Minggu, 24 Agustus 2008

Ketika Mastur Taher Merasa Sama dengan Fahri dalam AAC

Wakil Bupati Kabupaten Bintan Mastur Taher mengakui tak pernah dilibatkan dalam kebijakan strategis di Kabupaten Bintan. Dia juga sudah pecah kongsi dengan Bupati Ansar Ahmad sejak enam bulan mereka dilantik DPRD Bintan pertengahan 2005. Apakah benar Mastur ingin merebut kekuasaan dari tangan Ansar?

Suasana Sabtu (19/4) malam di lagit Kota Tanjungpinang dihiasi dengan hiasan kilauan bintang. Hotel Melia Tanjungpinang terlihat ramai karena ada pertemuan pengurus DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Tanjungpinang.

Jarum pendek jam di dinding Hotel Melia menujukkan pukul 22.00 WIB. Ketika saya memasuk lobi hotel, sosok lelaku berkulit hitam dengan tinggi 162 centimeter menggunakan pakaian koko warna kream, celana kain coklat dan menggunakan sendal datang menjumpai saya.

Wajahnya terlihat tegang. Rambutnya acak-acakan. Dari penampilannya, terlihat bukanlah seorang pajabat. Tapi kesedehanaan itu memang terus menghiasi dikala menjadi anggota DPRD Kepri dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sampai menjadi Wakil Bupati Bintan.

Ya, dialah Mastur Taher yang saat ini sedang menjadi buah perbicangan baik itu kalangan politisi, birokrat, sampai kalangan buruh di Kepri bahkan Nasional.

Yang menjadi pertanyaan, sampai sejauhmana Mastur tidak terlibat dalam berbagai aksi dan pembebasan hutan lindung di Kawasan Bintan Buyu.

Dengan ramah, Mastur mempersilakan Batam Pos untuk duduk di meja bundar di lobi hotel Melia. Ada enam kursi di meja itu.

" Mau minum ape? Tanya Mastur. "Minta air putih aja pak," kata saya kepada Mastur. Kemudian dia memanggil pelayan hotel untuk memesan minuman air mineral merek Aqua. " Mau tahu goreng gak? Tanya Mastur lagi? "Saya hanya menolak dengan mengatakan, " Sudah makan tadi Pak."


Mastur sengaja meninggalkan pertemuan dengan kader PKS yang serius tengah mempelajari taktik stratregis memenangkan pemilu. Kader yang ikut dalam pelatihan tersebut memang kader terbaik PKS dan sudah lama berkecimpung di PKS. Mastur ingin menjelaskan masalah yang dia hadapi sebenarnya dan meluruskan opini yang berkembang saat ini.


Mastur mulai bercerita dari, hari Jumat (18/4), Pemuda Pancasila (PP) Kabupaten Bintan menggelar demo agar Sekretaris Daerah Bintan Azirwan yang saat ini menjadi tersangka kasus dugaan suap anggota Komisi IV-DPR-RI Al Amin Nasution membeberkan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pihak yang terlibat.

Ya, intinya dalam aksi tersebut PP meminta Azirwan membeberkan dugaan keterlibatan Bupati Bintan Ansar Ahmad sebagai atasan Azirwan. Yang menambah berat, dan menjadi buah pikir Mastur adalah ajudannya sebagai Ketua PP Bintan aktif menggerakkan aksi tersebut.

Seolah-olah, aksi pernyataan sikap tersebut diseting oleh Mastur Taher. Belum lagi ulah anggota Komisi IV DPR dari Fraksi PKS Jalaludin mengakui adanya titipan dari Pemkab Bintan sebesar Rp30 saat melakukan kunjungan kerja ke Bintan Januari 2008 yang lalu.

Bertambah sudah beban Mastur Taher. Seolah-olah, PKS melakukan gerakan politik tertentu untuk menjatuhkan Ansar dan mendudukkan Mastur Bupati Bintan, jika Ansar terlibat dalam kasus pembebasan Hutan Lindung seluas 6 ribu hektar itu.

Mastur mengatakan dirinya semakin tertekan dengan kondisi yang terjadi saat ini. Tak pernah terpikirikan sebelunya jika jabatan wakil bupati mebuat dia tertekan seperti sekarang ini.

Banyak pihak menggaitkan ulah Fraksi PKS di DPR mengembalikan uang ke KPK adalah bagian dari rencana PKS untuk mendudukan Mastur sebagai Bupati Bintan. Ditambah lagi dengan sikap ajudan Mastur Alek yang melakukan aksi demo di bawah bendera Pemuda Pancasila (PP) yang meminta Azirwan membeberkan semua pihak yang terlibat.

Menurut Mastur, opini masyarakat sudah menjurus kearah sana. " Padahal, tak pernah ada niat saya untuk menjadi Bupati. Jika saya ditinggal dan menjadi ban bocor saat ini, mungkin ini sudah menjadi nasib saya. Kendati demikian, saya tak akan menggunakan cara licik untuk menjatuhkan Ansar," ungkap Mastur dengan serius.

Menurutnya, selama menjadi wakil Bupati Bintan selama dua tahun, hanya enam bulan, dia diberikan peran sebagai wakil Bupati. Setelah enam bulan pertama sejak di lantik dua tahun lalu, peran Mastur yang tertera dalam kontrak politik dengan Ansar seakan pupus.


Dia menyatakan, setelah enam bulan menjalani roda pemerintahaan, Mastur banyak mengahabiskan kagiatan pribadi. Maklum acara pemerintahan semuanya dihandle oleh Ansara sebagai bupati.

" Saya jarang mewakili pemerintah untuk acara tertentu baik itu penyerahan uang bantuan atapun peresmian kegiatan pemerintah. Jika pun tak ada bupati, pasti yang mewakili kepala daerah Sekda ataupun Asisten. Sehingga banyak kegiatan pemerintah yang tak pernah koordinasi dengan saya," ujar Mastur.

Padahal dalam kontrak politik bersama Ansar, Wakil Bupati berfungsi menjalankan tugas ke dalam. Sedangkan Bupati lebih berperan dalam mengurus masalah ke luar seperti urusan inverstasi. Sedangkan masalah perizinan dan hal lain di lakukan oleh wakil bupati. Kontrak politik tinggal kontrak. Mastur sudah sering kali menanyakan masalah tersebut ke Ansar maupun ke DPRD melalui Fraksi PKS. Tetapi, semuanya sia-sia.


Dari pengakuan Mastur, dia tak ada yang dekat dengan kepala Dinas sampai camat sekalipun. Menurut Mastur, setingkat camat pun mulai meremehkan perannya sebagai wakil bupati. Mastur mencontohkan, Maret, Mastur melakukan kunjungan kerja ke Tambelan. Saat itu, dia hendak membawa kepala dinas yang berkaitan dengan kepentingan pembangunan di Tambelan. Tetapi, sayangnya setelah melakukan konsultasi dengan Sekda Bintan Azirwan, Mastur tak dibenarkan membawa kepala dinas. Ditakutkan akan terjadi sesuatu.

" Saya pun pergi sendiri ke Tambelan dengan menggunakan kapal perintis dan pulang dengan kapal ikan," imbunya.

Peran Mastur di Bintan memang hanya sebagai 'ban bekas yang sudah bocor'. Tak dapat digunakan sama sekali. Ketika ditanya apakah tidak melakukan kegiatn lain atas dasar kreatifitas sendiri, Mastur tertawa.

" Saya sudah berusaha. Paling saya hanya bisa main bola bersama warga dan meresmikan kegiatan yang dilakukan PKS. Jika kegiatan pemerintah saya tak dapat jatah,'' imbuhnya.




Ketelibatan Mastur di Hutan Lindung


Proses pengalihan hutan lindung di Bintan menuurut Mastur sama sekali tak melibatkannya. " Apalagi itu program besar. Kegiatan penyerahan bantuan untuk RT dan RW saja dia tak dikasi tahu," imbuh Mastur.


Mastur mulai mempelajari berkas hutan lindung sejak kasus tersebut terkuak di media massa.

" Saya langsung memanggil semua pejabat yang berwenang dan meminta mereka menjelaskan masalah tersebut sampai rinci. Karena banyak wartawan yang menelpon ke saya menyakan masalah tersebut. Sehingga saya harus membuka file hutan lindung itu. Sejak saat itu baru saya mengetahui prosesnya. Tetapi saya memang tak pernah dilibatkankan dalam masalah itu," jelasnya.

Apakah Mastur menyesal tak dilibatkan? Dengan tegas dia mengatakan, tak ada rasa penyesalan. Memang beredar rumor di kalangan masyarakat, masa wakil bupati tak mengetahui prosesnya tersebut, " Saya katakan memang dengan jujur saya tak mengetahui," papar Mastur.

Penangkapan Azirwan dan Al Amin Nasution di Hotel Ritz Carlton Jakarta, Rabu (9/4) membuat Mastur kaget.

" Saya mendapat info dari wartawan yang menanyakan kabar tersebut. Saat itu Saya sedang berada di Jakarta untuk memberikan kuliah subuh di TVRI," imbuhnya.

Memang Azirwan sebelum berangkat ke Jakarta, memberitahu ke Mastur. "Tapi saya tak tahu jika tujuan Sekda ke Jakarta untuk bertemu dengan Al Amin.

Mastur juga menjelaskan, sikap FPKS di DPR membeberkan pengembalian uang sebesar Rp 30 juta ke (KPK) yang sempat diterima anggota Komisi IV DPR dari Fraksi PKS, Jalaluddin Satibi, saat meninjau Bintan Buyu, Januari lalu sangat disesalkan dan menambah runyam masalah.

" Saya sudah kasi tahu ke FPKS DPR mengenai masalah ini. Penyerahan uang tersebut memang baik. Tetapi janganlah di momen tidak tepat," katanya kesal.

Mastur merasa kecewa karena ada pihak yang mengkait-kaitkan penyerahan amplop tersebut ke KPK dengan upaya Mastur mengambil alih kekuasaan di Bintan dari Bupati Bintan Ansar Ahmad. " Mengait-kaitkan itulah yang menjadi pikiran saya. Saya sangat prihatin," katanya lagi.

Dikatakan Mastur, dia tidak mengenal sama sekali anggota FPKS bernama Jalaluddin Satibi yang datang ke Bintan pada Januari lalu dalam kapasitasnya sebagai anggota Komisi IV yang membidangi masalah alih fungsi hutan lindung di kawasan Bintan Buyu.

Selain menyesalkan sikap FPKS di DPR, Mastur juga mengaku menyesalkan kenyataan anggota FPKS di DPR sama sekali tidak mengerti persoalan yang terjadi di Bintan. " Saya marah dengan sikap FPKS. Mereka tak mengerti persoalan yang terjadi di daerah. Saya cek kawan-kawan ke sana, mereka tidak tahu persoalan daerah sini, kejadiannya bagaimana. Itulah yang saya sesalkan dengan DPP PKS.





Tak Ingin Menikam dari Belakang


Menyangkut hubungannya dengan Ansar Ahmad, Mastur mengatakan masih terjalin baik. " Kita secara pribadi masih baik. Saya sering berkomunikasi dengannya terkait masalah ini melalui telpon. Saya sudah jelaskan tak ada niat untuk merebut kekuasaan. Mudah-mudahan bupati menanggapi positif," ungkapnya.

Andaikata Ansar terlibat masalah hutan lindung, apakah siap menjadi Bupati tanya Saya? Mastur menggeleng-gelengkan kepala. "Saya tak berpikir sampai sejauh itu. Jangan hubungkan masalah ini dengan jabatan bupati. Biarkan masalah hukum diselesaikan secara hukum. Mudah-mudahan cepat selesailah," ujar Mastur.

Mastur berniat menghabiskan kepemimpinan bersama Ansar sampai 2010. Dia pun tak berminat lagi untuk kembali maju mencalonkan diri menjadi bupati.

" Saya kemungkinan besar diminta untuk mengabdi ke Lingga. Karena saya dinilai kelompok tengah yang bisa meredam perpecahan saat ini. Untuk di Bintan biarlah pemimpin baru nantinya," terangnya.

Mastur sempat menceritakan bahwa dirinya sempat menonton film Ayat-Ayat Cinta (AAC) di Jakarta, saat terjadi penangkapan Azirwan.

"Saya menonton bersama isteri," imbuhnya.

Setelah direnungkan, jelas Mastur, dirinya merasa tak jauh berbeda dengan Fahri dalam tokoh AAC yang difitnah memperkosa Noura.

" Saya saat ini memang menghadapi isu ingin merebut kekuasaan. Ini yang menjadi tantangan berat saya. Jadinya mirip dikit dengan jalan cerita AAC itu. Tinggal dirubah saja sedikit, kondisinya sudah pas," tukasnya.

Dengan kondisi sekarang ini, Mastur hanya bisa bercerita kepada sang isteri. " Alhmadulillah isteri Saya selalu mendukung. Karena selain isteri, Saya tak punya temapt untuk curhat lagi," tuturnya dengan lembut.

Jarum pendek jam ditangan Saya pun menunjukkan pukul 11.00 WIB. Mastur dengan wajah lesu ingin terus bercerita yang intinya tak berniat untuk merebut kekuasaan.

" Saya tak terpikirkan untuk menjadi bupati. Jika pun menjadi Bupati, saya ingin dengan jalan yang benar. Bukan menikam dari belakang," tegas Mastur.(robby patria)










Juara, Anugrah, Kado, Tatkala Susah


Suara Noname Cafe, Hotel Harmoni Batam, Rabu (6/8) malam menggelora. Ruangan yang dihiasi cahaya sendu, dan diselimuti pendingin ruangan jadi saksi pengumuman Award Press Telkomsel dalam rangka HUT Telkomsel yang ke-13.

Lebih dari 150 jurnalis dari Riau, Sumatera Barat, dan Kepualauan Riau hadir menyaksikan malam pengumuman penghargaan kepada jurnalis yang mengikuti lomba Telkomsel.

Ya, setidaknya ada 99 naskah yang diterima dewan perlombaan. Yang bertindak sebagai juri GM Service and Sales Telkomsel Sumbagteng GH Widodo, Suryo Hadinoto dari Telkomsel Jakarta dan wartawan seniur Edo Resianto dari Investor Daily, koran yang terbit di Jakarta.

Acara yang dimulai pukul 20.00 itu memang seru. Maklum saja, untuk mengangkat image sebagai operator seluler terbesar di Indonesia dengan 52 juta pelanggan Telkomsel menyiapkan acara tersebut dengan serius. Pemenang akan dibawa ke Bogor untuk mengikuti press gatring Telkomsel se Sumatera. Agenda rutin yang diberikan kepada insan pers.

Hanny Hairanny,adalah yang menyiapkan acara ini. Maklum jabatannya di Telkomsel Sumbagteng tak main-main. Dia mengurusi komunikasi Telkomsel. Tak heran, tiga hari jelang pengumuman, ibu dua anak itu tiga kali mengirimkan SMS ke saya.

Yang pertama, selamat ya, jadi pengantin baru.
Kemudian, ada lagi SMS, jangan lupa, datang malam pengumuman pemenang lomba Telkomsel.

Saat membalas SMS, saya hanya bilang," Saya akan datang mbak".


Waktu silih berganti. Akhirnya malam yang dinantikan tersebut akhirnya tiba.

Sengaja pada malam Kamis itu, saya mengetik lebih cepat agar bisa menyaksikan siapa jurnalis terbaik yang menjadi juara. Kemungkinan, dari penilaian saya, tulisan Trisno Aji Putra masuk nominasi. Ternyata ramalan saya salah.


Acara pengumuman pemenang dimulai dari menyebutkan juara harapan yang
dipilih lima orang.

Saya memang tak banyak berharap juara. Masuk nominasi juga sudah mantap lah. Karena dapat hadiah lima juta rupiah.

Saat MC membacakan pemenang, saya sempat deg-degkan. Maklum, yang masuk lima besar juara harapan tak menyebutkan nama saya. Dari Batam Pos, hanya Herri sembiring yang juga redaktur di Batam Pos. Kemudian pemenang lainnya dari Padang Expres, Riau Pos, Singgalang.

Harapan Saya hanya tinggal lomba foto. Maklum foto saya lumayan bagus. Judulnya F1. Foto yang diambil di Singapura, saat mengikuti CommunicAsia 2008.

Logo Telkomsel saat itu jelas terpampang jadi sponsor F1 yang digelar di Singapura September mendatang.

Mungkin dengan Telkomsel menembus kawasan regional Asia Pasific, foto tersebut bisa menarik hati juri. Ternyata, setelah pengumuman harapan foto, foto tersebut tak juga disebutkan.
Isteri saya Maryani, hanya tersenyum saja ketika tak ada nama Robby Patria yang disebutkan oleh MC.

Foto yang masuk dalam nominasi sesuai dengan yang saya prediksi. Hasil karya Sarih dari Tribun Batam, dengan menonjolkan tukang becak menggunakan Telkomsel masuk juara harapan. Kemudian, hasil karya teman saya Cipi C Kandina Delevery Service juga masuk. Memang hasil jepretan wartawan Batam memang mendominasi loma foto tersebut yang pertama kali diadakan oleh Telkomsel.

Karena takut tak membawa hadiah pulang ke rumah, akhirnya saya pun memberanikan diri untuk mengikuti kuis. Akhirnya dengan terbata-bata saya menjawab kuis. travel bag pun saya bawa pulang untuk kenang-kenangan dari Telkomsel.


Kemudian, jarum jam menunjukkan pukul 21.30. Saat inilah yang ditunggu-tunggu.
Chairul Saleh yang menjadi MC mulai menyebutkan pemenang juara tiga lomba penulisan.

Nama sahabat Saya Sri Murni dari Tribun Batam disebutkan keluar sebagai juara tiga.
Karya Menix, nama kerennya mengambil tema daerah terpencil yang terpisahkan laut.

Tema tersebut memang hampir mirip dengan tulisan saya. Anehnya, tulisan Herri Sembiring dari Batam Pos, juga tak jauh berbeda dengan tema yang sama. Kemudian nama wartawan Pekanbaru Pos disebutkan jadi juara kedua.

Mungkin juri lagi tertarik dengan tulisan yang mengarahkan liputannya ke laut dan daerah terpencil. Kenyataan itu tak terbatah. Memang banyak tulisan yang mengambil tema tersebut jadi juara.

Dan yang mengejutkan dari ucapan MC, "Juara satu lomba penulisan Telkomsel diraih oleh tulisan yang berjudul Bak Panglima Perang Taklukkan Nusantara, karya Robby Patria dari Batam Pos ".

Saya yang duduk paling belakang bersama isteri sepeti tak percaya. Dengan mencium tangan isteri ketika itu, saya langsung menuju ke panggung untuk menerima hadiah dari GM Pak Dodo.
Kilauan cahaya kamera pun mengabadikan moment itu bersejarah untuk saya.


Ya, itulah sejarah pertama saya jadi juara tingkat Sumatera. Ternyata tulisan saya terpilih jadi yang terbaik dalam Press Award kali ini.

Sungguh di luar perkiraan tulisan tersebut juara. Karena sebelumnya, saya memang sempat bingung mencari tema yang menarik.

Saat di ranjang di kamar kos yang berukuran 3x4 meter, tema tersebut terlitas di pikiran.
Akhirnya, ide itu saya tulis di ponsel Nokia supaya tak lupa. Maklum, tulisan kawan-kawan yang sudah terbit banyak yang bagus. Tapi temanya kurang menyentuh daerah pedalaman yang berhasil dijangkau Telkomsel.

Saya sempat tak percaya untuk ikut lomba. Apalagi ide Pulau Laut yang jadi isi tulisan, sempat ditulis rekan di Batam Pos, yang juga masuk juara harapan.

Bak Panglima Perang Taklukkan Nusantara, mengibaratkan Telkomsel seperti panglima yang berhasil menaklukan Nusantara. Dengan gagah perkasa, Telkomsel sudah menaklukkan Nusantara selama kurun waktu terbilang singkat. 13 Tahun adalah umur anak yang baru lepas pendidikan SD. Tapi Telkomsel menjelma jadi raksasa di kawasan Asia Tenggara dengan 52 juta pelanggan. Wilayah Nusantara tak luk seketika itu.

Pulau Laut, di Kabupaten Natuna, yang merupakan pulau terjauh dari Pulau Sumatera menjadi tema yang menarik untuk didalami. Sehingga dengan data yang ada, saya yakin mengambil teras berita Pulau Laut.

Telkomsel harus banyak bekorban untuk menembus Pulau Laut. Untung di awang-awang, rugi sudah jelas. Tapi Telkomsel tetap menolong 5.000 masyarakat di Pulau tersebut untuk bisa menggunakan ponsel.

Saya pikir, ini cukup menarik untuk dilakukan liputan yang mendalam. Dengan menggunakan sumber lebih dari 10 orang, Pulau Laut jadi isi tulisan.

Juara, setelah menjalani menjadi pengantin baru terasa istimewa. Ini anugrah dari Tuhan yang ba ru saja menyempurnakan iman sebagai seorang muslim. Walaupun untuk menyempurnakan iman, saya harus menghadapi resiko yang berat. Ancaman berhenti dari pekerjaan mengancam di depan mata. Saya tak boleh nikah karena dalam masa kontrak.

Artinya, jika manajemen perusahaan bersikap seperti itu, saya harus menerima dengan lapang dada. Mencari pekerjaan lain adalah jawabannya. Isteri saya juga sudah paham dan menguatkan saya untuk tetap bersabar dan menerima kenyataan pahit atapun awal yang manis. Bair sang waktu yang menjawab. Rizki,ajal dan jodoh kita tak bisa memprediksi. Saya juga tak mengira isteri saya sekarang ini menjadi orang yang mendapingi saya dalam mengarungi bahtera rumah tangga.
Karena saya sempat tak kenal dengannya sewaktu di angkot. Tapi kini dia sudah jadi isteri ku.


Ada teman se kantor yang menikah dalam masa kontrak. Tapi saat ini masih juga bekerja. Ada juga yang melanggar etika jurnalistik. Saat ini juga masih bekerja. Artinya, saya bukan lah melanggar hal yang paling mendasar dalam menjalankan profesi jurnalis.Saya sudah mengharumkan nama Batam Pos diajang perlombaan jurnalis se Sumbagteng.


Dari kualitas, saya pikir tak jelek-jelek amat dibandingkan rekan lainnya. Tapi keputusan manajemen di luar kekuasaaan saya.

Dalam masa yang tak jelas, moga ada jalan lurus untuk terus memberikan seberkas cahaya di bumi melayu. Wartawan adalah cahaya dari kegelapan yang selalu menerangi masyarakat. Hal ini yang membuat saya akan terus menjalani profesi ini. Walaupun idealisme jurnalis sudah sedikit luntur dengan kepentingan industrialisasi media. Walaupun pendapatan pas-pasan. Tapi saya masih cinta dengan profesi jurnalis. (Robby Patria)

















Menguji Caleg dengan Kontrak Politik

Pemilu legislatif tinggal delapan bulan. Partai politikpun mulai melakukan pendekatan ke konstituennya guna maraup suara. Partai mana yang menang, dan siapa yang duduk jadi wakil rakyat? Tentunya akan jadi pertanyaan besar. Hanya pemilih yang bisa menjawabnya di bulan April 2009.

Waktu pemilu yang cukup panjang membuat caleg menguras energi. Parpol yang tak punya dana, siap-siaplah jadi pengembira pemilu. Bagitu juga dengan calon anggota legislatif yang yang memiliki dana.

Dana yang dikeluarkan untuk jadi caleg bisa jadi lebih besar dari sebuah mobil sedan Toyota Altis. Mulai dari dana spanduk, dana lobi agar dapat nomor urut satu, dana kampanye mendatangkan artis, dana mengumpulkan massa saat kampanye, dan tak ketinggalan tentunya dana untuk beli beras. Sampai dana bantuan tunai untuk pemilih.

Tak ayal, karena panjangnya waktu kampanye membuat partai banyak menyimpan energi. Bisa disaksikan ketika Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan waktu kampanye sebulan yang lalu, di tengah-tengah masyarakat, kegiatan parpol tak jauh dari sunatan massal, membersihkan lapangan, dan menebas bendera partai di jalan raya.

Saat ini, bendera parpol bertebaran di setiap ruas jalan utama dan titik-titik strategis lainnya. Parpol mengenalkan indentitas mereka kepada pemilih. Parpol harus rajin melakukan pendekatan terhadap pemilih untuk mendapat simpati. Tentunya, biaya juga harus dikeluarkan jika intens melakukan pendekatan. Ibarat memilih pacar, parpol saat ini melakukan pendekatan dengan memilih.


Fakta tak terbantahkan bisa disaksikan pemilih. Parpol yang memiliki dana besar, maka jumlah bendera parpol tersebut pun bertebaran di mana-mana. Di setiap penjuru sampai ke pelosok kampung pun terdapat bendera parpol itu. Pemandangan tersebut kontras dengan parpol yang minim dana kampanye. Jangan ditanya menebar bendera, nama-nama caleg pun masih meraba untuk di daftarkan ke KPU.

Parpol yang sudah menetapkan nama caleg seperti Partai Keadilan Sejahtera, ataupun Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan sudah maju selangkah untuk meraup suara. Mengapa? Karena disaat parpol lain masih meraba calonnya yang akan diusung, PKS dan PDIP sudah melakukan sosialisasi ke pemilih.

Mengenalkan caleg lebih dahulu ke pemilih, membuat pemilih lebih mengenal figur tersebut dibandingkan dengan figur yang belum masuk ke kelanggang permainan. Bayangkan, ada 34 parpol yang akan bertanding memperebutkan jatah kursi yang terbatas. Pemilih awam juga pasti bingung untuk menentukan pilihan ketiga membuka surat suara.

Ya, caleg yang sering menampakkan wajah ke pemilih, caleg yang dikenal masyarakat akan mendulang suara. Sedangkan caleg baru dan belum berbuat untuk rakyat, jangan banyak berharap duduk di kursi panas DPRD.

Penulis teringat, saat menjadi mahasiswa di Yogyakarta dan ikut mencoblos pada pemilu legislatif tahun 2004, saya bingung untuk menentukan pilihan. Hal itu disebabkan banyaknya jumlah foto caleg dan parpol. Sehingga saat detik-detik jelang penjoblosan, saya memilih caleg yang memiliki gelar pendidikan tertinggi dari caleg lainnya. Saat itu saya masih jadi seorang mahasiswa. Bagaimana dengan pemilih yang tak mengerti dengan dunia politik? Tentunya caleg yang dikenal jadi pilihan, ataupun bisa saja caleg yang ganteng?

Untuk menang, caleg dan parpol harus melakukan edukasi politik ke calon pemilih. Dengan melakukan promosi sebanyak-banyaknya, maka caleg akan menuai simpati dari masyarakat.



Caleg Balas Dendam Setela di DPRD


Kampanye habis-habisan di menit terakhir bisa saja banyak dilakukan parpol dengan tujuan menghemat anggaran. Ada yang beranggapan, kenangan terakhir akan diingat oleh pemilih saat memasuki ruang bilik suara. Jika parpol A melakukan sunatan massal di awal kampanye, bisa jadi ingatan warga akan lupa dengan parpol A. Sebab, banyak parpol juga melakukan sunatan massal setelah parpol A. Besar kemungkinan, yang diingat pemilih, parpol yang melakukan sunatan massal terakhir. Ataupun bantuan sembako terakhir yang jadi pilihan.

Artinya, dalam pemilu kali ini, parpol memang harus banyak bekorban untuk masyarakat. Siapa yang banyak berbuat, belum tentu mendulang suara yang banyak. Siapa yang tak banyak berbuat pun belum tentu tak menang. Perjudian caleg sangat bisa saja terjadi. Jangan heran, habis pemilu, ada salah satu yang mengalami stres memikirkan kekalahan.

Kempetisi yang melelahkan tersebut harus jadi perhatian bersama bagi pemilih. Jangan sampai sekali salah tusuk gambar, rakyat menderita selama lima tahun.

Penulis hanya bisa berharap, pilih jangan menjatuhkan pilihan yang salah. Setidaknya, imbauan jangan pilih caleg yang cuma mementingkan kepentingan pribadi dan kelompok. Jangan pilih caleg yang pandai berjanji, tapi tak berjuang untuk kepentingan masyarakat.

Memang sulit untuk menentukan kualitas caleg. Kader partai tertentu yang pada awalnya hidup sederhana, kemudian setelah jadi anggota dewan akan berubah dari penampilan. Awalnya hanya menggunakan ponsel kelas bawah, setelah di dewan menggunakan ponsel kelas atas. Latar belakang pendidikan, pola hidup sehari-hari caleg tersebut hanya pemilih yang mengetahui.

Memisahkan kepentingan partai dan kepentingan masyarakat bukan lah hal yang gampang. Kita bisa menyaksikan politisi muda dari partai tertentu yang menyuarakan kepentingan rakyat Indonesia terancam kehilangan jabatan. Sehingga setelah jadi anggota dewan, kepentingan masyarakat yang seharusnya diutamakan berubah jadi kesekian setelah kepentingan pribadi dan partai yang diutamakan.

Jika ada caleg yang berani membuat kontrak politik dengan masyarakat, dialah yang laik untuk didukung. Sebelum dipilih, caleg harus berjanji kepada masyarakat untuk membela kepentingan rakyat. Jika suatu saat dihadapkan pada kasus, ternyata caleg tersebut tak bisa memperjuangkan, dia akan mengundurkan diri. Caleg seperti itu yang harus dipilih.

Karena kesejahteraan masyarakat tergantung dari anggota DPRD yang tugasnya membuat kebijakan yang prorakyat. Jika selama ini prosentase Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) sebesar 60 persen untuk belanja aparatur dan DPRD, ke depannya, caleg sekarang harus berani mengalokasikan dana APBD 60 persen untuk pembangunan dan program langsung untuk kesejahteraan masyarakat.

Saya kira tak banyak caleg yang berani melakukan kontrak politik dengan pemilihnya. Karena caleg juga manusia yang akan mengembalikan dana yang dia keluarkan selama kampanye. Imbalan-imbalan setelah duduk di lembaga legislatif juga jadi persoalan. Bagaimana caleg tersebut ingin berjuang untuk masyarakat, ketika danaya kampanye belum impas.

Ya, memang sulit untuk mencari figur yang murni berjuang untuk kepentingan masyarakat. Saya pernah berdiskusi dengan salah satu anggota DPRD yang cukup vocal menyuarakan kepentingan umum. Sayangnya, ketika kepentingan umum disuarakan, saat itu juga dia harus dimusuhi oleh rekan-kerja di lembaga tersebut.

Akhirnya suara yang semula lantang, jadi kendor dan melemah. Kemudian, tak jarang terlibat dalam pesekongkolan politik untuk meloloskan proyek tertentu demi kenikmatan bersama. Tak dapat dipungkiri, ajang balas dendam setelah jadi anggota dewan terhormat mengubur tugas dewan membela kepentingan rakyat.(robby patria)