Sirait, Puan Maharani (PDIP) anak Megawati Soekarno Putri, Muhammad Iqbal (PPP) anak Bachtiar Chamsyah, Edi Baskoro Yudhoyono (PD) anak Susilo Bambang Yudhoyono.

Dalam konteks lokal, ada isteri Ketua DPRD Kota Batam Soerya Respationo, Rekaveni maju menjadi caleg anggota DPRD Batam. Isteri Ahars Sulaiman dari PPP juga maju. Dan menariknya, Saidul Khudri dan isteri sudah duluan duduk di kursi DPRD dari PKB. Yang paling menonjol saat ini, tentunya wakil DPR ada Dani anak Ismeth Abdullah yang akan bersaing dengan Harry Azhar Aziz untuk memperebutkan satu kursi utusan wakil Kepri di DPR.,Masuknya anak maupun istri pejabat yang tak lain jadi menimbulkan bermacam macam tanggapan.

Apakah masuknya anak pejabat jadi caleg sebagai bentuk pelanggaran etika moral? Karena tak membiarkan orang di sampingnya yang memiliki kemampuan untuk maju. Padahal, jika saja isteri pejabat tersebut tak maju, tentulah, kader partai yang berjuang mati-matian membesarkan partai bisa maju.

Tetapi, dengan dicalonkannya anak ketua partai, isteri ketua parpol, maka, tak ada pilihan lain, kader partai yang memiliki kemampuan harus mengundurkan diri dengan teratur. Ya, bisa saja masih diberikan kepercayaan, tapi nomor urut sepatu.

Kenapa partai politik sebagai perwakilan masyarakat hanya terdiam. Seharusnya tindakan semacam itu harus di lawan apabila caleg yang diajukan tak berkualitas. Apalagi, sang caleg tersebut tak memiliki kemampuan sama sekali. Bagaimana nantinya mereka akan berjuang kepentingan masyarakat di dewan. Sedangkan mereka tak memiliki kemampuan. Apa yang akan mereka berikan untuk rakyat yang sudah memberikan gaji besar untuk bekerja membela kepentingan rakyat.

Bukankah, menjadi anggota DPR, DPRD banyak berurusan dengan pembuatan perundang-undangan. Yang akan terjadi nantinya, caleg karbitan tersebut akan duduk manis di kursi dewan. Menerima gaji, duduk dan pulang. Apakah caleg karbitan ini harus dipilih? Saya rasa tidak.

Rakyat akan menderita jika memilih caleg yang tak memiliki kemampuan baik dari akademis dan politik. Terlalu mudah mereka mencari kekayaan, jabatan dan nama dengan menjadi caleg.Bukankah pendiri bangsa ini menjadi pemimpin melalui proses yang panjang. Soekarno harus keluar masuk penjara untuk menjadi presiden. Rakyat menghargai Soekarno karena jerih payahnya membebaskan bangsa dari belenggu penjajah. Bapak bangsa telah berbuat, dan wajar rakyat memberikan penghargaan.

Tetapi yang terjadi di sekitar kita, mereka ingin jadi wakil rakyat tidak melalui proses yang panjang. Dengan menggunakan media massa mempengaruhui masyarakat melalui iklan, membayar media massa untuk menamfilkan fotonya, membagikan sembako, seolah-olah mereka jadi pahlawan. Ya, pahlawan yang kesiangan mencari belas kasihan.

Sekali lagi, pembelajaran politik memiliki proses yang panjang. Dalam arti kata, sangat riskan tiba-tiba ada caleg tanpa magang sama sekali dalam dunia politik. Semoga masyarakat tak terpedaya dengan caleg karbitan.***

Selasa, 16 September 2008

Cinta ITU



Kini dia jadi isteri Ku. Aku terus mencintainya hingga ajal memisahkan kami.Amin. foto by robby patria

Pernahkah kamu merasakan,
bahwa kamu mencintai seseorang,
meski kamu tahu ia tak sendiri lagi, dan
meski kamu tahu cintamu mungkin tak berbalas,
tapi kamu tetap mencintainya,
Pernahkah kamu merasakan,
bahwa kamu sanggup melakukan apa saja demi seseorang yang kamu cintai,
meski kamu tahu ia takkan pernah peduli ataupun
ia peduli dan mengerti, tapi ia tetap pergi.
Pernahkah kamu merasakan hebatnya cinta,
tersenyum kala terluka,
menangis kala bahagia,
bersedih kala bersama,
tertawa kala berpisah,
Aku pernah .........
Aku pernah tersenyum meski kuterluka !
karena kuyakin Tuhan tak menjadikannya untukku,
Aku pernah menangis kala bahagia,
karena kutakut kebahagiaan cinta ini akan sirna begitu saja,
Aku pernah bersedih kala bersamanya,
karena kutakut aku kan kehilangan dia suatu saat nanti, dan......
Aku juga pernah tertawa saat berpisah dengannya,
karena sekali lagi, cinta tak harus memiliki, dan
Tuhan pasti telah menyiapkan cinta yang lain untukku.
Aku tetap bisa mencintainya,
meski ia tak dapat kurengkuh dalam pelukanku,
karena memang cinta ada dalam jiwa, dan bukan ada dalam raga.
Semua orang pasti pernah merasakan cinta..
baik dari orang tua... sahabat.. kekasih dan
akhirnya pasangan hidupnya.
Buat temenku yg sedang jatuh cinta.. selamat yah..
karena cinta itu sangat indah.
Semoga kalian selalu berbahagia.
Buat temanku yg sedang terluka karena cinta...
Hidup itu bagaikan roda yang terus berputar,
satu saat akan berada di bawah dan hidup terasa begitu sulit,
tetapi keadaan itu tidak untuk selamanya,
bersabarlah dan berdoalah karena cinta yang lain
akan datang dan menghampirimu.
Buat temanku yang tidak percaya akan cinta... buka hatimu ...
jangan menutup mata akan keindahan yang ada di dunia
maka cinta membuat hidupmu menjadi bahagia.
Buat temanku yang mendambakan cinta.. bersabarlah..
karena cinta yang indah tidak terjadi dalam sekejab..
Tuhan sedang mempersiapkan segala yang terbaik bagimu. (*)

Kamis, 11 September 2008

Jejak Camp Vietnam, Tragedi Kemanusiaan yang Tersisa


Banyak diantara mereka yang tidak pernah mencapai tujuannya. Mereka yang kehilangan segala-galanya di tanah air mereka karena perang Vietnam, menjual harta terakhir agar bisa menaiki kapal kayu kecil terkadang bersama lebih seratus orang sekaligus, bertaruh pada kemungkinan terkecil yang ada.

Mereka dirompak, diperkosa, dan dibunuh bajak laut di Laut Cina Selatan. Sebagian lainnya terombang-ambing karena badai, kehabisan bahan bakar dan karam begitu saja. Mereka yang berhasil selamat pun menghabiskan waktu hingga beberapa bulan di laut lepas, bertahan sementara ada rekan seperjalanan yang sakit atau meninggal kelaparan.

Inilah sepenggal cerita yang tak mungkin sirna dimakan jaman.Nama Pulau Galang sepertinya tak begitu populer di bandingkan dengan mendunianya Batam. Tetapi, Galang menyimpan kenangan sejarah 250 ribu lebih pengungsi Vietnam. Tentunya Galang juga akan menjadi pulau yang tak akan terlupakan bagi mereka yang pernah tinggal di pulau yang tandus itu. Bagaimana kondisi Galang saat ini? Akankan menjadi tempat wisata budaya bagi Batam?

Ketika saya mengunjungi lokasi bekas kamp Vietnam pekan Selasa 13 November 2007, sisa-sisa kamp pengungsi itu tetap berada pada tempatnya, sebagian diperbaiki untuk menjadi monumen untuk mengenang masa lalu para pengungsi Vietnam.

Perjalanan ke pulau Galang dimulai ditengah panas triknya matahari.Dengan menggunakan bus, kami bersama dengan mantan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata kabinet Megawati, melihat-lihat objek wisata di Kepualauan Riau. Salah satunya kamp Vietnam di Pulau Galang.

Pulau Galang kini bersama Pulau Batam dan Pulau Rempang menjadi satu kesatuan otorita yang disebut Barelang (Batam-Rempang-Galang). Sebelum sampai di lokasi Vietnam, warga yang ingin sampai di kamp itu akan melewati daerah Muka Kuning di mana terdapat kawasan industri elektronika terbesar di Batam.

Setelah 20 menit dari Mukakuning, dari kejauhan sudah terlihat tiang jembatan pertama. Keseluruhan kawasan Barelang dihubungkan oleh 5 jembatan antar pulau dan yang pertama inilah yang memiliki rentang terpanjang. Dibangun pada jaman Habibie menjadi Ketua Otorita Batam, jembatan ini memang sungguh membentang megah antara Pulau Batam dan Pulau Tonton, sebuah pulau kecil sebelum mencapai Pulau Rempang. Berhenti sejenak, pemandangannya memang indah. Langit biru cerah, laut yang juga biru dengan deretan kepulauan Riau di kejauhan jadi pemandangan yang menyenangkan.

Perjalanan kembali berlanjut dengan menyeberang ke Pulau Rempang dan kemudian Pulau Galang. Kondisi jalan yang sempurna membuat perjalanan hampir 70 km ditempuh dengan cepat, hanya sekitar 45 menit tibalah di sebuah simpang tiga yang diberi papan penunjuk menuju arah Galang Refugee Camp Memorial.

Kami memasuki arah jalan ditunjuk, lebih kecil dan beraspal lepas dan diawali dengan pos retribusi. Memasuki beberapa ratus meter ke dalam, kami disambut sebuah papan penunjuk menunjukkan kata pagoda.

Semakin memasuki wilayah pengungsi, suasana begitu sejuk. Tiba-tiba terlihat sebuah tugu kecil dengan nama Humanity Statue. Dari penjelasan di dekat patung, tertulis bahwa patung itu didirikan oleh para pengungsi untuk mengingat musibah yang menimpa seorang wanita bernama Tinh Nhan yang diperkosa oleh sesama pengungsi di lokasi di mana patung itu berada kini. Tinh Nhan bunuh diri tidak lama sesudahnya.

Tidak jauh dari patung kemanusiaan itu di sebelah kiri terdapat areal pemakaman Ngha Trang. Terdapat 503 makam yang diperuntukkan baik untuk yang Buddhis dan Kristen. Di pintu gerbang terdapat sebuah tugu bertuliskan ”dedicated to the people who died in the sea on the way to freedom.

Yang menarik ketika memasuki wilayah itu, ada peninggalan beberapa bekas perahu pengungsi yang diangkat ke darat sebagai kenangan perjuangan untuk hidup yang lebih baik.

Sebagian besar kamp pengungsi ini memang direstorasi kembali seperti bekas penjara, rumah sakit milik UNHCR dan perahu, bahkan bekas kantor UNHCR dijadikan museum kecil, tapi sayangnya barak-barak para pengungsi ini dibiarkan rusak terbelit ilalang dan tanaman merambat seperti yang saya lihat di kamp Galang 2.

Ada sebuah papan petunjuk yang bertuliskan Gereja Protestan, tetapi gereja itu juga hanya menjadi reruntuhan. Dahulunya, ada dua bagian besar kamp pengungsi yang dinamakan Galang 1 dan Galang 2. Secara bercanda para pengungsi menyebut pekuburan Ngha Trang sebagai Galang 3. Kamp pengungsi ini dilengkapi dengan sarana rumah sakit dan sekolah dan youth center, atas bantuan UNHCR dan Pemerintah Indonesia. Para pengungsi Vietnam yang terdampar di pulau-pulau lain disatukan di Pulau Galang ini sambil menunggu proses repatriasi mereka ke negara-negara lain yang bersedia menerima mereka sebagai warga negaranya.

Dari banyak litaratur, pengalaman pahit getir kehidupan mereka pula selama di penampungan Pulau Galang. Ada banyak anak-anak yang kehilangan orangtuanya harus hidup seorang diri di kamp ini hanya tergantung pada kemurahan hati orang lain. Kebanyakan dari mereka harus bekerja mengolah tanah Pulau Galang untuk berkebun dan bertanam. Beberapa tangan-tangan kreatif membuat kerajinan dan suvenir yang dapat digunakan untuk mendapatkan penghasilan.


Dari catatan yang terbaca di museum, kamp pengungsi ini pernah menampung hingga 200 ribu orang. Dinding museum dipenuhi deretan pasfoto hitam putih yang bergambar para pengungsi yang memegang papan tulis kecil dengan nama mereka dituliskan dengan kapur tulis. Pada bulan Maret 2005 para mantan penghuni kamp pengungsi Galang dari seluruh dunia berkumpul kembali untuk melakukan napak tilas hidup mereka, mengenang sahabat dan kerabat yang tidak berhasil mencapai kehidupan dan kemerdekaan sebagai manusia.

Dari penjelasan Mursidi, penjaga museum itu, kunjungan hanya ramai pada hari libur. "Bisa mencapai 1.000 orang.Sedangkan pada hari biasa masih sepi," ujarnya.

Melanjutkan perjalanan mengelilingi kamp Galang 2. Sebuah papan menunjuk pada kata ’Catholic Church’.Kamipun berjalan menuju arah yang ditunjuk, menyeberangi sebuah jembatan kayu. Di kejauhan, seusai jembatan ada gerbang dengan tulisan yang terkelupas ’Nha To Duc Ne Vo Nhiem’ dengan tambahan Bahasa Inggris di bawahnya ’Immaculate Conception Mary Church’.

Gereja Maria Dikandung Tanpa Noda ini masih sangat terawat, walaupun seperti halnya semua bangunan di kamp pengungsi ini, dibangun dengan struktur kayu. Di halaman ada patung perahu dengan Bunda Maria di atasnya.



Kenangan Tragedi Kemanusian yang Masih Tersisa


Ketika Indonesia dihujat dunia internasional dengan pelanggaran hak azazi manusia di Timur Leste dan Aceh, seakan dunia lupa peran Indonesia dalam menyelamatkan 250 ribu pengungsi Vietnam. Sejarah pengungsi Vietnam di Pulau Galang, Batam, Kepulauan Riau masih terekam jelas melalui peninggalan sejarah di Kamp Vietnam.

Pulau Galang mencuat namanya sekitar tahun 1970-an. Tidak saja di Indonesia tetapi juga di dunia internasional.Adalah UNHCR (United Nation High Commission for Refugees,) atas persetujuan pemerintah pusat, saat itu masa pemerintahan Seoharto membangun perkampungan sementara untuk ribuan orang pengungsi Vietnam.

Para pengungsi Vietnam itu dikenal pada waktu itu sebagai "manusia perahu". Karena mereka meninggalkan Vietnam dengan menggunakan perahu, hingga sampai di Galang, dan beberapa bagian negara di kawasan Asia.

Dari keterangan petugas disana, dan foto-foto yang masih terpampang di musium Vietnam, setiap perahu itu ada yang berpenumpang sekira 40-100 orang.Mereka terdampar di sekitar pantai Tanjung Uban, Kepulauan Natuna, Pulau Galang dan di sekitar pulau-pulau kecil lainnya yang tidak berpenghuni. Pada waktu itu mereka ditemukan dan ditolong oleh patroli Angkatan Laut Indonesia dan para nelayan setempat.

Peristiwa sejarah itu terjadi pertengahan tahun 1970-an setelah berakhirnya perang Vietnam yang ternyata menghadapkan dunia internasional pada masalah serius para pengungsi. Kondisi politik di Vietnam yang membuat ratusan ribu warga Vietnam harus mencari perlindungan. Pemicu utamanya adalah jatuhnya Vietnam Selatan ke tangan kekuasaan Vietnam Utara atau Vietkong, selain situasi kaostis di Kamboja.

Peran Indonesia ketika itu, satu-satunya negara di Asia Tenggara yang memberikan respons yang muncul terhadap masalah kemanusian berskala internasional.
"Karena letak Galang sebagai daerah strategis, maka dipilih sebagai tempat transit para pengungsi Vietnam. Sambil menunggu mereka secara administratif diproses untuk dikirim ke negara ketiga," tutur Mursidi, kepada wartawan di museum, saat mendampingi,mantan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata I Gede Ardika, Selasa (13/1).

Batam Pos, yang pertama kali ke lokasi itu, tak sabar membidikkan kamera Canon, untuk mengabadikan momen tersebut.Sayang, memory kecil, jadi banyak juga yang dihapus. Hanya foto sedikit bagus yang disimpan di kamera, he he he...

Dalam hati bekata ketika itu,"Jika tak sekarang saya memotret, kapan lagi bisa ketempat bersejarah ini. Karena tempatnya terlalu jauh dari Batam".

Teman-teman wartawan media cetak di Jakarta pun tak lupa berfoto di lokasi itu. Bahkan ada yang mengabadikan masuk dalam penjara untuk pengungsi Vietnam yang sudah tak terawat.

Penjara itu berfungsi untuk mengamankan warga Vietnam yang membuat ulah. Terdapat tiga pintu di penjara yang terbuat dari besi tersebut.


Untuk lebih jauh,berdasarkan litaratur dan cerita cerita Mursidi, UNHCR membangun kota baru di Galang untuk warga Vietnam. Semua sarana dan prasarana lengkap dan sangat memadai, seperti jalan yang teratur dan kualitas sangat baik yang menghubungkan dengan pelabuhan kecil yang digunakan sebagai lalu lintas suplai kebutuhan hidup para pengungsi itu. "Tempat ini dikenal dengan nama Pelabuhan Karyapura," katanya.

Dari pantaua Batam Pos, di sana juga terdapat restoran makanan laut, gedung pertemuan, sekolah, gereja, perumahan untuk pegawai lokal UNHCR, pagoda, rest area, camping ground, "Galang Memorial Hall".

Selain itu, jelas terlihat kubur pemakaman 500 orang meninggal di kampung Vietnam.
Ternyata, warga Vietnam bukan hanya menganut komunis, ada juga yang bergama Kriten.
Hal itu terlihat dari lambang kubur, di areal pemakaman yang teratur dan terawat baik.

Sedangkan untuk perumahan pengungsi dan sarana gedung lainnya yang sekarang ada tampak mulai roboh. Atap-atapnya hilang entah kemana.Sedangkan dinding rumah pun sudah lepas dari bingkai rumah, yang diselimuti ilalang.

"Wah pantasan dijadikan lokasi shoting uka-uka. Situasinya seram," celetuk Sari, wartawati Rakyat Merdeka Jakarta, melihat kondisi bekas perumahan Vietnam.

Peninggalan yang masih terawat, yakni tempat suci umat Budha (pagoda). Karena tempat ini dirawat orang-orang Budha. Bangunan itu masih terlihat berdiri megah.

"Biasanya juga digunakan tempat mengadu nasib. Bisa minta kaya," kata gait dari travel, yang membawa kami ke sana.

Kondisi iklim yang sejuk, dan hutan yang masih hijau sangat cocok untuk tampat kamping pramuka. Tak heran walaupun jauh dari Batam, wisata budaya Vietnam masih banyak dikunjungi. Jika anda pernah kesana, pasti akan kagum dengan kampung Vietnam ini. Nilai-nilai yang terkandung di balik pembangunan perkampungan tersebut, sangat menyentuh jiwa. Banyak pelajaran yang ada dibalik kampung tua, untuk masa depan kehidupan umat manusia.

Dari cerita, pengungsi Vietnam banyak membawa emas dari kampung halamannya. Benda itu lah ditukarkan dengan penduduk seempat untuk biaya hidup selama berada di Galang.

Banyak yang beranggapan, para pengungsi itu, banyak orang yang tergolong berada.

Setelah masa tragis itu, hilang dan berganti waktu, perkampungan para pengungsi Vietnam itu telah menjadi wilayah terbuka untuk dikunjungi masyarakat karena telah ditinggalkan para pengungsi.

Selama 18 tahun, mereka tingal di Galang. Dan akhirnya UNHCR/ badan PBB yang berurusan dengan masalah-masalah pengungsi dan pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Angkatan Laut pada waktu itu, para pengungsi Vietnam yang dilindungi di Pulau Galang telah berhasil dipulangkan. Sekitar 5.000 orang pengungsi kembali ke Vietnam.Sedangkan ribuan orang tersebar di negara-negara ketiga, di antaranya ada yang menuju Australia dan Amerika Serikat. Kanada menjadi negara peling banyak menampung warga Vietnam sebanyak 13 ribu orang. Kemudian disusul Australia sebanyak 7 ribu orang.

Ada kejadian yang tragis karena disebkan, banyak di antara mereka yang takut untuk dikembalikan ke Vietnam. Cara yang dipilih melakukan bunuh diri sebagai tanda protes pada keputusan UNHCR untuk menutup kamp pengungsi pada tahun 1996 dan mengembalikan kereka yang tersisa ke Vietnam.

Kini, di dinding museum dipenuhi deretan pasfoto hitam putih yang bergambar para pengungsi yang memegang papan tulis kecil dengan nama mereka dituliskan dengan kapur tulis.

Pada bulan Maret 2005 para mantan penghuni kamp pengungsi Galang dari seluruh dunia berkumpul kembali untuk melakukan napak tilas hidup mereka, mengenang sahabat dan kerabat yang tidak berhasil mencapai kehidupan dan kemerdekaan sebagai manusia.

"Sudah tiga kali mereka reuni.Yang terakhir tahun 2006. Yang datang cuma 10 orang," ujar Mursidi, penjaga museum yang sudah memutih kepalanya itu.

Perkampungan Vietnam yang sejuk dan indah serta jauh dari keramaian itu, bagi mereka hanya tinggal kenangan yang tentu sulit untuk mereka lupakan.

Areal permukiman Vietnam kini menjadi wilayah konservasi sebagai museum terbuka utuk umum. Tempat ini juga jadi bukti kepada dunia bahwa Indonesia memiliki komitmen tinggi dalam menegakkan nilai-nilai kemanusiaan yang penting dalam sejarah peradaban modern di Asia Tenggara. (robby patria)

Gerobak Hijau Eko


Gerobak hijau milik Eko (49), parkir di Perumahan Green Land, Batam Centre. Setiap sore saat Ramadan, pria yang usianya hampir setengah abad ini mangkal di perumahan tersebut. Eko, sosok pria yang jauh-jauh datang dari Banjarnegara hanya untuk berjualan es dawet di Batam.

Sudah dua tahun dia tinggal di Batam dan mencari perutungan dengan berjualan es dawet khas Banjarnegara. Di Batam, Eko indekos di Batam Centre. Luas kamarnya cuma 2x 3 meter. Dia datang ke Batam bersama dengan isteri dan satu orang anaknya.

Tinggal di kos yang sempit tak membuat lelaki yang selalu menggunakan kopiah itu lelah.Apalagi harus mendorong gerobak es dawetnya setiap sore. "Dari pada tinggal di Jawa, lebih baik saya mencari rezeki di Batam. Karena lebih mudah dibandingkan dengan di Jawa. Begini untuk bertahan hidup," tutur Eko.

Sudah lama Eko menguasai teknik membuat es dawet. Sejak di Banjarnegara, dia sudah berjualan es tersebut.

Seingat Eko, di Batam dulunya tak banyak yang berjualan es dawet. Tetapi sekarang sudah banyak yang jualan. Mulai dari Batuaji, Nongsa, Jodoh, sampai ke Batam Centre gerobak dawet mudah dijumpai.

Sampai di Batam, Eko langsung membuat gerobak. Untuk menghasilkan satu gerobak, biaya yang dikeluarkan Rp500 ribu. Di dalam gerobak disediakan dua termos untuk menyimpan es. Kemudian toples untuk cendol yang terbuat dari sagu. Ada lima gelas untuk pembeli yang sengaja minum di tempat. Gelas plastik untuk pembeli yang membawa pulang es. Pipet juga dia siapkan.
Gerobak Eko ternyata dilengkapi dengan kaca spion. Untuk apa ini pak? "Wah itu untuk jaga-jaga saja. Nanti dimarah polisi jika tak ada spion," katanya memberi alasan.

Awalnnya, Eko berjualan di depan kantor Imigrasi Batam. Banyak penggemar es Eko di sana. Tetapi, dia malah disuruh pindah oleh petugas satpol PP. Eko juga tak mengerti kenapa dia harus pindah. Tetapi, karena orang kecil yang tak punya kekuatan, Eko pun pindah mencari tampat jualan baru.

"Alasan saya disuruh pindah karena pemerintah ingin membersihkan lokasi. Kayak di Singapura itulo. Bersih tak ada gerobak di kantor pemerintah," ujar Eko.

Setelah itu, Eko pun mendorong gerobaknya untuk mangkal di samping Mega Mall. Setiap sore Eko berjualan di sana. Karena sebelum pukul 15.00, lokasi baru yang ditempati Eko bersih dari pedagang kaki lima.

Pemerintah hanya memberikan izin di bawa pukul 15.00 sampai malam.
Tak ada daya selain mengikuti perintah pemerintah setempat.

Dengan berjualan es dawet, Eko menghidupi keluarganya. Penghasilan Eko dalam satu hari bisa melebihi gaji pegawai negeri. Jika hari panas,rata-rata Eko membawa pulang Rp100 ribu. Jika dikalikan 30 hari, setidaknya sudah 3 juta. Jika lagi hoki, Rp300 ribu per hari pun dengan mudah diraih.

Padahal modal Eko untuk menjual es dawet cuma Rp50 ribu per hari. Dana tersebut untuk membeli gula aren yang dibuat sebagai cairan pemanis. Dan sisanya dibelikan sagu. Lalu kalo ada sisa, Eko menambah bumbu durian di dalam es tersebut.

Sungguh tak disangka, dengan jualan dewet, bisa menghasilkan uang jutaan rupiah. Penghasilan Eko ternyata mengalahkan gaji seorang jurnalis di Batam yang gajinya rata-rata 1 jutaan per bulan.

Hasilnya cukup enak. Kalo diminum saat berbuka puasa, membuat rasa haus pun hilang. Hebatnya, es dawet ini, kata Eko cepat mengembalikan stamina.

Warna es dawet made in Eko hijau kecoklat-coklatan. Per gelas, dijual cuma Rp3 ribu rupiah. Jika es tersebut tak habis dibeli, maka Eko membagikan es tersebut ke tetangga.

'' Kan sayang jika dibuang," ujar Eko.

Untuk membuat es dawet ini, katanya, gampang. Asalkan sesuai dengan aturan. Berarti bukan hanya dokter saja yang memiliki resep obat, gumam saya dalam hati. Membuat dawet juga harus memenuhi aturan. Jika tidak, cendolnya akan keras dan mengembang. Rasanya juga tak enak.

"Saya membagikan resep ini kepada teman-teman dari Surabaya," katanya mengenang.

Eko tak sembarangan memberikan resep. Sebelum belajar dengannya, muridnya harus mematuhi agar menjaga kualitas dawet banjanegara. Dia tak mau, penjual dawet menjual dengan rasa apa adanya. "Saya tekankan kepada teman-teman yang ingin belajar supaya jaga kualitas," kata lembut.

Eko masih punya opsesi lain. Dia ingin berjualan mie ayam, tahu campur ala Surabaya. Dari pengamantannya, di Batam tak banyak yang berjualan tahu campur. Ketika ditanya, apakah tertarik untuk mendapatkan pinjaman dari pemerintah guna mengembangkan usaha? Lelaki yang ramah itu menjawab tidak.

"Saya kan cuma penjual es dawet. Apa iya bisa mendapatkan pinjaman," katanya.

Di Batam, pasti banyak Eko yang lain yang mengadu nasib di Batam. Ya, kota ini memang menjadi miniatur mini Indonesia. Segala suku dan pekerjaan ada di Batam. Akankah mereka bisa bertahan dari kerasnya hidup di kota seribu ruko? robby patria

Rabu, 10 September 2008

Tanjungpinang yang Gelap


Perasaan kesal tak pernah hilang saat menginjak kaki di Tanjungpinang.
Memasuki Pelabuhan Sri Bintan Pura saja, kita sudah disuguhkan kegelapan.
Maklum, listrik mati. Tanjungpinang gelap.

Bisa jadi, mati lampu berdampak positif terhadap pertumbuhan bayi? Ah,
belum ada yang melakukan penelitian tentang itu.
Bisa saja dengan kondisi gelap gulita bertemankan lilin, kepala rumah
tangga enggan untuk keluar rumah. Ujung-ujungnya, ambil jatah.

Kondisi Tanjungpinang sebagai ibu kota sebuah provinsi, yang katanya
memilili pertumbuhan ekonomi di atas 7 persen, sungguh menyedihkan.
Terbatas sarana listrik, yang setiap hari mati. Air PDAM yang selalu
ngadat. Belum lagi fasilitas infratruktur minim. Tapi kota itu menyuguhkan

kehidupan yang sederhana. Antartetangga selalu akur. Jarang terjadi tindak
kriminal seperti di Batam dan kota besar lainnya.
Di Tanjungpinang, jangan ditanya ada mal. Yang ada cuma Ramayana. Itupun
dikatakan mal Tanjungpinang.

Salah satu petinggi pusat perbelanjaan besar di Batam mengatakan ke Saya,
pihaknya belum berminat melebarkan sayap di kota Gurindam. Pasal,
perekonomian warga belum mendukung. Daya beli konsumen rendah. Sehingga
mereka menunda untuk melebarkan sayap ke Tanjungpinang.

Warga Tanjungpinang tak kecil hari jika tak mendapatkan pusat perbelanjaan
yang elite yang menyediakan merek-merek ternama. Toko-toko di
Tanjungpinang sudah menjual produk impor dari Korea, Thailand, dan
Hongkong.

Tak heran, di sepanjang Jalan Merdeka, toko toko tersebut menjual produk
fashion impor.Tak jarang, warga Tanjungpinang membeli baju di Singapura. Maklum,jarak
tempuh Tanjungpinang-Singapura cuma 1,5 jam saja.

Yang jadi persoalan serius, sampai kapan, kota yang melahirkan tokoh
sastra nasional itu menjadi kota yang maju. Dengan kilauan lampu jalan,
lampu hias lainnya. Sampai kapan, kegelapan melanda kota tersebut.

Moga Tanjungpinang cepat berbenah, berhias, seperti putri yang menanti
sang pangeran.