Tambelan

Tambelan
Fajar menyingsing di gugusan Pulau Tambelan, Kabupaten Bintan. Keindahan Sang Pencipta di Bumi Timbalan Riau

Minggu, 08 Agustus 2010

Hidup Berpindah-pindah, dan Minimnya Perhatian Pemerintah

DULU mereka hidup tanpa panutan agama. Tatkala umat Budha hari raya, mereka ikut merayakan. Umat Islam Lebaran, mereka juga memeriahkan. Tahun 1972, baru ajaran Islam masuk di Desa Pulau Pinang, Kecamatan Tambelan, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepri.


Untuk sampai di Desa Pulau Pinang memerlukan waktu 17 jam dari Tanjungpinang dengan menggunakan kapal laut. Jika kita dari Tanjungpinang, saat ini belum ada transportasi langsung ke desa tersebut. Jika ingin ke pulau itu harus singgah ke Tambelan. Dengan menggunakan kapal ikan dengan panjang 18 meter, lebar empat meter, Pulau Pinang bisa di jangkau enam jam perjalanan dari Tambelan. Di perairan ini juga sering memakan korban kapal kargo yang berlayar.

Kondisi gelombang di sekitar pulau tergolong ganas. Apalagi di Desember, tinggi
gelombang bisa lima meter. Lautnya bergelombang, membuat penduduk di sana tak bisa jauh ke laut untuk mencari ikan. Bahkan, kapal nelayan asal Thailand sekitar tahun 2004 sering berhenti di sana untuk sekedar berlindung dari ganasnya ombak laut China Selatan. Tak jarang, penduduk mendapatkan barang hanyut yang dibawa gelombang. Barang-barang itu tak lain, sisa-sisa dari pecahnya kapal yang melalui perairan.

Letak Pulau Pinang yang strategis berada di tengah-tengah jalur perairan internasional menjadi lintasan berbahaya. Tak jarang ada kapal yang tenggelam di sana. Asal muasal penghuni di pulau seluas Pulau Penyengat itu kebanyakan dari Lingga. Semula
hanya empat kepala keluarga yang mendiami pulau laut yang banyak ditanami pohon kelapa. Karena terus berkembang, kini jumlah penduduk di sana sudah 150 kepala keluarga.

Di sekeliling Pulau Pinang ada Pulau Mentebung, dengan jumlah penduduk 300 KK. Di samping
Pulau Pinang ada Pulau Pengikik. Jumlah penghuni pulau tersebut lebih kurang 100 KK. Kemudian ada Pulau Kepayang. Letak pulau Pinang tepat di kawasan Laut China Selatan.

Perilaku kebudayaan di tiga kampung ini hampir mirip. Tapi asal mereka berbeda. Asal warga
Mentebung kebanyakan didiami oleh warga dari Serasan, Kabupaten Natuna.
Dialognya mirip seperti orang Serasan. Sedangkan di Pulau Pinang mereka berasal dari Daek
Lingga. Bahasa Lingga dengan orang yang tinggal di Pulau Pinang, tak jauh berbeda. Menunjukkan kemiripan makna bahasa.

Menurut Hamdi Atan, mantan kepala desa di Pulau Pinang, ajaran Islam masuk di Pulau Pinang sekitar tahun 1972. Penyebaran Islam dibawa oleh warga Tambelan yang sebelumnya sudah mendiami Tambelan. Sebelum warga memeluk agama Islam, setiap perayaan Tahun Baru China, penduduk setempat turut merayakan. Bahkan ada juga yang percaya kepada kekuatan alam misalnya batu, pohon, dan kekuatan mistik lainnya yang dianggap bisa memberikan pertolongan di saat mereka sedang sakit. Maklum, di pulau itu dulunya tidak ada dokter dan perawat. Jika sakit, mereka akan menyembuhkan dengan bantuan tenaga gaip. Tetapi, entah kebetulan atau tidak, warga yang sakit bisa disembuhkan biasanya oleh orang pintar.

Terkadang juga oleh kepala adat di sana.Hamdi, diangkat menjadi Kepala Desa di Pulau Pinang 2 Februari 1996. Hamdi merupakan salah satu keturunan warga Pulau Pinang. Kini dia sudah pindah ke Tambelan. Masih banyak saudaranya yang tinggal di pulau itu.

Ada adat istiadat yang unik dari warga Pulau Pinang. Saat melaksanakan pernikahan, mereka
melakukan pesta adat selama tujuh hari tujuh malam tanpa henti. Untuk menghibur warga, ketua
adat yang dipilih menggelar hiburan joget dan minum minuman alkohol. Sang pengantin
mengelilingi tarup. Pengantin menjadi raja selama tujuh hari."Pesta pernikahan samalaman
suntuk," kenang Hamdi.

Lingkungan yang terbatas, menyebabkan pernikahan yang dilakukan masih ada hubungan saudara.
"Dulu tak ada pendatang, sehingga mereka menikah sesame sedare," kata Hamdi menjelaskan
mengenai prilaku kehidupan warga. Jangan dibayangkan setelah menikah, sang pengantin
mendapatkan buku nikah merah dan hijau seperti sekarang ini.

Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) tidak ada di sana. Yang biasanya menikahkan kedua mempelai
melalui ketua adat. Ketua adat memegang kendali masyarakat. Ia laksana raja yang menjalankan
roda pemerintahan. Ketua adat juga mengatur tatakrama pergaulan sehari-hari. Untuk jadi
ketua adat bukan sembarangan orang. Minimal ketua adat memiliki ilmu kanuragan agar bisa
melindungi warganya dari tindak kejahatan pendatang.

"Dulu ada orang yang datang untuk merampok kelapa. Tetapi Batin atau ketua adat kita sakti,
bajak laut itu langsung lari ketakutan dan pulang," kata Syafii, anak Batin, Sulaiman yang
pernah disegani di Pulau Pinang kala itu.

Di Pulau Pinang juga tidak ada polisi. Karena kehidupan mereka selalu damai. Kalaupun ada
pertengkaran, yang akan menyelesaikan ketua adat bersama dengan anggotanya. Seiring kemajuan
peradaban kehidupan, sekarang pernikahan di kalangan warga Pulau Pinang dan sekitarnya
dilakukan di KUA di Tambelan. Pesta pernikahan juga sudah layaknya adat Melayu.

Setiap ketua adat memiliki anak buah. Yang dipercaya ketua adat yakni Ulu balang dengan
jumlah anggota 20 orang. Mereka siap bekerja sesuai dengan keinginan ketua adat. Ketua
adatlah orang yang paling dihargai di pulau.

Jika ada warga yang sakit, Ketua adat melakukan pengobatan dengan menggunakan tenaga gaib.
Mereka percaya dengan kekuatan gaib yang bisa menyembuhkan. Walaupun berbetuk pantun, tetapi
obat megik sangat mujarap untuk menyembuhkan penyakit.

Tingkat pendidikan di Pulau Pinang tak banyak yang tamat SD. Kebanyakan warga tidak
bersekolah. Sejak kecil sudah dibawa orang tua mereka ke laut untuk memancing. Secara
bertahap, di sana sudah dibangin sekolah dasar. Tamat SD, anak-anak melanjutkan pendidikan
ke Tambelan.

Sumber pendapatan warga mengandalkan hasil laut yang melimpah. Banyaknya hasil ikan, membuat
nelayan asing dari Thailand banyak yang mencari ikan di sana. Ikan yang tersebut dikeringkan
dan dijual di Tambelan. Kalau cuaca sedang baik, tak jarang ikan langsung dijual di
Kalimantan Barat.

Menurut Hamdi, nelayan di Pulau Pinang lebih maju dibandingkan di Nelayan
Tambelan sendiri. Sebab, saat nelayan di Pulau Pinang sudah menggunakan perahu bermesin, nelayan di Tambelan masih menggunakan perahu layar. Karena melihat nelayan di Pulau Pinang menggunakan perahu bermesin, secara berlahan nelayan di Tambelan menggunakan mesin diesel hingga saat ini.

Hal yang unik dari prilaku kehidupan nelayan di Pulau Pinang yakni selalu berpindah pindah.
Kalau musim utara, perumahan nelayan yang berada di pinggir pantai ditinggalkan. Mereka
mengungsi di balik belakang pulau untuk berlindung di tempat yang aman dari bahaya cuaca.
Kala musim barat tiba, mereka juga akan pindah ke tempat yang lebih aman bersama dengan
perahu. "Dulu pemerintah membuat tempat untuk nelayan menambatkan kapal ikan, tetapi, karena ombak terlalu kuat, bendungan tersebut tidak bisa melawan derasnya gelombang," kata Hamdi.

Untuk melindungi kapal, maka mereka masih berpindah pindah sesuai dengan musim angin.
Prilaku seperti ini tampaknya hanya terjadi di Pulau Pinang. Pejabat yang pernah singgah di Pulau itu Bupati Bintan Ansar Ahmad. Itupun saat Ansar melakukan kampanye pemilihan kepala daerah 2005. Anggota DPRD Bintan Rahmi Komalawati juga
sempat ke sana.

"Warga di Pulau Pinang membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah. Kasihan mereka masih
tertinggal dari segi pendidikan," kata Rahmi.

Tantangan hidup lebih keras. Sumber air bersih sangat sulit. Warga membawa air bersih dari
Tambelan. Kandungan kadar garam yang tinggi, membuat air minum terasa asin. Tapi karena
sudah terbiasa, warga masih nyaman tinggal di Pulau Pinang.

Warga di sana memang mengharapkan pemerataan pembangunan infrastruktur laiknya desa-desa
lain di Kabupaten Bintan. Misalnya pembangunan Puskesmas. Sekarang belum ada Puskesmas di
sana. Yang ada hanya Puskesmas pembantu. Kalau sakitnya mulai kritis, baru di bawa ke
Puskesmas Tambelan. Tenaga medis yang bertugas di sana sulit untuk bertahan karena
lingkungan yang kurang bersabahat. Apalagi, belum ada jaringan telekomunikasi.

Bahkan, warga Tambelan yang hendak ke Pulau Pengikik harus ke Seu Durik, Kalimantan Barat. Transportasi dari Kalbar lebih banyak dibandingkan dari Tambelan. Pasalmya Desa Pengikik lebih dekat dengan Kalbar. Jarak dari Kalbar ke Pengikik cuma 4 jam dengan menggunakan pompong kayu. Sedangkan dari Tambelan, waktu yang dibutuhkan bisa 6 jam.

Mirda, salah satu warga Desa Hilir, Tambelan harus ke Sungai Durik, Kalbar. Dari Sungai Durik, baru Mirda melanjutkan perjalanan ke Pengikik. Sungguh eronis, Kabupaten Bintan belum bisa menyediakan transportasi untuk warga di desa terpencil di Tambelan. Jangan disalahkan, jika suatu waktu, Pengikik lepas dari Kepri. (robby patria/tgpinang pos)

0 komentar: