Senin, 24 November 2008

Mimpi Ansar Merebut Dua Kursi DPR


Partai Golkar Kepulauan Riau (Kepri) memasang kuda-kuda untuk merebut dua kursi DPR dari tiga kursi jatah Kepri di Senayan. Menargetkan 30 persen suara untuk wakilnya di DRPD provinsi dan kota.

Suasana Hotel Comfort Tanjungpinang, Sabtu, (22/11) malam diramaikan ratusan kader Golkar. Spanduk partai bertebaran di sekeliling hotel. Warna kuning membuat suasana jadi meriah. Tokoh partai menjadi kunci mendongkrak suara hadir pada malam deklarasi caleg Golkar mulai tingkat DPR, DPRD provinsi hingga kota.

Tampak koordinator Golkar wilayah Riau dan Kepri Firman Subagyo, Wakil Gubernur Kepri HM Sani, Ketua DPD Golkar Kepri Ansar Ahmad dan tentunya 218 caleg Golkar. Semangat caleg terlihat menggebu untuk satu tujuan mengantarkan partai di zaman orde baru ini kembali meraup suara.

Pemilu 2009, partai zaman Soeharto ini memiliki target cukup tinggi dengan merebut 30 persen suara pemilih. Padahal, pemilu 2004, Partai Beringin hanya bisa memperoleh 21 persen suara. Itupun jumlah parpol tidak sebanyak sekarang. Lebih parah lagi, mereka berani menargetkan dua kursi DPR-RI. Kursi DPR biasanya diraih oleh PDIP, Golkar dan PAN. PKS, PPP, PKB atau Hanura juga berpeluang gencar mensosialisasikan calegnya. Golkar terkesan memaksa untuk mencuri dua kursi. Tetapi, partai dibesarkan Harmoko ini memiliki alasan tersendiri untuk mengambil kursi dari parpol lain yang sudah memasang target khusus untuk menjadi wakil daerah dengan jumlah pulau terbanyak di Indonesia.

Menurut Ansar Ahmad, bukan mustahil merebut dua kursi DPR. Pasalnya, empat caleg DPR Golkar merupakan figur handal dan memiliki kemampuan secara ekonomis dan politik. Misalnya Beng Sabli. Tokoh asal Natuna ini ditargetkan bisa meraup suara di kawasan Pulau Tujuh atau Natuna. Dengan demikian, suara Golkar di Pulau Tujuh bisa diamankan melalui Beng Sabli.

Sedangkan untuk suara di Batam, Golkar memasang Danny Ismeth. Tokoh muda dititipkan untuk merebut suara di Batam yang tak lain memiliki jumlah suara terbanyak di Kepri. Menang di Batam artinya menang di Kepri. Sedangkan Arie, salah satu caleg wanita bisa meraup suara kaum Hawa.

Di mana posisi Harry Azhar Azis? Putra Tanjungpinang, sekaligus Wakil Ketua Panitia Anggaran DPR ditargetkan bisa merebut suara di tiap kabupaten se Kepri. "Beliau tokoh ekonomi nasional. Dengan ketokohannya bisa meraup suara di tiap wilayah di Kepri," ujar Ansar.

Lalu siapa dua caleg diperkirakan akan lolos? Apakah Harry bersama dengan Danny? Atau salah satu diantaranya harus gigit jari untuk duduk di kursi empuk Senayan. Mungkin saja lolos Harry dan Danny? Ansar dalam kesempatan itu mengatakan, caleg Golkar harus yakin dan percaya diri membawa nama besar partai ke tengah-tengah masyarakat.

Ansar mengharapkan pasca deklarasi ini, caleg diminta turun langsung ke kantong pemilih untuk mengetahui apa keinginkan masyarakat. Menjelang pemilu, caleg diharapkan lebih giat terjun langsung ke lapangan guna memenangkan partai. Siapapun yang terpilih, itulah kader terbaik dipilih oleh rakyat. Bukan karena dia dekat dengan elit partai.

Bupati Bintan ini menjelaskan, upaya pencapaian target 30 suara persen bukan tanpa alasan. Ansar menilai, Golkar menjadi partai terbanyak memberikan kontribusi untuk masyarakat dibandingkan partai lain. Selain itu, Golkar memiliki tokoh masyarakat yang sudah teruji. masyarakat masih kecewa dengan partai baru karena belum memberikan kontribusi nyata untuk kemakmuran. Sedangkankan Golkar selama 32 tahun telah banyak berbuat untuk masyarakat. Banyak program bersentuhan langsung masyarakat lahir atas inisiatif Golkar.

Dengan jumlah 218 caleg, termasuk di dalamnya tokoh-tokoh sudah populer, target bisa jadi kenyataan. Di level provinsi, Golkar menyodorkan 37 orang. Tokoh lama yang diharapkan meraih suara di Batam diantaranya Nur Syafriadi, Taba Iskandar, Eddy Robert, Riski Faisal. Sedangkan di Tanjungpinang Golkar memasang Raja Syahniar Usman dan Ade Angga. Di Bintan dan Lingga dipasang Ketua DPRD Bintan Dalmasri Syam dan Erwan Buntaro. Sedangkan di Natuna, Sofyan Samsir tetap dipasang walaupun dinomor sepatu.

Caleg tingkat kota atau kabupaten se Kepri disiapkan 177 orang. Komposisi caleg wanita di DPR dari Golkar sudah memenuhi syarat Undang-Undang Pemilu mengamanatkan sebanyak 30 persen. Sedangkan kuota caleg di tingkat kota dan kabupaten, 29 persen, di provinsi memenuhi 30 persen.

Mengenai sumber daya manusia berdasarkan pendidikan, caleg berpendidikan SLTA sebanyak 39,22 persen, pendidikan D3 sebanyak 7 persen, S1 sebanyak 42,02 persen dan jenjang S2 dan S3 11,76 persen.


Suara Terbanyak

Partai ini, termasuk menggunakan suara terbanyak, setelah PAN terlebih dahulu mendeklarasikan dengan sistem tersebut, barulah Golkar dan PKB, dan Patriot dan partai lainnya mengikuti langkah PAN.

Alasan Golkar tetap menggunakan sistem suara terbanyak, ingin menjadi partai demokratis dalam melaksanakan pesta demokrasi. Dengan suara terbanyak, mesin politik bergerak. Golkar memberikan spirit ke kader untuk berkompetisi secara sehat dengan porsi sama. Peluang untuk duduk di Dewan tidak ada anak emas. Siapa banyak berbuat, maka berpeluang duduk, dibandingkan dengan celeg malas duduk manis di rumah.

Keuntungan lain, dengan menggunakan suara terbanyak, bisa membangun kultur politik baru. Calon dekat dengan rakyat, akan dipilih. Bukan lagi caleg dekat dengan pengurus partai. Dengan demikian, tujuan membangun sistem politik modern bisa terwujud.

Firman Subagyo dalam kesempatan itu menyatakan sistem suara terbanyak digunakan Golkar bukan tanpa alasan. Pertama dengan suara terbanyak semakin mendekatan diri dengan calon pemilih. "Akhir akhir ini terjadi penurunan kepercayaan kepada partai karena kasus korupsi. Ini semua perlu dicermati partai. Dengan sistem suara terbanyak akan lahir anggota dewan dari pilihan rakyat. Bukan utusan partai," tegasnya.

Firman mengingatkan agar caleg terpilih sering turun ke masyarakat guna memperkaya diri. Sesama caleg jangan berantam di kandang sendiri demi suara. Golkar sudah membuat kode etik selama kampanye.
Kalau ada caleg melanggar kode etik tersebut, maka tim pemenangan Golkar memberikan sanksi terhadap caleg yang melanggar aturan tersebut. Menariknya, tim pengawas berasal dari pengurus partai non caleg. Netralitas mereka terjaga.

Persaingan ketat dari dalam internal sendiri, membuat caleg harus bersaing di lapangan. Tak jarang sesama caleg belum memahami arti demokrasi. Sehingga sesama caleg Golkar saling memfitnah.

Bagaimana dengan munculnya gugatan sesama caleg? Firman menyatakan, kader harus taat kepada aturan partai. Jika ingin terus jadi kader.

Taba Iskandar menambahkan, dalam UU Pemilu, tak disebutkan mengikuti pemilu caleg. Peserta pemilu adalah parpol. Penentuan siapa menjadi wakil partai duduk di DPRD adalah parpol. Tentunya berdasarkan suara paling banyak diperoleh saat pemilu.


Sediakan Jurus


Firman mengatakan, Golkar sudah menyiapkan jurus untuk menangkis serangan dari lawan politik mengenai isu krisis global yang melanda Indonesia dan dunia saat ini. Kata Firman, bisa saja lawan politik menjatuhkan Golkar, dengan isu ekonomi.

Dalih Golkar menjawab isu ekonomi dengan cara menanamkan visi ke masyarakat bahwa, krisis ekonomi Indonesia bukan akibat kesalahan pemerintah sekarang. Tetapi disebabkan oleh Amerika Serikat (AS). Menurunnya daya beli AS karena krisis mengakibatkan menurunnya jumlah ekspor Indonesia ke AS.

"Kita sudah menyiapkan jawaban untuk mengatasi isu tersebut," kata Firman Subagyo, kemarin.

Dia tidak menyangkal partai politik lain akan menggunakan isu krisis ini untuk menurunkan pamor Golkar. Karena di saat krisis, presiden dan wakil presiden berkuasa berasal dari Partai Golkar dan Demokrat.
Untuk mengatasi itu tersebut, kata Firman, Golkar meminta kepada setiap caleg menjelaskan secara baik kepada masyarakat kondisi krisis.

Caleg diberikan pengertian supaya mereka bisa menjelaskan ke pemilih bahwa krisis bukanlah kesalahan dari Golkar sebagai partai pemenang pemilu. Krisis terjadi di seluruh dunia. Krisis di Indonesia akibat krisis di AS.
Golkar juga menyiapkan jurus mengkritisi iklan parpol tertentu.

"Apa mungkin dalam 100 hari masalah bangsa bisa tuntas," tanya Firman.

Dia mengatakan, DPD Golkar Kepri memiliki rekor yang baik dibandingkan dengan DPD tingkat satu di daerah lain. Untuk itu, Golkar di Kepri harus memenangi pemilu.

Dalam kesempatan itu juga, partai pemenang pemilu 2004 ini, melakukan deklarasi bersama dengan menyebutkan caleg Golkar harus menjadi nomor satu. Kemudian mereka bersemangat melaksanakan cita- cita pembangunan nasional berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Caleg diminta untuk berjuang secara konsisten memakmurkan, memberikan keadilan untuk masyarakat Kepri. (robby patria)

Selasa, 18 November 2008

Mencari Sesuap Nasi








Pagi hari, nelayan sudah keluar dari rumah untuk mencari nafkah. Dengan perahu kecil menebar jaring di perairan selat antara Kampung Bugis dan Pelantar Dua Tanjungpinang. (robby patria)

Senin, 17 November 2008

Perang Sarap Daerah Penghasil Migas



Anambas memang sudah berpisah dari Kabupaten Natuna. Tapi, yang jadi persoalan Anambas belum diakui sebagi daerah penghasil. Sehingga Anambas yang diimpikan memiliki kekayaan migas belum terwujud. Padahal perusahaan migas seperti Conocophilips yang beroperasi saat ini, berkantor di Palmatak, yang masuk dalam kawasan Anambas.

Salah satu sumber dari anggota yang tergabung dalam Badan Perjuangan Pembentukan Kabupaten Kepulauan (B2KA), untuk masalah migas ini biarkan bupati yang bertanggung jawab untuk menyelesaikannya. "Diakan sekarang jadi bos. Jika tidak mampu, baru kita turuntangan."

Masalah perebutan migas ini bisa jadi 'perang dingin' antardua daerah yang belum menikmati kejayaan pembangunan. Sebelum, pemekaran disahkan, Bupati Natuna Daeng Rusnadi berusaha agar daerah yang dia pimpin tidak terpecah belah. Kini sudah sirna. Harapan itu hilang. Yang diharapkan dari Natuna, Blok D-ALpa tetap masuk dalam Natuna. Karena kekayaan yang terpendam dalam laut itulah yang
bisa mengobati kekecewaan lepasnya Anambas.

Bagai dua sisi pisau yang tak mungkin ketemu. Anambas ingin menjadi daerah penghasil. Dengan status itu, daerah ini bisa melaksanakan pembangunan lebih cepat. Bisa saja, Anambas dan Natuna menjadi daerah penghasil. Tetapi, jumlah DBH juga pasti tergerus. APBD Natuna yang sempat menembus Rp1 triliun harus lenyap. Karena dibagi dengan Anambas.

Jika melihat geografis Anambas yang memiliki banyak pulau, menyebabkan tak mudah untuk melaksanakan pembangunan. Jumlah penduduk lebih kurang 40 ribu, menyebar di ratusan pulau besar dan kecil. Di Tarempa, memang sudah dilengkapi dengan infrastruktur.

Tetapi belum memadai. Jumlah perbankan pun tak sampai 10 bank yang membuka cabang di sana. Jangan ditanya mal. Yang ada minimarket kecil-kecilan. Apalagi hotel. Yang ada hanya kamar-kamar kecil yang langsung menghadap ke laut yang luas.

Jalan raya tidak semulus di Batam. Dengan keterbatasan bangunan dan sarana, pembangunan Anambas membutuhkan dana yang tak sedikit. Sebelah utara wilayah Anambas berbatasan dengan Laut Cina Selatan, sebelah timur berbatasan dengan Laut Natuna. Sebelah selatan

berbatasan dengan Kepulauan Tambelan, dan sebelah barat berbatasan dengan Laut Cina Selatan. Anambas memiliki enam kecamatan, yaitu Kecamatan Siantan, Jemaja, Palmatak, Jemaja Timur, Siantan Selatan dan Siantan Timur.

Kabupaten Kepulauan Anambas memiliki luas wilayah keseluruhan ± 590,14 kilometer per segi dengan jumlah penduduk lebih kurang 41.341 jiwa pada tahun 2007.

Belum banyaknya infrastruktur yang dibangun di sana, membuat pejabat bupati Anambas harus berkantor di Kantor Camat Tarempa menempati bekas kantor camat. Tugas berat sudah jelas di depan mata. Apalagi, jika daerah ini belum diakui jadi daerah penghasil. Dari mana lagi sumber pembiayaan untuk pembangunan.

Memang pemerintah Provinsi Kepri akan memberikan bantuan Rp5 miliar per tahun selama tiga tahun. Begitu juga dengan Natuna. Harapan ada di Dana Alokasi Umum. Tahun 2009, Anambas akan mendapatkan alokasi Rp45 miliar. Dengan dana tersebut, pemerintah sementara Anambas harus membagi anggaran untuk masyarakat dan pembangunan infrastruktur. Memang tugas berat menanati. Jangan sampai dana awal itu untuk kemakmuran pejabat saja. Minim pembangunan. Memang beralasan, banyak pegawai di Kepri yang enggan pindah ke Anambas.

"Untuk apa ke Anambas. Mending saye di Tanjungpinang. Tenang hidup. Semue kebutuhan ade," demikianlah kata-kata yang keluar dari salah satu masyarakat Anambas.

Untuk mempercepat pembangunan, Anambas memang mengandalkan migas. Sedangkan menurut Wakil Bupati Kabupaten Natuna Amirullah Anambas bukan daerah penghasil minyak dan gas (migas), sesuai dengan Undang-Undang No 33 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kabupaten Anambas. Dengan demikian, katanya, dana bagi hasil (DBH) migas Natuna lebih besar dibandingkan daerah lainnya di Kepulauan Riau. Kecuali, ada revisi undang-undang yang menyatakan Anambas sebagai daerah penghasil migas.

Menurut dia, dari peta pembentukan Anambas, titik-titik tempat eksploitasi migas tidak masuk dalam daerah Anambas. Perusahaan migas yang ada saat ini berada di tengah laut masuk dalam wilayah Natuna. di Anambas hanya dijadikan basecamp saja.
Karena Anambas bukan daerah penghasil, maka jatah DBH migas Anambas sama dengan daerah lainnya di Kepri.Memang ada usulan pembagian DBH migas, 40 persen untuk Natuna dan 60 persen untuk Anambas. Tapi itukan tidak sesuai dengan undang-undang. "Kita harus mengacu kepada aturan yang ada," kata Amirullah.

Jika nanti ada aturan yang menyatakan Anambas daerah penghasil, jelasnya, maka daerah itu berhak mendapatkan dana migas lebih besar. Untuk sekarang ini belum bisa. Memang ada upaya untuk menjadikan Anambas sebagai daerah penghasil. "Tapi, kita lihat dulu lah," imbuhnya.

Wakil Ketua DPRD Natuna dari daerah pemilihan Anambas Wan Zuhendra tidak sependapat dengan Amirullah. Dua daerah Anambas dan Natuna, katanya, harus berbagi sama rata untuk hasil migas. Kekayaan alam di Laut China Selatan seperti migas harus digunakan untuk kesejahteraan rakyat dua kabupaten.

"Tujuan pemekaran Anambas itu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Jangan dana migas ini untuk satu daerah saja. Anambas juga bagian dari Natuna," ujar Wan.

Dia mengharapkan sebaiknya pemerintah Anambas dan Natuna berunding mencari jalan keluar agar sama-sama menikmati DBH. "Dengan adanya pembahasan kedua belah pihak biar fear. Kedua pemimpin daerah harus mengutamakan masyarakatnya," kata Wan.

Menurut Wakil Ketua Panitia Anggaran DPR-RI Harry Azhar Azis saat ini memang terjadi pembahasan apakah Anambas sebagai daerah penghasil atau tidak. Jika mengacu undang-undang pembentukan Anambas disebutkan bukan daerah penghasi migas, maka jatah DBH
Anambas sama dengan daerah lain di Kepri.

"Daerah penghasil migas akan mendapatan jatah yang lebih dibandingkan daerah bukan penghasil. Itu saja bedanya," kata politisi Golkar asal daerah pemilihan Kepri itu.

Untuk 2009, pemerintah pusat mengalokasikan Dana Alokasi Umum (DAU) untuk Anambas sebesar Rp 33 miliar. Dana tersebut belum termasuk tanpa dana bagi hasil minyak dan gas. Dana Alokasi Khusus (DAK) tanpa dak kesehatan sebesar Rp4 miliar. Dana bagi hasil tanpa sumber daya alam minyak dan gas sebesar Rp 10,4 miliar. Jika ditotal, Anambas akan mendapatkan dana pusat mencapai Rp47,5 miliar.

DAU Anambas jauh berbeda dengan Kabupaten Natuna sebagai kabupaten induk. DAU Natuna tahun 2009 sudah diputuskan sebesar Rp90, 2 miliar. Dana alokasi khusus tanpa kesehatan sebesar Rp 32 miliar. Dana bagi hasil sumber daya alam tanpa migas sebesar Rp10,4 miliar. Sehingga total dana yang diperoleh Natuna 133,2 miliar. (robby patria)

Senin, 27 Oktober 2008

Bukan Kemerdekaan Individu yang Kami Cari


Aksi Putu Wijaya di BAF. foto Wijaya Satria Batam Pos.



Burung perkutut tak ingin terbang dan merdeka. Tapi daerah di Indonesia ingin merdeka dengan otonomi. Pusat jangan menjajah kemerdekaan yang sudah diberikan ke daerah. Setidaknya, inilah pesan yang disampaikan Putu Wijaya melalui aksi monolog saat
menjadi bintang tamu Bintan Art Festival (BAF) yang ke delapan.

BAF makin dewasa dengan hadirnya sastawan negeri ini Putu Wijaya. Gawean BAF kali ini juga berbeda dari biasanya. Acapkali BAF digelar di Gedung Kesenian Aisyah. Kini acara kesenian yang berlangsung dari 24-25 Oktober 2008 itu dapat disaksikan di lapangan
terbuka. Tepatnya, di depan Gedung Daerah Tanjungpinang. BAF terlihat lebih menarik dibandingkan pelaksanaan BAF tahun sebelumnya.

Husnizar Hood sebagai Ketua Dewan Kesenian Kepulauan Riau berusaha mendatangkan Putu Wijaya agar BAF kali ini istimewa. Walaupun sebelum Putu, tampil sastrawan muda seperti Fajar Riadi dari Solo, Hasan Aspahani, Ramon Damora, dan Ikranegara.Maknet Putu masih menarik sampai detik ini. Malam itu, Putu yang tampil dengan pakaian serba hitam kembali
menunjukkan dia sebagai penyair kelas wahid di Indonesia.

Mulai dari kopiah, baju, celana, sampai sepatu, peraih piala Citra di Festival Film Indonesia (FFI) ini menggunakan warna hitam. Warna hitam, sudah menjadi ciri khas dari penyair. Terkesan, hitam itu sudah miliknya penyair. Ya, penuh tanda tanya, misteri yang terselubung di balik warna hitam.

Penampilan pengarang lebih dari seribu cerpen ini memang ditunggu-tunggu warga Tanjungpinang. Panggung yang cukup luas, membuatnya lebih leluasa untuk mengeksplorasi diri. Bentuknya panggung agak bundar. Di tengah panggung, panitia BAF menyediakan papan untuk meletakkan sangkar burung, dan satu kursi warna coklat. Didikung sistem suara yang bagus, membuat susana BAF lebih romantis. Perlengkapan tersebut untuk mendukung aksi sastrawan yang pernah mengikuti International Writing
Programme, Iowa, AS.

Jarum jam menunjukkan pukul 22.00 Wib. Saat itulah, mantan redaktur di Majalah Tempo ini langsung meletakkan perlengkapan untuk menambah daya tarik aksinya. Tepung yang dibawa dalam kantong kresek pun dia masukkan dalam sangkar burung. Seolah- sang sastrawan memberi makan burung perkutut yang berada dalam sangkar. Padahal, burung tak pernah ada.

Malam ini, kata penerima Profesional Fellowship dari The Japan Foundation Kyoto, Jepang ini, ada 200 juta lebih burung perkutut dalam sangkar yang dipelihara oleh seorang majikan tua. Sang majikan ingin memberikan hadiah kepada salah satu burung perkututnya untuk merdeka–terbang ke angkasa dan menghadapi hidup tidak dalam sangkar lagi, melainkan lewat langit.

Tetapi, perkutut burung takut dengan kemerdekaan itu. Burung kecil tak mau terbang menghirup udara segar. Sebab, kebiasan perkutut yang hidup di dalam sangkar lebih nyaman, ketimbang merdeka dan mencari makan sendiri. Belum lagi, banyak predator yang mengerikan di luar sana yang siap menerkam. Perkutut tetap tak mau terbang. Padahal sang majikan telah membuka pintu sangkar dengan selebar-lebarnya.

Dengan gayanya yang bisa mengubah suara, penulis novel "Tidak" memerankan tiga tokoh pada malam penutupan BAF. Pertama tokoh burung perkutut yang takut akan kebebasan. Kemudian tokoh pemilik burung pipit yang setiap hari memberikan burung makan.

Lalu Putu juga berperan sebagai dirinya sendiri. Tanpa teks, acara semacam drama yang berdurasi hampir satu jam lamanya. Dalam monolog, Putu sempat melakukan intraksi dengan ratusan penonton yang tak beranjak menyaksikan pertunjukkan.

"Tuuuut,, tuuuut, tuttt, mana perkutut Tanjungpinang," kata Putu memancing penonton untuk mengikuti perkataannya. Semua penonton yang masih malu dengan ajakan Putu terdiam.Hanya dikit yang mengikuti. Tetapi, ketika dia mengakatakan," Saya terbang lebih dari 1 jam ke Tanjungpinang untuk mencari perkutut."

Sepontan, pecinta seni di sana langsung bersuara seolah-olah terbius ajakan Putu. Tanpa dipandu, mereka langsung bersuara seolah-olah menyerupai perkutut yang bising pada pagi hari.Satu keberhasilan sastrawan di dalam pertunjukkan dicontohkan Putu.

Emosi Putu terkadang meledak-ledak. Suaranya berteriak, memecah keheningan malam tanpa kilauan bintang. Putu terkadang memekik. "Terbanglah kau burung. Cari kebebasan di langit sana," teriaknya.

Sambil memukul-mukul sangkar dengan kursi, Putu terus meraung. Membuat mata tak berkedip. Denyut jantung terkadang terhempas melihat aksi pria yang jarang melepaskan topi warna putih. Dia seolah-olah menangis, menyesal dengan sikap burung pipit yang
enggan pergi dari sangkar.

Sesekali tangannya mengambil tepung di sampingnya. Tepung itu diterbangkan ke atas. Tak ayal, pakaian hitam yang dikenakan pun jadi memutih kena tepung. Kopiah Putu berubah warna jadi putih. Tak ada keraguan untuk Putu melakukan hal itu. Dia juga merayap di atas pentas. Padahal umurnya sudah lebih dari setengah abad.Umur tidak membuuat Putu lemah. Suaranya tetap lantang menghayati tiap kata-kata yang keluar dari mulutnya.

Berulangkali disebut Putu, sang perkutut dengan sebutan “bodoh!” Sang majikan berpendapat, perkututnya tak menghargai kemerdekaan padahal bangsa-bangsa di dunia sejak dulu kala bersimbahan darah demi kemerdekaan itu.

Berulangkali pula, sang majikan membentak perkutut, bahkan mengancam. “Jika tidak keluar, maka aku akan membunuhmu!” ucap sang majikan terhadap perkutut tersebut. Dengan menggunakan sapu lidi, Putu menikam burung dalam sangkar. Sehingga sapu lidi pun
menancap di sangkar.

Pekutut yang dipaksa suruh terbang akhirnya menabrak tembok. Dan terlihat pingsan.
Sang majikan terkejut, perkututnya jatuh ke tanah tak bergerak lagi.

"200 juta perkutut-perkutut lain pun miris melihat kematian perkutut tersebut," ucap Putu.

Sang majikan pun tak habis-habisnya menyatakan perkutut tersebut bodoh. Dan ia pun seakan menasihati perkutut-perkututnya yang lain agar meresapi arti kemerdekaan.
Namun tiba-tiba, perkutut-perkutut yang dimiliki oleh bapak tua tadi, lain mendobrak sangkar terbang jauh ke langit. Sang majikan pun kesalnya bukan main. Ratusan perkutut itu terbang ke sana-kemari. Burung itu pun membuang tahinya ke bumi. Dan mengenai kepala majikan.

Dalam pesannya perkutut, “Bukan kemerdekaan individu yang kami mau. Tetapi, kemerdekaan secara bersama yang kami inginkan.”

Embun malam mulai meresap ke dalam tulang.Malam mulai sepi. Tanjungpinang begitu istimewa dengan kehadiran Putu sebagai penampilan kunci BAF. Memang BAF tidak kehilangan arah tanpa Putu. Setelah Raja Haji Fisabillilah, kemudian Sutardji, siapa lagi yang akan menjadi lagendaris sastar dari bumi Melayu. Dua tokoh itu sudah diakui oleh seantero negeri ini kualitasnya. Akankan, Kepri melahirkan sastrawan baru setelah Raja Haji dan Sutardji. Hanya waktu yang bisa menjawab. (robby patria)

Minggu, 26 Oktober 2008

Putra Tanjungpinang Itu Nyaris Jadi Menteri

Harry Azhar Azis tengah saat di AS


Hotel Sempurna Tanjungpinang malam pertengahan Oktober 2008 kedatangan tamu istimewa. Ruangan pertemuan hotel yang sederhana sesak dengan pelbagai perwakilan dari tokoh masyarakat di Bintan. Dengan pencahayaan yang pas-pasan, suasana yang dibalut suasana Idul Fitri berlangsung dengan penuh makna.

Malam yang hening menjadi saksi, melihat, mendengar anak daerah yang kini menjadi anggota Komisi XI DPR-RI Harry Azhar Azis melakukan pertemuan menjelang pemilu. Momen itu juga disejalankan halal bihalal dengan warga Tanjungpinang.

Deretan puluhan kursi penuh dengan tokoh masyarakat. Saat jarum pendek jam dinding ruangan menunjukkan pukul 21.00, barulah Helmi, tokoh pemuda asal Tambelan memberikan kata sambutan sebagai tanda dibukanya acara tersebut.

Sebelum acara pertemuan khusus digelar, tamu yang datang diperkenankan untuk mencicipi makanan nasi. Harry terlihat asik berbicara dengan teman masa kecilnya di Tanjungpinang Erni dan Erna. Dua wanita kembar ini, memang tinggal di dekat rumah Harry di Tanjungpinang di Jalan Yusuf Kahar, di samping Hotel Sempurna. Erna dan Erni juga banyak tahu kelakuan Harry semasa kecil.

"Saya dulu suka berenang di tepi laut. Sampai badan saya hitam karena tak pakai baju. Erna dan Erni biasa melihat kalau saya sudah berenang,"

imbuh Harry mengingat masa kecilnya di Tanjungpinang sambil tersenyum simpul.

Setelah menyampaikan sikapur sirih, Helmi pun mengundang Harry Azhar untuk naik ke podium yang berwarna coklat. Harry pada malam itu menggunakan baju batik coklat, tampak menggunakan kopiah hitam. Dengan penuh percaya diri, dia memulai pembicaraan dan menceritakan kedatangannya di Tanjungpinang.

Harry Azhar merupakan anak pensiunan PNS di Kantor Pekerjaan Umum Tanjungpinang. Namanya Azis yang kini jadi nama belakang Harry. Sejak kecil dia sudah diingatkan sang ayah untuk terus belajar mengejar pendidikan setinggi-tinggi. Karena dengan pendidikan yang tinggi bisa merubah nasib untuk lebih baik.

"Kita bukan dari kalangan konglomerat. Kita ini hidup sederhana. Tak ada cara lain, untuk merubah nasib, harus melalui pendidikan," kenang Wakil Ketua Panitia Anggaran DPR-RI itu dengan nada yang lembut menyebutkan pesan sang ayah.Harry mengenyam pendidikan SD di Tanjungpinang. Lalu melanjutkan SMPN 002 yang tak jauh dari rumahnya.

Saat pulang ke kota gurimdam itu, dia sempat sedih. Karena SMP sudah menjadi hotel Laguna yang berhimpitan dengan Bestari Mal. Andaikan dana pendidikan dialokasikan pemerintah 20 persen sejak dulu, mungkin SMP 2 tidak menjadi mal. Minimnya dana, membuat sekolahnya harus dipindah ke Jalan Kuantan Km5.

Masa kecil pria yang kini rambutnya mulai menipis ini, dihabiskan di Tanjungpinang. Memang dia tidak menamatkan pendidikan SMP di Kota pantun. Tokoh politik dari Golkar itu melanjutkan pendidikan di Jakarta hingga meraih gelar sarjana.

Keluarga Harry di Bintan cukup sederhana. Sehingga untuk menambah uang jajan, Harry sempat berjualan roti di dekat Pelabuhan Sri Bintan Pura. Setiap pagi, dia berjualan roti dan kue-kue lainnya.

Suatu kejadian yang tak pernah dilupakan anggota Komisi XI DPR-RI itu, saat berjualan kue, ada anak buah kapal yang ingin membeli roti yang dijual. Karena Harry tidak membawa kantong untuk memasukan roti yang dipesan. Anak kecil yang kini Wakil Panitia Anggaran DPR itu harus

menelan air ludah. Sang pelaut batal membeli roti yang dijual dalam jumlah yang banyak."Dia hanya membeli dua keping saja. Karena tak ada bungkusan. Andai saya membawa kantong, tentunya, roti saya habis dijual. Masalah itu saya kasi tahu ke ibu," katanya.



Saat malam yang penuh dengan kilauan bintang meneteskan embun, konseptor ekonomi Partai Golkar dengan panjang lebar menjelaskan rencananya untuk kembali menjadi caleg dari Partai Golkar ke tokoh masyarakat yang hadir. Mantan Ketua Umum BP HMI 1983 ini, pernah dicalonkan parpol diera 90-an. Tetapi karena dia yakin, ilmunya masih belum memadai untuk duduk di Senayan, Harry enggan untuk menerima pinangan dari parpol.

Apa artinya jika duduk di DPR, tetapi tak bisa memberikan pemikiran untuk kemajuan bangsa. Salat istikarah dilakukan untuk menentukan pilihan menjadi caleg atau tidak saat itu. Kemudian Harry pun melanjutkan kuliah master di Amerika Serikat di University of Oregon, Bidang Economic Public Policy. Selama di AS, Harry harus kehilangan ibunda karena dipanggil Sang Khalik.

Pria yang memiliki jangot tipis itu kembali kehilangan orang tuanya saat dia menempuh pendidikan doktor di Oklahoma State University, Stillwater, Oklahoma-USA, 1994-2000. Sang ayah dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Taman Bahagia Tanjungpinang.

"Kedua orang tua saya tidak sempat melihat saya menyandang doktor dari AS. Saya tak punya uang waktu itu untuk pulang ke Tanjungpinang,

saat ayah sakit," katanya lirih dengan suara yang datar. Nada bicaranya nyaris seperti Akbar Tanjung. Ya, hubunganya dengan Akbar Tanjung cukup dekat. Apalagi Akbarlah yang mendorong Harry untuk maju menjadi caleg dari Golkar.

"Untuk apa berilmu jika tidak didermakan untuk bangsa ini," kata Harry mengikuti kata Akbar yang meminta dirinya menjadi caleg dari Golkar kala itu. Akbar masih jadi Ketua Umum Golkar sebelum digantikan Jusuf Kalla.

Harry yang menjadi aktivis HMI semasa kuliah pernah di penjara karena terlalu vocal terhadap rezim Soeharto. "Jika saya ingat kasus saya dipenjara, rasanya tak mau lagi masuk ke dunia politik. Tetapi untuk pengabdian, saya kembali terjun ke politik guna membela menyuarakan kepentingan ramai," ucapnya.

Harry mengatakan, jika terus bertahan di Tanjungpinang, sulit rasanya dia seperti sekarang ini. Untuk merubah nasib, dia harus ke Jakarta. Meningalkan Tanjungpinang untuk mengejar mimpi sekaligus merubah nasib lebih baik.

Setelah cita-cita digapai, kini tiba saatnya ayah dua anak ini untuk mengabdikan diri untuk Tanah Air melalui DPR. Tak mungkin, dengan kemampuan yang terbatas di bidang pendidikan, bisa memberikan kontribusi ke ke negara. Dengan kemampuan yang ada, sudah saatnya untuk memberikan pemikiran ke bangsa Indonesia. Jabatan strategis di DPR pun dipercayakan ke putra Tanjungpinang itu.

"Saya bermimpi, Tanjungpinang ini menjadi kota budaya. Biarlah Batam kota industri. Kota ini harus menjadi pusat budaya. Karena sumber bahasa Indonesia akarnya dari sini," ucap Harry.

Selain itu, Tanjungpinang harus memiliki universitas yang berbobot agar bisa menghasilkan sumber daya manusia yang handal. Andai saja setiap pemda di provinsi ini mau memberikan dana beasiswa untuk putra terbaik, maka setiap tahun akan lahir SDM yang pintar.
Setiap lima tahun akan lahir doktor-doktor baru di Tanjungpinang dan memimpin daerah ini.

"Jika kepala dinas dijabat doktor, tentulah mereka memiliki pemikiran yang bagus untuk pembangunan di Kepri. Negeri ini akan maju," ucap dosen Universitas Indonesia itu. Dengan pemikiran yang cemerlang, Harry kembali mencalonkan diri untuk pemilu legislatif dari Partai Golkar di nomor urut 1 saat pemilu 2009.

Dalam masa sosialisasi ini, seorang caleg harus sering ketemu masyarakat untuk guna mencari masalah yang terjadi. Tentulah dicarikan jalan keluarnya.Dia optimistis, duduk kembali ke Senayan untuk memperjuangkan kepentingan Kepri di Jakarta. Walaupun dari Kepri hanya mengirimkan tiga wakil ke DPR. Tetapi dengan posisi tawar yang tinggi, dan didukung dengan argumen yang mendukung, kepentingan Kepri akan didukung.

"Jika saya tak terpilih kembali, saya akan kembali ke habitat saya menjadi dosen pasca sarjana," tuturnya. Tetapi, sebelum masa penjoblosan itu tiba, sebelum perhitungan suara itu sampai, sebelum tahu siapa yang menang dan kalah itu datang, Harry akan bertarung merebut hati pemilih Kepri.

"Setidaknya saya sudah memiliki pengalaman di DPR, Saya sudah memberikan kontribusi untuk Kepri dan Indonesia. Untuk itu, tak salah jika saya ingin melengkapinya jika diizinkan Tuhan dan masyarakat Kepri tentunya," katanya.

Dari segi pengalaman pemerintah, Harry nyaris menjadi menteri dalam Kabinet Indonesia Bersatu (KIB). Saat terhadi reshuffle KIB, nama Harry bersama Paskah Suzeta diusulkan dar Golkar untuk menggantikan sejumlah menteri yang diistirahatkan SBY. Namun, atas pertimbangan, karir di Golkar, Paskah dipilih jadi menteri. Dari segi kemampuan, Harry tak kalah dari Paskah.

Bahkan banyak kalangan menilai, Harry lebih laik dari Paskah untuk memegang jabatan menteri. Saat pergantian kepemimpinan 2009, tidak menutup kemungkinan, penjual roti itu menjadi menteri. Warga Tanjungpinangpun akan mengukir prestasi. Memang kota ini sudah tak asing lagi menghasilkan tokoh nasional. Setidaknya untuk zaman reformasi, muncul kembali anak Melayu di pentas politik nasional.Amin. (robby patria)

Kamis, 09 Oktober 2008

AS Terjepit, Batam Menjerit


Perekonomian Amerika Serikat (AS) sedang mengalami krisis keuangan. Dampaknya sudah mulai dirasakan secara global termasuk Indonesia. Aktivitas Bursa Efek Indonesia harus dihentikan sementara karena terjadi penurunan Indek Harga Saham Gabungan yang menembus angka di luar kewajaran. Dengan terjepitnya AS mungkinkan Batam akan menjerit?

Media massa di Batam dalam sepekan terakhir banyak memberi porsi pemberitaan mengenai dampak krisis AS terhadap Batam. Ada yang berpendapat Batam akan merasakan krisis tersebut 3-6 bulan yang akan datang. Sebab saat ini data ekspor dan impor belum diketahui sehingga jangka pendek belum berdampak ke Batam. Nilai kontrak dengan importir juga belum jelas. Ya, awal 2009, dampak krisis AS itu bisa di lihat oleh pelaku ekonomi di Batam.

Secara langsung, krisis di AS memberikan dampak negatif terhadap Batam. Sebab, AS bukanlah negara yang bersentuhan langsung dengan Kepulauan Riau, Batam pada khususnya. Apalagi, nilai ekspor Batam ke negara Paman Sam itu cuma 1 persen dari nilai total ekspor yang menembus 7 miliar dolar AS di tahun 2007. Tetapi, AS masih negara kedua setelah Jepang tujuan ekspor Indonesia yang nilainya 73,54 miliar dolar AS per tahun.

Memang bagi Batam AS terlalu jauh dibandingkan dengan Singapura. Nyawa Batam sangat tergantung Singapura. Bukanlah AS. Tetapi, Singapura mengandalkan AS sebagai negara tujuan Ekspor. Barang yang diimpor Singapura diekspor ke AS. Sebenarnya Batam, Singapura dan AS satu rangkaian yang saling membutuhkan.

Sehingga tak salah, jika Kepala Bank Indonesia Batam Irwan Lubis mengatakan jika Singapura flu, maka Batam pasti meriang. Karena hubungan kedua negara begitu dekat.

Secara umum, krisis AS akan memperlambat usaha pemerintah untuk mendatangkan investasi ke Kepri dan Batam. Karena perusahaan asal negara adikuasa itu kesulitan untuk melakukan pendanaan untuk ekspansi sektor riil. Krisis keuangan membuat perbankan di AS untuk sementara menahan pemberian krdit ke sektor usaha.

Hal yang sama juga dilakukan perbankan di Eropa. Untuk itu, Badan Pengusahaan Kawasan Batam yang dulunya Otorita Batam harus mencari alternatif negara lain untuk melakukan investasi di Batam. Ya, negara asal Timur Tengah, Jepang, Rusia, Spanyol berpontensi untuk menanamkan modalnya di Batam. Sayangnya, sejumlah negara masih memiliki ketergantungan dengan AS. Bank negara di dunia, masih memiliki hubungan dengan perbankan di AS. Ketika bank negara itu berjatuhan, bank di dunia kena imbasnya.

Industri di Batam, paling banyak berasal dari investor asal Singapura yang tak lain berasal negara di Eropa dan AS. Perusahaan asal AS yang melakukan ada di Kepri kebanyakan bergerak sektor migas seperti Conoco Philip, Exxonmobile, Mc Dermot. Lagi pula, perusahaan ini orientasi ekspornya bukan ke AS, tetapi negara maju di Eropa dan Timur Tengah. Sehingga tak berpengaruh terhadap bisnis utama perusahaan tersebut.

Terlalu jauh, efek domino krisis AS untuk membuat Batam menjerit. Batam tetap aman dari krisis untuk jangka pendek, belum aman untuk jangka panjang. Bagaimanapun, AS memegang perekonomian dunia yang kemudian disusul China. Negaranya Obama itu sedang menghadapi masalah yang serius. FTZ di Kepri bisa saja tidak memberikan dampak apapun dengan melemahnya perekonomian dunia. Bagaimana mau investasi, sementara kondisi keuangan negara perusahaan sedang mengalami masalah. Sumber pendanaan untuk ekspansi berasal dari pasar modal dan perbankan. Tetapi, kedua lembaga ini sedang mengalami masalah besar. Banyak diantaranya bangkrut.

FTZ yang didengungkan akan meraup investasi 15 miliar dolar selama 5 tahun tampaknya harus terkoreksi. Bukan tak mungkin, sampai dengan akhir tahun, tingkat investasi di Kepri stagnan. Walaupun, daerah ini menjadi kawasan pelabuhan bebas dan perdagangan bebas. Akibatnya, ribuan tenaga kerja yang masuk ke Batam, Bintan, Karimun harus gigit jari karena belum mendapatkan pekerjaan.

Untuk membangkitkan kembali perekonomian di Kepri, pemerintah harus cepat mencabut PP Nomor 63 tentang Pajak Pertambahan Nilai dan PPnBM. Dengan cara itu, krisis investasi di Kepri bisa diobati. Pertumbuhan ekonomi dari luar kawasan industri diharapkan bisa menggerakkan roda perekomian di saat kawasan industri sedang stagnan dan minim order.

Sebab, untuk kawasan industri di Batam sebenarnya sudah mendapatkan insentif bebas pajak sejak dulu. Sehingga FTZ kali ini sebenarnya hanya pemanis. PP 63 memang obat penawar yang dibutuhkan Batam untuk melawan krisis berkepanjangan yang melanda dunia.

Jika pemerintah tidak mencabut PP 63 karena takut kehilangan pajak, maka lambat laun, Batam akan kena impas dari krisis ekonomi.
Mana ada investasi yang masuk, tanpa ada sumber modal dari negara asal. Tak mungkin permintaan barang produksi meningkat ketika sang pembeli mengalami masalah. Yang ada, produksi menurun, jumlah tenaga kerjapun akan dipangkas. Pemutusan hubungan kerjapun tak dapat dielakkan. Untuk itu, jangan terlambat, PP 63 cepat dicabut. (robby patria)

Selasa, 07 Oktober 2008

Lebaran Bersama Kekasih




Lebaran di kampung halaman jauh lebih nyaman ketimbang di kota orang.
Selain suasana yang berbeda di kota, dan jauh dari orangtua, makanan
bingke khas Tambelan tak saya jumpai saat Lebaran di Tanjungpinang.

Saat Matahari terbenam di ufuk barat sebagai tanda Ramadan meninggalkan
penghuni bumi, suara kemenanganpun bergema di seantero jagad mengumandangkan asma Allah Aza Wazalla. Saat itu pula, saya bersama isteri saling berpandangan.

Ya, Lebaran kali ini memang lain dari suasan biasanya.Karena saya ditemani
sang isteri tercinta. Bersamanya hari kemenangan dirayakan di Tanjungpinang. Tepatnya di kediaman kami di Perumahan Taman Harapan Indah.Untuk persiapan Lebaran, kami pun pergi ke supermarket untuk membeli kebutuhan Lebaran mulai dari kue sampai lansi.

Setidaknya ada 13 macam kue yang disiapkan saat Lebaran, mejapun terlihat
penuh berisi dengan kue. Sebagian kue diimpor dari Tambelan. Walaupun tak Lebaran di sana, saya dan isteri bisa menikmati kue khas yang ada di Tambelan. Dan kue tersebut
uniknya tak mudah dijumpai di Tanjungpinang.

Lebaran kali ini, moment pertama saya bersama isteri. Dan itulah sejarah
kehidupan yang takkan pernah lupa. Belanja bersama, membeli barang kebutuhan hari raye memang menjadi kepuasan tersendiri. Aku dan dia ke pasar membeli ketupat, dan bumbu-bumbu untuk membuat kari ikan tongkol.

Walaupun masih belajar, akhirnya proses memasak kari dan ketupat berhasil.
Makan pada pagi hari Idul Fitri bersama sang isteri dengan kari
masakannya menjadi indah. Sehabis makan, kamipun berangkat ke masjid untuk
salat id.

Suasana Lebaran pun kami rasakan saat bersilaturahmi ke keluarga sampai
semalam suntuk. di Hari kedua, baru kami merayakan ke rumah teman-teman
wartawan yang ada di Tanjungpinang. Uniknya, teman-teman saya di Tanjungpinang enggan ke tempat pejabat. Padahal, pejabat itu mereka beritakan setiap saat. Mungkin, teman-teman tetap menjaga jarak dengan nara sumber. Sehingga Lebaran, kami tak mesti mengunjungi mereka.

Suasana di hari kedua juga tak begitu berbeda dengan hari pertama.
Kemeriahan tetap menghiasi raut wajah dari teman-teman jurnalis di
Tanjungpinang. Mungkin mereka semua berpuasa. Dan amal mereka diterimaNya.
Sehingga menampakkan wajah-wajah gembira saat Lebaran tiba.

Karena ada dua kebahagian yang diperoleh orang berpuasa, yakni saat
berbuka saat berpuasa. Dan saat Lebaran tiba. Makanan di Lebaran memang harus waspada. Kalau tidak, perut akan mengalami masalah. Ha ha ha, Lebaran memang penuh makna. Untuk saling memaafkan. Tetapi alangkah lebih baik kita saling memaafkan di setiap saat. robby patria

Senin, 06 Oktober 2008

Wartawan Birokrat

Jadi jurnalis birokrat kerjanya kata kawan saya, hanya di kantor. Jarang terjun ke lapangan meliput berita berbobot. Mereka duduk di depan komputer memindahkan berita yang ditulis wartawan ke desain
halaman koran yang sudah disiapkan melalui program pagemaker.

Mereka sok berkuasa dengan egonya memerintahkan wartawan lainnya bawahannya yang tak
lain wartawan. Padahal mereka juga wartawan. Hanya pangkat yang diberikan oleh manajemen kantor yang membuat mereka jadi wartawan birokrat.

Mungkin karena mereka sudah lama bekerja di media yang
tersebut. Sehingga manajemen memberikan penghargaan dengan diberikan
pangkat dengan gaji lebih besar.

Sungguh berbeda dengan jurnalis di negara maju. Walaupun sudah diangkat
menjadi editor, namun mereka tetap menulis. Tentunya tulisan yang berkelas dalam bentuk indep news. Bukannya berita biasa atau straight news. Ataupun berita seremoni meliput kegiatan pejabat.

Sungguh memalukan jika sekelas wartawan birokrat menulis berita
seremoni. Dan paling parah, EYD nya juga salah. Sebagai wartawan yang
baru mengenyam ilmu jurnalistik, tak mungkin menegur sang wartawan
birokrat.

Nanti dalam laporan kerja bisa dinilai buruk, he he he.
Kita memang merindukan wartawan birokrat menulis liputan yang mendalam
.Karena bisa menjadi contoh untuk wartawan muda.wartawan muda perlu diajari mengungkap kasus dalam bentuk laporan
investigasi.

Tentunya, jika wartawan birokrat berhasil membuat laporan lengkap dan mendalam, maka wartawan mudapun akan hormat kepada mereka yang sudah duluan menjadi jurnalis. Tetapi jika wartawan birokrat hanya bisa menulis straight news dan mengkopi berita wartawan ke halaman lay out, sama saja mereka seperti tukang kopi.

Bukanlah tugas editor membuat berita jadi lebih nyaman dibaca. Ibarat juru masak, sang editor meramu bumbu mentah dan memasaknya menjadi lauk pauk yang lezat. Adaikan juru masak hanya mencampurkan pelbagai macam sayur dalam sebuah belanga, tanpa diberikan bumbu, tentulah sayur tersebut tak enak dimakan.

Begitu juga dengan wartawan birokrat. Mereka harus kerja
keras membuat program liputan, meramu berita wartawan yang masih
mentah dan menjadikannya berita yang lezat. Sehingga pembaca pun
menjadi tertagih untuk mengkonsumsinya setiap saat.

Bukankah di majalah, wartawan hanya bekerja mencari dan mengumpulkan data yang diperlukan wartawan birokrat. Kemudian, mereka menulis berita yang bersumber dari data-data yang dikumpulkan wartawan di lapangan.

Media di negara maju menggantungkan harapan ke editor. Jika ingin bonus lebih besar, redaktur harus berpikir keras untuk menghasilkan berita yang berkelas. Dengan demikian, pembaca akan tertarik untuk membaca koran tersebut. Ujung-ujungnya, oplah meningkat dan iklan jelas akan bertambah. Wartawan birokrat memang memiliki peran penting untuk kemajuan media massa, setelah wartawan. robby patria

Senin, 29 September 2008

Cinta Kahlil Gibran


Pabila cinta memanggilmu
Ikutilah dia walau jalannya berliku-liku
Dan, pabila sayapnya merangkummu
Pasrahlah serta menyerah walau pedang tersembunyi di sela sayap itu melukaimu.

"Ku hancurkan tulang-tulangku, tetapi aku tidak membuangnya sampai aku
mendengar suara cinta memanggilku dan melihat jiwaku siap untuk
berpetualang"

"Tubuh mempunyai keinginan yang tidak kita ketahui. Mereka dipisahkan
karena alasan duniawi dan dipisahkan di ujung bumi. Namun jiwa tetap ada
di tangan cinta... terus hidup... sampai kematian datang dan menyeret
mereka kepada Tuhan..."

"Jangan menangis, Kekasihku... Janganlah menangis dan berbahagialah,
karena kita diikat bersama dalam cinta. Hanya dengan cinta yang indah...
kita dapat bertahan terhadap derita kemiskinan, pahitnya kesedihan, dan
duka perpisahan"

"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana... seperti kata yang tak sempat
diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu...

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana... seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada..."

"Jika cinta tidak dapat mengembalikan engkau kepadaku dalam kehidupan
ini... pastilah cinta akan menyatukan kita dalam kehidupan yang akan
datang"

"Apa yang telah kucintai laksana seorang anak kini tak henti-hentinya aku
mencintai

Dan, apa yang kucintai kini... akan kucintai sampai akhir
hidupku, karena cinta ialah semua yang dapat kucapai... dan tak ada yang
akan mencabut diriku dari padanya"

"Kemarin aku sendirian di dunia ini, kekasih; dan kesendirianku...
sebengis kematian...
Kemarin diriku adalah sepatah kata yang tak bersuara..., di dalam pikiran malam. Hari ini... aku menjelma menjadi sebuah nyanyian menyenangkan di atas lidah hari. Dan, ini berlangsung dalam semenit dari sang waktu yang melahirkan sekilasan pandang, sepatah kata, sebuah desakan dan... sekecup ciuman" (Kahlil Gibran)

Selasa, 23 September 2008

Ibu Ku

IBU melahirkan kita sambil menangis kesakitan. Masihkah kita menyakitkan-nya?
Masih mampukah kita tertawa melihat penderitaan-nya?
Mencaci maki-nya?
Melawan-nya?
Memukul-nya?
Mengacuhkan-nya?
Meninggalkan-nya?
Ibu tidak pernah mengeluh membersihkan kotoran kita waktu masih kecil,
Memberikan ASI waktu kita bayi,
Mencuci celana kotor kita,
Menahan derita,
Menggendong kita sendirian.

Sadarilah bahwa di dunia ini tak ada satu orangpun yang mau mati demi kita.Tetapi beliau justru satu-satunya orang yang bersedia mati untuk melahirkan kita…
Bacalah teman untuk renungan kita ke ibu. (*)

Kamis, 18 September 2008

Kebenaran Pemberitaan Pers Bukan Kebenaran Hukum


Jika ada perkara pemberitaan oleh pers sampai ke meja hijau, hal itu terjadi karena ada orang yang tidak senang dengan pemberitaan media massa.

Contoh yang terjadi, Letnan Jendral Purnawirawan Soeyono divonis 3 bulan penjara masa percobaan akibat pernyataannya di majalah Male Emperium (ME) pada tahun 2005 yang lalu. Kalimat yang dikatakan Soeyono kepada reporter ME adalah. "Mereka sudah mendapatkan balasan yang setimpal. Seperti anak Jendral Hartono mati karena kasus narkoba." Faktanya, anak Hartono bukan mati karena kasus narkoba, melainkan sebab penyakit lain. Akibat pernyataan ini, Soeyono dituntut oleh Jendaral (P) Hartono dengan tuduhan pencemaran nama baik. Sehingga akibat pemberitaan majalah ME tersebut, Soeyono divonis tiga bulan hukuman dalam masa percobaan oleh Pengadilan Negeri Jakarta.

Ini adalah salah satu contoh kasus yang disebabkan pemberitaan pers pada zaman reformasi. Dalam proses persidangan kasus ini, Atmakusuma daro Dewan Pers diminta pengadilan sebagai saksi ahli dari Dewan Pers. Dia katakan di dalam persidangan, kedua belah pihak yakni Soeyono dan majalah ME melakukan kesalahan. Untuk majalah ME, kesalahan yang dilakukan karena tidak melakukan cek dan ricek atas kebenaran anak Hartono mati karena narkoba.Mereka memuat berita tidak berimbang.Bahkan Hartono tidak dikonfirmasi saat berita itu dimuat.Sedangkan dari Soeyono, sebagai orang intelektual yang menjadi narasumber, tidak seharusnya dia melontarkan ucapatan seperti itu.

Pada kasus ini, wartawan ME juga tidak memilih informasi yang layak dimuat. Menurut Atmakusumah yang juga salah satu perumus undang-undang pers ini, wartawan harus bisa memilih informasi dari wawancara untuk dimuat dan tidak dimuat sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik yang mengalami revisi.Tidak semua hasil dari wawancara dari narasumber untuk dimuat dalam tulisan secara keseluruhan. Karena wartawan bukanlah notulen yang mencatat semua yang dikatakan nara sumber pada saat wawancara. Wartawan harus bisa memilih informasi yang layak dimuat dan tidak layak dimuat dari hasil wawancara sesuai dengan hati nurani tanpa mengabaikan kode etik.

Berbagai perkara hukum akibat suatu pemberitaan terjadi karena, pihak yang diberitakan merasa sakit hari dan terhina oleh pemberitaan tersebut. Sehingga obyek yang diberitakan harus diberikan ruang untuk membela diri pada saat berita itu dinaikkan oleh redaksi. Pada saaat berita negatif tentang seseorang diterbitkan tanpa konfirmasi, tingkat emosional orang yang diberitakan 100 persen marah, jika diberikan ruang khusus untuk membela diri,bisa jadi 50 persen dia tak marah atas pemberitaan tersebut.

Jika ada berita mengenai kasus korupsi, pihak yang diberitakan harus dikonfirmasi mengenai kebenaran pemberitaan tersebut. Biarkan masyarakat yang menilai benar atau salah suatu pemberitaan. Bukan wartawan yang menentukannya dengan memvonis dalam suatu pemberitaan.

Jika pers memberitakan dengan berimbang, walaupun dibawa sampai ke proses hukum, maka pengadilan akan mempertimbangkan sesuai dengan Undang-Undang tentang Pers Tahun 1999 No 40 dan Kode Etik Jurnalisatik. Dewan Pers bukan semata-mata melindungi pekerja pers dari pemberitaan, melainkan membantu masyarakat umum yang dirugikan akibat pemberitaan pers. Mana mungkin Dewan Pers bisa memantau 800-an media yang ada di Indonesia,padahal anggota Dewan Pers cuma 9 orang. Oleh karena itu, Dewan Pers bertindak jika ada laporan masyarakat yang dirugikan dari pemberitaan pers.

Dalam kasus tuduhan korupsi yang dilakukan oleh mantan Presiden Soeharto, oleh Majalah Time, Pengadilan Tinggi Jakarta akhirnya menyatakan Majalah Time tidak bersalah atas gugatan Soehato dalam pemberitaan tersebut karena telah melakukan perimbangan berita. Tetapi, dalam banding di MA, Soeharto dimenangkan MA.

Dan pada kasus Majalah Tempo memberitakan miring pengusaha Tommy Winata, pada tingkat pengadilan Tempo kalah, namun pada putusan kasasi Mahkamah Agung Tempo dimenangkan. Dan pimpinan redaksi Tempo Bambang Harimurti pun dibebaskan kembali.

"Itu semua terjadi karena Tempo sudah memberikan ruang kepada Tomi Winata untuk membela diri pada edisi yang bersamaan. Bagitu juga dengan kasus Majalah Time, Soeharto juga sudah diberikan peluang untuk menanggapi tuduhan dari pihak lain. Sehingga penegak hukum pun menyatakan Time dan Tempo tidak bersalah dalam pemberitaan.Walaupun Tomi sudah diberikan ruang untuk membela diri,namun proses hukum tetap berjalan, apalagi tidak memberikan ruang untuk membela diri, "kata Atmakusumah.

Hak jawab

Nara sumber ataupun pihak lain yang merasa dirugikan atas suatu pemberitaan bisa meminta hak jawab dan klarifikasi atas pemberitaan tersebut. Bersama DPR, Dewan Pers merumuskan untuk mengatasi masalah akibat pemberitaan, maka dapat ditempuh dengan empat cara, pertama melalui hak jawab. Objek pemberitaan bisa melakukan hak jawab dari suatu pemberitaan, kedua menggunakan Dewan Pers sebagai mediator agar hak jawab itu dimuat oleh media yang bersangkutan.Karena pemuatan hak jawab merupakan hak mutlak dari media yang bersangkutan berdasarkan pertimbangan profesionalisme, bukan karena tekanan.

Sedangkan yang ketiga, pihak yang dirugikan bisa menempuh jalur hukum untuk membela diri.Untuk cara yang ketiga ini banyak terjadi di Indonesia.Yang keempat, pihak yang dirugikan bisa memboikot media yang bersangkutan untuk tidak dibeli dan membacanya.Karena media tersebut tidak jujur dalam pemberitaan. Namun aksi boikot itu tak dilakukan dengan kekerasan.

Mengikuti putusan kasasi dari Mahkamah Agung sewaktu menangani perkara pemberitaan, kebenaran pemberitaan pers, bukanlah kebenaraan absolut, kebenaran pemberitaan menurut pers bukanlah kebenaran menurut hukum, kebenaran menurut pemberitaan pers adalah kebenaran menurut narasumber dan kebenaran pemberitaan pers adalah kebenaran ilusive (sulit dipegang) licin seperti belut.

Aparat penegak hukum tentunya berdasarkan kode jurnalisatik dan Undang-Undang Pers dalam menentukan putusan hukum. Jika pekerja pers bekerja sesuai dengan kode etik,maka media tersebut akan selamat. (robby patria)

Rabu, 17 September 2008

Mengejar Mimpi atau 'Latah' Berpolitik


Oleh: Robby Patria, SE


Pemilu tinggal tujuh bulan. Partai politik sudah mendaftarkan kader partai untuk bertempur mendapatkan kursi panas di DPR, DPRD provinsi, dan DPRD tingkat kabupaten. Sangat disayangkan, dalam pencalegan kali ini, ada dugaan terjadi Korupsi Kolusi Nepotisme(KKN) politik parpol baik itu yang terjadi di pusat sampai ke daerah.

Isteri ketua parpol dimasukkan menjadi caleg. Suami jadi kepala daerah, isteri jadi pejabat negara, anak juga dijagokan jadi anggota DPR. Satu keluarga kalau bisa jadi pejabat semuanya. Apakah sumber daya manusia di Kepulauan Riau ini tak berkualitas. Sehingga untuk posisi strategis, harus keluarga tertentu yang mengendalikannya?

Jika memang iya, maka sesungguhnya Kepri masih jadi komoditas pasar untuk oknum tertentu saja. Masyarakat Kepri, hanya jadi penonton dalam suatu adegan film. Saya tentunya akan malu, sebagai anak negeri hanya duduk diam tanpa harus terlibat banyak dalam pembangunan. Sungguh ironis jika masalah itu terjadi. Partai besar di daerah ini sepertinya tak memiliki sistem pengkaderan yang dengan baik. Tetapi untuk kasus pencalegan kali ini, memang unik. Terkesan mereka latah-ikut-ikutan jadi caleg. Padahal, kemampuan berpolitik masih masih diragukan.Walaupun katanya, lulusan luar negeri dari universitas ternama.

Contoh nyata pencalegan anak pejabat itu terjadi di Golkar. Dani Ismeth berada di urutan dua untuk caleg DPR-RI. Padahal, di Kepri hanya ada tiga kursi untuk duduk di DPR. Berdasarkan pengalaman pemilu 2004, kursi DPR diraih oleh Golkar, PDIP dan PAN. Kemungkinan yang ada, pemilu tahun 2009 juga tak banyak berubah. Pasar pemilih tradisional di Kepri masih mengirim wakilnya ke Senayan melalui PDIP, Golkar dan kursi ketiga bisa direbut PKS, PAN dan PPP.

Harry Azhar Aziz dipasang Jusuf Kalla di nomor satu dapil Kepri. Tetapi, mantan ketua umum PB HMI ini juga masih ragu, dengan suara yang akan diraihnya dalam pemilu kali ini. Sebab, Golkar menggunakan sistem suara terbanyak. Artinya, Dani Ismeth bisa berpeluang menang dengan menggalang dan didukung dengan dana yang tak terhitung. Ismeth sebagai penguasa di daerah ini takkan tinggal diam ketika anaknya bertarung merebut kursi di DPR-RI. Ismeth juga tak tinggal diam ketika isterinya Aida berjuang kembali menjadi anggota DPD-RI untuk kedua kalinya. Pergerakan Dani mulai terlihat. Ibu dan anak mulai melakukan kegiatan sosial terjun ke pemilih.

Jika nantinya Dani menang dan duduk di DPR, maka prestasi akan diukir. Bisa jadi, mendapat museum rekor Indonesia (Muri) dari Jaya Suprana. Karena bapak jadi gubernur, isteri jadi anggota DPD, dan anak jadi anggota DPR. Hal itu sungguh jarang terjadi di Indonesia. Penghargaan tersebut pernah diraih Bupati Jembrana I Gedhe Winasa. Tetapi Winasa telah tujuh penghargaan MURI berhasil disabet Winasa. Pertama, karena memperoleh suara terbanyak dalam Pilkada Bupati 2005 (88,9 persen). Kedua, menggelar parade kesenian Jegog terbanyak, saat acara pelantikan dirinya sebagai Bupati Jembrana untuk kali kedua. Ketiga,pemrakarsa sekolah gratis pertama (2004). Keempat, program kesehatan gratis pertama (2003).Kelima, proyek pengolahan air laut. Keenam, membebaskan pajak bumi dan bangunan bagi lahan dan sawah. Dan ketujuh, pasangan suami istri Bupati pertama kali di Indonesia. Seperti diketahui, Ratna Ani Lestari, Bupati Banyuwangi adalah istri Winasa.Bali, karena isterinya jadi Bupati dan berhasil menjalankan program pendidikan gratis.

Wabah anak ikut bapak menjadi anggota DPR kini memang dipelopori pengurus parpol di jajaran elit partai. Trend tersebut kini merambah ke daerah. Di jajaran elit partai, kita bisa melihat putra Amien Rais maju jadi caleg dari Partai Amanat Nasional. Dave Laksono, putra Agung Laksono maju jadi caleg dari Golkar. Putra Nababan (PDIP) anak Panda Nababan, Putri Paundrianagari (PDIP) anak Guntur Soekarnoputra, Agus Haz (PPP) anak Hamzah Haz, Anindya Bakrie (Golkar) anak Aburizal Bakrie, Maruarar Sirait (PDIP) anak Sabam Sirait, Puan Maharani (PDIP) anak Megawati Soekarno Putri, Muhammad Iqbal (PPP) anak Bachtiar Chamsyah, Edi Baskoro Yudhoyono (PD) anak Susilo Bambang Yudhoyono.

Dalam konteks lokal, ada isteri Ketua DPRD Kota Batam Soerya Respationo, Rekaveni maju menjadi caleg anggota DPRD Batam. Isteri Ahars Sulaiman dari PPP juga maju. Dan menariknya, Saidul Khudri dan isteri sudah duluan duduk di kursi DPRD dari PKB. Yang paling menonjol saat ini, tentunya wakil DPR ada Dani anak Ismeth Abdullah yang akan bersaing dengan Harry Azhar Aziz untuk memperebutkan satu kursi utusan wakil Kepri di DPR.,Masuknya anak maupun istri pejabat yang tak lain jadi menimbulkan bermacam macam tanggapan.

Apakah masuknya anak pejabat jadi caleg sebagai bentuk pelanggaran etika moral? Karena tak membiarkan orang di sampingnya yang memiliki kemampuan untuk maju. Padahal, jika saja isteri pejabat tersebut tak maju, tentulah, kader partai yang berjuang mati-matian membesarkan partai bisa maju.

Tetapi, dengan dicalonkannya anak ketua partai, isteri ketua parpol, maka, tak ada pilihan lain, kader partai yang memiliki kemampuan harus mengundurkan diri dengan teratur. Ya, bisa saja masih diberikan kepercayaan, tapi nomor urut sepatu.

Kenapa partai politik sebagai perwakilan masyarakat hanya terdiam. Seharusnya tindakan semacam itu harus di lawan apabila caleg yang diajukan tak berkualitas. Apalagi, sang caleg tersebut tak memiliki kemampuan sama sekali. Bagaimana nantinya mereka akan berjuang kepentingan masyarakat di dewan. Sedangkan mereka tak memiliki kemampuan. Apa yang akan mereka berikan untuk rakyat yang sudah memberikan gaji besar untuk bekerja membela kepentingan rakyat.

Bukankah, menjadi anggota DPR, DPRD banyak berurusan dengan pembuatan perundang-undangan. Yang akan terjadi nantinya, caleg karbitan tersebut akan duduk manis di kursi dewan. Menerima gaji, duduk dan pulang. Apakah caleg karbitan ini harus dipilih? Saya rasa tidak.

Rakyat akan menderita jika memilih caleg yang tak memiliki kemampuan baik dari akademis dan politik. Terlalu mudah mereka mencari kekayaan, jabatan dan nama dengan menjadi caleg.Bukankah pendiri bangsa ini menjadi pemimpin melalui proses yang panjang. Soekarno harus keluar masuk penjara untuk menjadi presiden. Rakyat menghargai Soekarno karena jerih payahnya membebaskan bangsa dari belenggu penjajah. Bapak bangsa telah berbuat, dan wajar rakyat memberikan penghargaan.

Tetapi yang terjadi di sekitar kita, mereka ingin jadi wakil rakyat tidak melalui proses yang panjang. Dengan menggunakan media massa mempengaruhui masyarakat melalui iklan, membayar media massa untuk menamfilkan fotonya, membagikan sembako, seolah-olah mereka jadi pahlawan. Ya, pahlawan yang kesiangan mencari belas kasihan.

Sekali lagi, pembelajaran politik memiliki proses yang panjang. Dalam arti kata, sangat riskan tiba-tiba ada caleg tanpa magang sama sekali dalam dunia politik. Semoga masyarakat tak terpedaya dengan caleg karbitan.***

Selasa, 16 September 2008

Cinta ITU



Kini dia jadi isteri Ku. Aku terus mencintainya hingga ajal memisahkan kami.Amin. foto by robby patria

Pernahkah kamu merasakan,
bahwa kamu mencintai seseorang,
meski kamu tahu ia tak sendiri lagi, dan
meski kamu tahu cintamu mungkin tak berbalas,
tapi kamu tetap mencintainya,
Pernahkah kamu merasakan,
bahwa kamu sanggup melakukan apa saja demi seseorang yang kamu cintai,
meski kamu tahu ia takkan pernah peduli ataupun
ia peduli dan mengerti, tapi ia tetap pergi.
Pernahkah kamu merasakan hebatnya cinta,
tersenyum kala terluka,
menangis kala bahagia,
bersedih kala bersama,
tertawa kala berpisah,
Aku pernah .........
Aku pernah tersenyum meski kuterluka !
karena kuyakin Tuhan tak menjadikannya untukku,
Aku pernah menangis kala bahagia,
karena kutakut kebahagiaan cinta ini akan sirna begitu saja,
Aku pernah bersedih kala bersamanya,
karena kutakut aku kan kehilangan dia suatu saat nanti, dan......
Aku juga pernah tertawa saat berpisah dengannya,
karena sekali lagi, cinta tak harus memiliki, dan
Tuhan pasti telah menyiapkan cinta yang lain untukku.
Aku tetap bisa mencintainya,
meski ia tak dapat kurengkuh dalam pelukanku,
karena memang cinta ada dalam jiwa, dan bukan ada dalam raga.
Semua orang pasti pernah merasakan cinta..
baik dari orang tua... sahabat.. kekasih dan
akhirnya pasangan hidupnya.
Buat temenku yg sedang jatuh cinta.. selamat yah..
karena cinta itu sangat indah.
Semoga kalian selalu berbahagia.
Buat temanku yg sedang terluka karena cinta...
Hidup itu bagaikan roda yang terus berputar,
satu saat akan berada di bawah dan hidup terasa begitu sulit,
tetapi keadaan itu tidak untuk selamanya,
bersabarlah dan berdoalah karena cinta yang lain
akan datang dan menghampirimu.
Buat temanku yang tidak percaya akan cinta... buka hatimu ...
jangan menutup mata akan keindahan yang ada di dunia
maka cinta membuat hidupmu menjadi bahagia.
Buat temanku yang mendambakan cinta.. bersabarlah..
karena cinta yang indah tidak terjadi dalam sekejab..
Tuhan sedang mempersiapkan segala yang terbaik bagimu. (*)